Editor: Devona R
GEBRAK.ID; JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui pembentukan kelompok kerja (Pokja) di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan satuan pendidikan menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung perkembangan peserta didik secara optimal.
Upaya tersebut ditandai dengan penyelenggaraan kegiatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di daerah mitra Program INOVASI serta penyerahan buku berjudul Ketika Sekolah Melindungi. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengawal penerapan kebijakan BSAN hingga ke tingkat daerah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman sekaligus menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi seluruh peserta didik.
Menurutnya, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga rumah kedua bagi anak-anak yang harus mampu menumbuhkan rasa kebersamaan, penghargaan terhadap perbedaan, serta partisipasi aktif seluruh warga sekolah.
“Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan kebersamaan. Inilah dasar kami menekankan aspek yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif,” ujar Abdul Mu'ti saat membuka kegiatan di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa terciptanya budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas fisik yang memadai. Lingkungan sosial yang sehat, hubungan yang harmonis antarwarga sekolah, serta budaya saling menghormati juga menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
Karena itu, kebijakan BSAN dirancang untuk melibatkan seluruh unsur pendidikan agar tercipta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.
“Semuanya menjadi satu kesatuan sehingga sekolah yang aman dan nyaman ini menjadi sebuah budaya dan peradaban baru, di mana semua anak kita belajar dengan nyaman, gembira, dan penuh semangat untuk mencapai cita-citanya,” lanjutnya.
Penguatan implementasi BSAN dilakukan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 17 Tahun 2026 mengenai Pedoman BSAN.
Melalui regulasi tersebut, pemerintah menekankan pendekatan promotif dan preventif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik dari sisi fisik, sosial, maupun budaya sekolah.
Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen mendorong pembentukan Pokja BSAN di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Kelompok kerja ini akan menjadi wadah koordinasi lintas sektor yang melibatkan berbagai instansi, mulai dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, dinas kesehatan, dinas sosial, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, hingga dinas komunikasi dan informatika.
Keberadaan Pokja tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antarinstansi dalam mengawal implementasi budaya sekolah aman dan nyaman secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menyampaikan apresiasi terhadap langkah Kemendikdasmen dalam memperkuat kebijakan perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Ia menilai pembentukan Pokja BSAN merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat dan inklusif di daerah.
Melalui Program INOVASI, Pemerintah Australia bersama Kemendikdasmen selama ini telah mendukung pengembangan dan uji coba Modul Pembiasaan Karakter Hebat di sejumlah wilayah. Praktik-praktik baik yang sebelumnya diterapkan di Kota Batu dan Kota Tarakan kini mulai diperluas ke lebih banyak sekolah di berbagai daerah.
“Kami menyambut baik pembentukan kelompok kerja sekolah aman dan nyaman di tingkat daerah sebagai salah satu langkah konkret untuk memperkuat ekosistem pendidikan di daerah. Pemerintah Australia berkomitmen mendukung upaya ini, termasuk memperkuat sistem pendidikan, mendorong inklusivitas, dan membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkualitas bagi semua anak,” kata Gita.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan komitmen bersama pembentukan Pokja BSAN di 20 kabupaten/kota dan lima provinsi mitra Program INOVASI.
Selain itu, Kemendikdasmen menyerahkan buku Ketika Sekolah Melindungi: Cerita dari Sekolah Mitra INOVASI dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Buku tersebut berisi beragam pengalaman dan praktik baik sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, nyaman, dan inklusif.
Melalui penguatan kebijakan, pembentukan kelompok kerja daerah, serta penyebarluasan praktik-praktik baik, Kemendikdasmen berharap budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat semakin mengakar di seluruh satuan pendidikan Indonesia, sehingga setiap anak memperoleh hak belajar dalam lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)
