GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemadaman listrik yang belakangan kerap terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Bali menimbulkan pertanyaan di masyarakat mengenai kondisi sistem kelistrikan nasional. Pakar tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor, menjelaskan bahwa gangguan tersebut umumnya dipicu oleh dua faktor utama, yaitu force outage dan derating pada pembangkit listrik.
Force outage merupakan gangguan mendadak yang terjadi di luar perencanaan sehingga membuat pembangkit atau jaringan listrik tidak dapat beroperasi secara normal. Sementara itu, derating adalah langkah yang sengaja dilakukan operator dengan menurunkan kapasitas produksi pembangkit demi menjaga keandalan sistem.
Menurut Kevin, salah satu alasan penerapan derating adalah menurunnya ketersediaan bahan bakar, terutama batu bara dan minyak yang menjadi sumber energi utama sejumlah pembangkit listrik di Indonesia.
"Dalam kondisi stok bahan bakar yang terbatas, operator memilih mengoperasikan pembangkit sekitar 60 persen dari kapasitas maksimal agar pasokan energi tetap tersedia untuk jangka waktu lebih lama," jelasnya.
PLTU Butuh Dua Hari Jika Kehabisan Bahan Bakar
Kevin menjelaskan bahwa pengoperasian pembangkit secara penuh saat stok bahan bakar menipis justru berisiko lebih besar. Apabila batu bara habis, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memerlukan waktu hingga dua hari untuk kembali beroperasi secara normal.
Karena itu, operator sistem lebih memilih mengurangi daya pembangkit daripada menghadapi risiko berhentinya operasi secara total yang dapat memicu pemadaman dalam skala lebih luas.
Cadangan Daya Menjadi Kunci Keandalan Sistem
Dalam sistem tenaga listrik modern, setiap jaringan wajib memiliki cadangan daya sebagai antisipasi apabila terjadi gangguan mendadak. Cadangan tersebut berfungsi menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik masyarakat.
Ketika konsumsi listrik meningkat hingga mencapai beban puncak, operator terkadang harus melakukan pemadaman bergilir di beberapa wilayah. Kebijakan ini bertujuan mengurangi beban sistem sekaligus menjaga cadangan daya agar tidak terjadi blackout atau pemadaman total yang dampaknya jauh lebih besar.
El Nino Berpotensi Menambah Tekanan Sistem Kelistrikan
Selain faktor teknis, fenomena El Nino diperkirakan menjadi tantangan tambahan bagi sektor ketenagalistrikan nasional.
Musim kemarau yang lebih panjang menyebabkan suhu udara meningkat sehingga penggunaan pendingin ruangan (AC) di rumah tangga, perkantoran, hingga pusat perbelanjaan ikut melonjak. Akibatnya, konsumsi listrik nasional berpotensi meningkat signifikan.
Di sisi lain, berkurangnya curah hujan juga dapat menurunkan debit air pada waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sehingga produksi listrik dari sumber energi tersebut ikut menurun.
Kombinasi meningkatnya permintaan listrik dan berkurangnya pasokan dari sebagian pembangkit dapat membuat sistem kelistrikan bekerja lebih berat apabila tidak diantisipasi dengan pengelolaan cadangan energi yang memadai.
Pemerintah dan PLN Terus Menjaga Keandalan Pasokan
Sektor kelistrikan Indonesia saat ini masih didominasi oleh PLTU berbahan bakar batu bara yang menjadi tulang punggung pasokan listrik di sistem Jawa-Bali. Oleh karena itu, ketersediaan bahan bakar, kesiapan pembangkit, serta cadangan daya menjadi faktor penting dalam menjaga kontinuitas layanan listrik kepada masyarakat.
Para pakar menilai langkah derating yang dilakukan operator merupakan bagian dari strategi operasional untuk mempertahankan stabilitas sistem dalam kondisi tertentu. Meskipun dapat menyebabkan pemadaman di beberapa wilayah, langkah tersebut dinilai lebih aman dibandingkan risiko blackout yang membutuhkan waktu pemulihan jauh lebih lama.
Dengan meningkatnya kebutuhan listrik dan potensi cuaca ekstrem akibat El Nino, penguatan manajemen pasokan energi, optimalisasi cadangan daya, serta percepatan diversifikasi sumber energi menjadi kunci untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional pada 2026.
(berbagai sumber)
