Resensi Buku:
GUS HERY HARYANTO AZUMI: NAKHODA ABAD KEDUA NU
Menavigasi Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama 2026–2126
Penulis: Samsul Muarif
Ada organisasi yang besar karena jumlah pengikutnya. Ada pula yang besar karena sejarahnya. Namun sangat sedikit organisasi yang besar karena keduanya sekaligus. Nahdlatul Ulama (NU) adalah salah satunya.
Memasuki usia satu abad lebih, NU tidak lagi hanya berbicara tentang mempertahankan tradisi. Tantangan yang dihadapi kini jauh lebih besar: bagaimana membawa warisan pesantren memasuki era kecerdasan buatan, ekonomi digital, geopolitik global, dan perubahan peradaban dunia yang bergerak sangat cepat.
Di tengah pertanyaan besar itulah buku “Gus Hery Haryanto Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU” hadir. Buku ini bukan sekadar biografi tokoh. Ia lebih menyerupai peta jalan tentang masa depan NU.
Sosok Gus Hery menjadi pintu masuk untuk membahas pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang mampu menavigasi organisasi Islam terbesar di dunia ini menuju abad keduanya?
NU Bukan Sekadar Organisasi
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menempatkan NU dalam perspektif yang luas. Penulis mengajak pembaca melihat NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebuah kekuatan peradaban.
Dari pesantren-pesantren sederhana di desa hingga forum internasional, NU telah memainkan peran penting dalam menjaga moderasi Islam, keutuhan bangsa, dan harmoni sosial Indonesia.
Buku ini mengingatkan bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Abad pertama NU adalah era membangun fondasi. Abad kedua harus menjadi era lompatan peradaban. Gagasan inilah yang menjadi benang merah hampir di seluruh halaman buku.
Sosok Gus Hery dalam Narasi Perubahan
Dalam buku ini, Gus Hery Haryanto Azumi digambarkan sebagai representasi generasi transisi NU. Ia lahir dari tradisi Nahdliyin, tumbuh dalam kultur pesantren, aktif dalam gerakan mahasiswa, dan memiliki pengalaman organisasi yang panjang.
Namun pada saat yang sama, ia juga dipotret sebagai figur yang memahami isu-isu modern: teknologi, ekonomi, diplomasi internasional, geopolitik, hingga transformasi kelembagaan.
Menariknya, penulis tidak sekadar menampilkan Gus Hery sebagai tokoh politik organisasi. Ia berusaha memosisikannya sebagai simbol kebutuhan regenerasi dalam tubuh NU.
Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: NU membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara dalam dua bahasa sekaligus—bahasa pesantren dan bahasa dunia.
Membaca NU dari Kacamata Para Pakar Dunia
Bagian paling menarik dalam buku ini mungkin terdapat pada Prolog yang mengulas pemikiran para sarjana dunia seperti Greg Barton, Robert Hefner, Azyumardi Azra, John L. Esposito, Mitsuo Nakamura, Jeremy Menchik, hingga Gus Dur.
Melalui pandangan para akademisi tersebut, pembaca diajak memahami bahwa regenerasi bukanlah ancaman bagi tradisi. Justru regenerasi adalah cara tradisi tetap hidup.
Gagasan ini terasa relevan bukan hanya bagi NU, tetapi juga bagi banyak organisasi besar yang sering kali terjebak antara mempertahankan warisan masa lalu dan menghadapi tuntutan masa depan.
Dari Pesantren ke Peradaban Dunia
Buku ini juga menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam literatur organisasi keagamaan: keberanian berpikir jauh ke depan. Penulis membahas bagaimana NU dapat bertransformasi menjadi kekuatan global melalui pendidikan, ekonomi, teknologi, diplomasi Islam moderat, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Daftar isi buku bahkan menunjukkan pembahasan mengenai kecerdasan buatan, digitalisasi pesantren, ekonomi umat berbasis pesantren, dan diplomasi internasional Islam moderat.
Bagi pembaca muda, bagian ini terasa segar karena NU tidak lagi dipotret sebagai organisasi yang hanya berkutat pada persoalan internal, tetapi sebagai aktor yang berpotensi berkontribusi pada percaturan global.
Bahasa yang Mengalir dan Mudah Dicerna
Sebagai seorang jurnalis senior, Samsul Muarif menulis dengan gaya yang komunikatif. Ia mampu menggabungkan data, sejarah, analisis, dan narasi tokoh dalam bahasa yang relatif ringan.
Buku setebal lebih dari 300 halaman ini tidak terasa seperti karya akademik yang berat. Sebaliknya, ia mengalir seperti laporan panjang tentang perjalanan sebuah organisasi besar yang sedang mencari arah baru.
Karena itu, buku ini bisa dibaca oleh berbagai kalangan: warga Nahdliyin, santri, akademisi, aktivis organisasi, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami masa depan NU.
Lebih dari Sekadar Buku Tokoh
Pada akhirnya, kekuatan terbesar buku ini justru terletak pada pesan yang melampaui sosok Gus Hery itu sendiri. Buku ini berbicara tentang regenerasi. Tentang pentingnya keberanian membaca zaman.
Tentang bagaimana organisasi besar tidak cukup hanya mengandalkan kebesaran sejarah. Dan tentang keyakinan bahwa tradisi tidak akan pernah kehilangan makna selama ia mampu melahirkan pembaru.
Dalam konteks itulah, “Gus Hery Haryanto Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU” bukan sekadar buku tentang seorang calon pemimpin NU. Ia adalah refleksi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama, sekaligus ajakan untuk membayangkan seperti apa wajah Islam Indonesia seratus tahun ke depan.
Kamis, 18 Juni 2026
*) Sebuah buku yang memadukan sejarah, gagasan, dan visi masa depan secara elegan. Layak dibaca oleh siapa pun yang peduli pada masa depan NU, Islam Indonesia, dan arah peradaban bangsa di abad ke-21.
