Kisah Kampung Tangsijaya, Terang Mandiri dari Mikrohidro di Tengah Krisis Listrik Jawa-Bali

1000272538

Di tengah krisis listrik, PLTMH memberi alternatif bagi masyarakat untuk tetap mendapatkan akses listrik murah. (Foto: ESDM) 

Editor: Yogi Ardhi

GEBRAK.ID, BANDUNG BARAT – Di tengah hebohnya pemadaman listrik yang melanda sejumlah daerah di Jawa dan Bali, ada satu sudut kecil di lereng Gununghalu yang tetap terang benderang. Warga Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, hidup tenang dengan kemandirian energinya.

Jauh sebelum jaringan listrik negara menjangkau pelosok ini, mereka telah membangun sistem listrik mandiri berbasis tenaga air. Hingga kini, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 30.000 watt di bawah manajemen Koperasi Produsen Rimba Lestari (Kopbari) mampu menerangi 90 rumah di kampung tersebut.

Berawal dari Kincir Kayu

Perjalanan panjang kemandirian energi ini dimulai sejak awal 1990-an. Ketua Koperasi sekaligus pengelola PLTMH, Opan Sopandi, menceritakan, saat itu warga masih bergantung pada lampu tempel dan minyak tanah untuk penerangan. 

“Di sini dulu kampung yang jauh dari mana-mana dan sulit dijangkau. Tapi ada Sungai Ciputri yang arusnya selalu deras, sehingga dimanfaatkan untuk menyalakan lampu,” kenang Opan, Kamis (18/6/2026). 

Berbekal kreativitas, warga membuat kincir air sederhana dari kayu. Dinamo yang digunakan pun dirakit mandiri dari magnet bekas motor. Saat itu, setiap kincir hanya menghasilkan 100 hingga 300 watt—cukup untuk satu rumah .

Tonggak Sejarah 2004

Sistem kincir kayu bertahan hingga 2004. Seorang peneliti dari Cihanjuang, Kota Cimahi, melihat potensi aliran sungai di Tangsijaya dan membantu membangun turbin mikrohidro sederhana berkapasitas 3.000 watt. Untuk pertama kalinya, listrik dikelola secara terpusat dan mampu melayani sekitar 60 rumah. 

Babak baru dimulai pada 2007. Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas ESDM memberikan dana hibah untuk pembangunan PLTMH yang lebih besar. Nama Rimba Lestari dipilih merujuk letak geografis Tangsijaya di kaki Gunung Masigit. 

Warga mendapat jatah 450 watt per rumah dengan iuran hanya Rp25.000 per bulan. Fasilitas umum seperti masjid dan sekolah bahkan gratis.

Lebih dari Sekadar Penerangan

Kemandirian energi ini tak hanya menerangi rumah, tapi juga mendongkrak ekonomi. Pada 2010, warga membentuk Koperasi Produsen Rimba Lestari yang kini memiliki dua unit usaha: PLTMH dan pusat pengolahan kopi .

Dalam satu musim panen, koperasi memproduksi sekitar 30 ton kopi robusta dan arabika. Semua proses produksi dari penggilingan hingga pengemasan menggunakan energi dari PLTMH .

Keunggulan ini bahkan menjadi nilai jual. “Ke setiap konsumen pasti saya ceritakan bahwa kopi di sini memakai energi bersih dan berkelanjutan,” ujar Juan Mulyana, pemuda Tangsijaya yang pernah memenangi Kontes Barista Festival Kopi Bandung Barat 2022.

Bahkan pada 2022, kopi arabika Gunung Halu masuk 10 besar kopi terbaik dalam pameran World of Coffee di Milan, Italia .

Desa-Desa Mandiri Energi di Indonesia

Kampung Tangsijaya bukan satu-satunya yang merintis kemandirian energi. Di seluruh Indonesia, desa-desa dengan potensi air mulai mengikuti jejak serupa.

Kementerian ESDM mencatat, pemerintah telah membangun 74 megawatt pembangkit listrik berbasis energi terbarukan untuk 391 ribu kepala keluarga di 484 desa terpencil . Program ini ditargetkan mencapai elektrifikasi 100% pada 2029 .

Beberapa daerah lain yang juga mengelola PLTMH secara mandiri:

• Pegunungan Arfak, Papua Barat

Melalui Program Listrik Desa (Lisdes), PLTMH Anggi menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang seluruh listriknya bersumber dari energi baru terbarukan. Sebelumnya, warga Kampung Iraiweri hanya mengandalkan lampu minyak berasap saat malam tiba. 

• Malang, Jawa Timur

Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan PLTMH di Sumber Maron yang menjadi pusat edukasi dan penggerak ekonomi lokal. Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Fauzan bahkan menyebut program ini siap dijadikan percontohan nasional.

• Blumbang, Kulonprogo Yogyakarta

Beriuran Rp 5000 per bulan, sekitar 100 rumah di dusun ini juga mendapatkan sebagian aliran listrik dari PLTMH. Menurut warga, listrik yang mengalir cukup untuk menyalakan lampu, TV dan kulkas. 

Potensi Besar di Seluruh Indonesia

Riset Institute for Essential Services Reform (IESR) menemukan potensi teknis pembangkit listrik air skala kecil mencapai 1,7 gigawatt yang tersebar di 458 lokasi di 19 provinsi. Potensi terbesar berada di Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat. 

Kunci Keberhasilan: Pengelolaan Lokal

Para pengamat menilai, kunci keberhasilan proyek listrik desa adalah pengelolaan oleh komunitas lokal. Banyak proyek sebelumnya terbengkalai karena dikelola secara top-down. 

IESR mendorong agar pembangkit listrik desa dikelola melalui entitas lokal seperti koperasi atau BUMDes. “Secara konsep, PLTS sangat fleksibel. Bisa dikelola secara off-grid, tidak harus terhubung ke jaringan PLN,” ujar Analis IESR Alvin Putra .

Pendekatan serupa telah terbukti berhasil di Kampung Tangsijaya. Dengan kesadaran menjaga sungai dan hutan, listrik dari PLTMH tetap mengalir stabil setelah hampir dua dekade. Mereka tak hanya menjadi penerima bantuan, tapi pelaku utama dalam membangun kedaulatan energi dari bawah. 

(berbagai sumber) 

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID