Harga Tiket Piala Dunia 2026 Bikin Geleng-Geleng Kepala, Final Tembus Rp195 Juta, Lebih Mahal dari Super Bowl

Tiket babak final Piala Dunia 2026. (Foto ilustrasi: FIFA)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID – Piala Dunia FIFA 2026 memang menghadirkan euforia sepak bola terbesar di planet ini. Namun di balik kemeriahan turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, muncul gelombang protes dari para suporter terkait harga tiket yang dinilai semakin tidak ramah bagi penggemar biasa.

Sorotan utama tertuju pada tiket pertandingan final yang disebut-sebut mencapai angka fantastis. Sejumlah media internasional seperti ITV News, Al Jazeera, The Guardian, dan Euronews pada Selasa (16/6/2026) melaporkan bahwa harga tiket premium untuk partai puncak dapat menembus kisaran 8.000 hingga 11.000 dolar AS, atau setara Rp191 juta hingga Rp195 juta.

Angka tersebut memicu kritik keras dari berbagai kelompok pendukung sepak bola. Football Supporters Europe (FSE), organisasi yang mewakili suporter di Eropa, bahkan menyebut kebijakan harga FIFA sebagai bentuk pengkhianatan terhadap akar sepak bola yang selama ini dikenal sebagai olahraga rakyat.

Jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya, lonjakan harga itu memang sangat mencolok. Pada final Piala Dunia Rusia 2018, tiket kategori tertinggi dijual sekitar 1.100 dolar AS. Empat tahun kemudian di Qatar 2022, harga naik menjadi sekitar 1.600 dolar AS. Kini, untuk Piala Dunia 2026, harga tiket premium melonjak hingga lebih dari enam kali lipat.

Tak hanya itu, harga tersebut bahkan mulai melampaui sejumlah ajang olahraga paling bergengsi di Amerika Serikat. Tiket Super Bowl yang selama ini dikenal sebagai salah satu event olahraga termahal umumnya diperdagangkan pada kisaran 4.000 hingga 10.000 dolar AS. 

Sementara tiket Final NBA biasanya berada di rentang 1.000 hingga 5.000 dolar AS, sedangkan World Series MLB berkisar antara 800 hingga 3.500 dolar AS untuk mayoritas kursi publik.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela kebijakan tersebut dengan alasan pasar olahraga Amerika Utara memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kawasan lain. Menurutnya, tingginya permintaan menjadi faktor utama yang memengaruhi harga.

Kontroversi semakin besar karena FIFA juga menerapkan sistem dynamic pricing atau harga dinamis. Sistem ini memungkinkan harga tiket berubah sesuai tingkat permintaan pasar. Praktik tersebut lazim digunakan dalam industri hiburan di Amerika Serikat, tetapi menjadi hal baru dalam sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Bagi banyak suporter, persoalannya bukan hanya soal mahalnya tiket, melainkan hilangnya akses bagi penggemar biasa untuk menikmati pertandingan secara langsung di stadion.

Juan Velosa menjadi salah satu contoh. Ia mengaku harus mengubur impiannya menyaksikan langsung Timnas Kolombia karena harga tiket dan biaya perjalanan yang terlalu tinggi.

"Saya sadar sejak awal tidak akan bisa menghadiri pertandingan Kolombia. Begitu harga tiket dan lokasi pertandingan diumumkan, saya tahu biayanya akan berada di luar jangkauan saya," ujar Velosa.

Sebagai alternatif, Velosa memilih membeli tiket pertandingan Pantai Gading melawan Curacao di Philadelphia dengan harga sekitar 270 dolar AS.

Cerita serupa dialami suporter Inggris, Dale Mulhall. Meski tinggal relatif dekat dengan stadion tempat Inggris bertanding, ia tetap kesulitan mendapatkan tiket yang terjangkau.

"Saya datang ke Piala Dunia 2006 di Jerman dan hanya membayar 55 euro untuk tiket kategori dua. Saya paham ada inflasi, tetapi harga saat ini terasa terlalu tinggi bagi suporter biasa," kata Mulhall.

Sementara itu, Becky Arntsen memilih tidak mengikuti perjalanan Timnas Inggris ke Amerika Serikat karena tingginya biaya transportasi, hotel, dan kebutuhan lainnya. Ia lebih memilih menyaksikan pertandingan lain yang dianggap lebih masuk akal dari sisi anggaran.

Asisten Profesor dari University of Colorado Boulder, Ovunc Yilmaz, menilai fenomena ini sebenarnya tidak mengejutkan. Menurutnya, kombinasi tingginya minat penonton dan status tiga negara tuan rumah menjadi faktor yang mendorong harga tiket melambung.

Meski FIFA sempat menyediakan sebagian tiket dengan harga lebih rendah sekitar 45 hingga 60 poundsterling untuk beberapa pertandingan tertentu, jumlahnya dinilai terlalu sedikit dibandingkan besarnya permintaan.

Di tengah antusiasme luar biasa terhadap Piala Dunia 2026, perdebatan mengenai harga tiket diperkirakan masih akan terus berlangsung. Banyak pihak khawatir turnamen yang selama puluhan tahun menjadi pesta rakyat dunia perlahan berubah menjadi hiburan eksklusif yang hanya dapat dinikmati kalangan tertentu.

(Berbagai Sumber)