Hari Lahir Pancasila 2026: Wamendikdasmen Sebut Museum Multatuli Jadi Oase Pendidikan Karakter Generasi Muda

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq (kiri) saat mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, usai memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Rangkasbitung, Senin (1/6/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; RANGKASBITUNG – Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsa dan nilai-nilai kebangsaan. Pesan tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengunjungi Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, usai memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Alun-Alun Rangkasbitung, Senin (1/6/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Fajar didampingi Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana yang juga dikenal sebagai penggagas Museum Multatuli. Mereka meninjau berbagai koleksi dan narasi sejarah yang tersimpan di museum yang dikenal sebagai museum post-kolonial pertama di Indonesia tersebut.

Menurut Fajar, sejarah tidak boleh dipandang sekadar sebagai catatan masa lalu. Sejarah harus menjadi sarana pembelajaran yang mampu menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan kepada generasi muda, terutama di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi saat ini.

Fajar menilai pesan-pesan yang terkandung dalam novel Max Havelaar karya Multatuli masih memiliki relevansi kuat dengan kehidupan bangsa Indonesia saat ini. Nilai tentang keadilan sosial dan penghormatan terhadap kemanusiaan yang diangkat dalam karya tersebut sejalan dengan semangat yang terkandung dalam Pancasila.

“Semangat yang dituangkan dalam Max Havelaar sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait keadilan dan kemanusiaan. Pesan-pesan itu penting untuk terus kita rawat dan aktualisasikan dalam kehidupan saat ini,” ujar Fajar.

Lebih lanjut, Wamendikdasmen menyoroti posisi Kabupaten Lebak yang dinilainya memiliki kekayaan sejarah luar biasa. Selain dikenal sebagai wilayah yang berkaitan erat dengan sosok Multatuli, Lebak juga menyimpan jejak perjalanan sejumlah tokoh penting bangsa seperti Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka, hingga Maria Ulfah.

Menurutnya, kekayaan sejarah tersebut merupakan aset berharga yang perlu dikenalkan lebih luas kepada Generasi Z dan Generasi Alpha. Dengan memahami sejarah tokoh-tokoh bangsa, generasi muda diharapkan mampu meneladani semangat perjuangan, nasionalisme, dan pemikiran yang telah berkontribusi terhadap lahirnya Indonesia modern.

“Lebak merupakan mutiara sejarah yang luar biasa. Banyak tokoh besar bangsa yang memiliki keterkaitan dengan daerah ini. Warisan sejarah tersebut perlu diperkenalkan secara lebih luas agar generasi muda semakin mengenal tokoh-tokoh yang turut membentuk perjalanan Indonesia,” kata Fajar.

Fajar juga menegaskan bahwa semangat antikolonialisme yang menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia harus terus dipelihara. Bukan dalam konteks masa lalu semata, melainkan sebagai inspirasi untuk memperkuat karakter, persatuan, dan rasa cinta tanah air di era kekinian.

Di sisi lain, Fajar memberikan apresiasi terhadap keberadaan Museum Multatuli yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung dunia pendidikan. Baginya, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga harus menjadi ruang belajar yang hidup dan mampu menarik minat generasi muda.

“Bagi kami di dunia pendidikan, museum seperti ini merupakan oase bagi anak-anak dan generasi muda. Museum harus menjadi ruang belajar yang hidup, terus berkembang, dan menghadirkan pengetahuan baru sehingga mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal sejarah,” ungkap Fajar.

Selain memiliki fungsi edukatif, Museum Multatuli juga dinilai menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin baik, Lebak berpeluang menjadi salah satu tujuan wisata berbasis sejarah yang tidak hanya memperkuat memori kolektif bangsa, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila 2026, pemerintah berharap pemahaman sejarah dan penguatan nilai-nilai Pancasila dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Dengan bekal tersebut, lahir generasi yang tidak hanya memahami perjalanan bangsanya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta menjawab berbagai tantangan masa depan Indonesia.

(Sumber: Kemendikdasmen)