Ledakan AI AS Terancam Tersendat, 1,7 Juta Tenaga Kerja Terampil Dibutuhkan
Ilustrasi pekerja dan pasar tenaga kerja. (Foto: Bloomberg/dok/ist)
GEBRAK.ID, WASHINGTON — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat menghadapi tantangan besar di luar persoalan teknologi. Industri tersebut diperkirakan membutuhkan hingga 1,7 juta tenaga kerja terampil setiap tahun hingga 2035 untuk membangun pusat data dan infrastruktur pendukung AI.
Kebutuhan tenaga kerja tersebut menjadi persoalan penting ketika perusahaan teknologi berlomba memenuhi ekspektasi pasar saham terhadap pertumbuhan bisnis dan keuntungan dari AI. Di balik pembangunan pusat data dan rantai pasok teknologi, tetap dibutuhkan tenaga manusia untuk mengerjakan berbagai pekerjaan teknis dan manual. Laporan terbaru Alliance for America’s Skilled Trades menunjukkan program pelatihan tenaga kerja saat ini hanya mampu menghasilkan sekitar 55 pekerja untuk setiap 100 tenaga kerja terampil yang dibutuhkan.
Kesenjangan tersebut berpotensi menghambat pembangunan infrastruktur AI di Amerika Serikat. Alliance for America’s Skilled Trades didirikan oleh BlackRock, Ford, Google, dan Carhartt. Kini, organisasi tersebut menambah sejumlah perusahaan teknologi dan otomotif besar, yakni Meta, Microsoft, Nvidia, dan Waymo. “Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat menutup kesenjangan tenaga kerja terampil sendirian. Melatih hanya 55 pekerja untuk setiap 100 pekerja yang dibutuhkan membuat pertumbuhan ekonomi berisiko dan membuat masyarakat tidak memiliki jalur yang jelas menuju karier yang baik,” kata CEO Ford, Jim Farley, dalam sebuah pernyataan.
“Karier ini layak mendapatkan penghormatan. Pengusaha, pendidik, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama untuk membantu masyarakat mendapatkan pelatihan, dukungan, dan pekerjaan yang mereka butuhkan untuk berhasil.”
Infrastruktur AI Butuh Teknisi
Kesenjangan tenaga kerja terampil menjadi semakin krusial seiring Amerika Serikat mempercepat pembangunan infrastruktur yang menopang teknologi AI. Laporan tersebut mencatat kebutuhan tenaga kerja untuk sejumlah profesi teknis diproyeksikan tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan seluruh jenis pekerjaan. Lapangan kerja untuk teknisi listrik, teknisi HVAC, serta mekanik mesin industri masing-masing diperkirakan tumbuh sekitar dua kali, tiga kali, dan lima kali lipat dibandingkan tingkat pertumbuhan seluruh pekerjaan.
Kebutuhan itu tersebar di berbagai negara bagian. Hingga 2034, Arizona diperkirakan membutuhkan 29.000 teknisi listrik, Texas membutuhkan 86.000 mekanik otomotif, sedangkan North Carolina membutuhkan 19.000 tukang kayu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi AI tidak hanya bergantung pada ilmuwan data, programmer, atau insinyur perangkat lunak. Pembangunan pusat data dan fasilitas pendukungnya juga membutuhkan pekerja konstruksi, teknisi kelistrikan, mekanik, hingga tenaga operasional lainnya.
Ekonomi Esensial Tertekan Kekurangan Pekerja
Laporan Alliance for America’s Skilled Trades turut menyoroti sektor yang disebut sebagai essential economy, yang mencakup konstruksi, utilitas, pertanian, transportasi, minyak dan gas, serta manufaktur peralatan. Sektor tersebut berkontribusi sekitar US$12 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat, mencakup 95 juta lapangan pekerjaan dan 3 juta perusahaan.
Namun, sektor ini terus menghadapi kekurangan tenaga kerja. Salah satu faktornya adalah semakin banyak pekerja generasi sebelumnya memasuki usia pensiun, sementara sebagian generasi Z dinilai kurang tertarik pada pekerjaan tertentu yang dianggap berat secara fisik.
Di sisi lain, sebagian pekerja yang masih berada di sektor tersebut juga menghadapi tantangan untuk memperbarui keterampilan seiring AI semakin terintegrasi ke dalam rantai pasok. Survei PRT Staffing menunjukkan 17,4% perusahaan manufaktur melaporkan mengalami kekurangan pekerja. PRT memperkirakan sekitar 3,8 juta posisi di sektor manufaktur perlu diisi dalam satu dekade mendatang.
Hilangnya Pendidikan Keterampilan Jadi Sorotan
Pembawa acara Dirty Jobs, Mike Rowe, menilai salah satu akar persoalan tersebut berkaitan dengan berkurangnya pendidikan keterampilan kerja di sekolah. “Dan sekarang, beberapa dekade kemudian, kita berkata, ya ampun, ini sangat aneh, tidak ada yang mau melakukan pekerjaan ini,” kata Rowe dalam podcast Power Players With Brian Sozzi di Yahoo Finance.”Kemudian Anda memiliki stigma, stereotip, mitos, dan kesalahpahaman yang mengelilingi pekerjaan-pekerjaan yang sama ini.”
Persoalan tersebut memperlihatkan paradoks perkembangan AI di Amerika Serikat. Ketika investasi perusahaan teknologi semakin besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI, kebutuhan terhadap tenaga manusia dengan keterampilan teknis justru ikut melonjak.
Dengan kebutuhan hingga 1,7 juta tenaga kerja terampil setiap tahun sampai 2035, keberhasilan ekspansi AI bukan hanya ditentukan oleh kemampuan mengembangkan model kecerdasan buatan, tetapi juga oleh kemampuan Amerika Serikat menyediakan tenaga manusia yang dapat membangun dan mengoperasikan infrastruktur di belakang teknologi tersebut. (*)
(Zaky Al Hamzah/finance.yahoo)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID