![]() |
| Francisco Guterres, Presiden Timor Leste 2017-2022.( Foto: Wikipedia) |
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID,DILI – Mantan Presiden Timor-Leste, Francisco Guterres, meninggal dunia pada usia 71 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (21/6/2026). Kabar duka tersebut memicu gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan, termasuk para pemimpin negara di kawasan Asia Tenggara yang mengenang sosoknya sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh penting demokrasi Timor-Leste.
Guterres, yang akrab disapa Lu-Olo, merupakan Presiden keenam Timor-Leste dan menjabat sebagai kepala negara pada periode 2017 hingga 2022. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia juga mencatat sejarah sebagai Ketua Parlemen Nasional pertama Timor-Leste setelah negara itu meraih kemerdekaan pada 2002.
Kabar wafatnya dikonfirmasi oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, melalui unggahan di media sosial pada Senin (22/6/2026).
“Atas nama Malaysia, saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan rakyat Timor-Leste atas meninggalnya mantan Presiden Francisco Guterres,” tulis Anwar.
Menurut Anwar, Guterres merupakan bagian dari generasi pejuang yang memainkan peran penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan Timor-Leste. Ia juga dinilai sebagai figur yang mengabdikan sebagian besar hidupnya bagi pembangunan bangsa dan penguatan sistem demokrasi.
Tokoh Sentral Perjuangan Kemerdekaan
Francisco Guterres lahir pada 7 September 1954 di Ossu, wilayah yang kini menjadi bagian dari Timor-Leste. Namanya dikenal luas sebagai salah satu tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan dari Indonesia.
Pada masa konflik, Lu-Olo bergabung dengan organisasi perlawanan nasional dan menjadi tokoh penting dalam sayap politik gerakan kemerdekaan. Ia kemudian dipercaya memimpin partai politik terbesar di negara itu, Fretilin, yang berperan besar dalam proses transisi menuju kemerdekaan.
Setelah Timor-Leste resmi merdeka pada 2002, Guterres dipercaya menjadi Ketua Parlemen Nasional pertama. Posisi tersebut diembannya hingga 2007 sebelum kemudian beberapa kali maju dalam pemilihan presiden.
Upayanya mencapai puncak pada 2017 ketika ia memenangkan pemilihan presiden dan menggantikan Taur Matan Ruak sebagai kepala negara.
Dikenal Sebagai Simbol Rekonsiliasi
Selama masa kepemimpinannya, Guterres dikenal sebagai sosok yang mendorong stabilitas politik dan memperkuat hubungan diplomatik Timor-Leste dengan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Pengamat politik kawasan menilai Lu-Olo memainkan peran penting dalam menjaga proses demokrasi di negara muda tersebut, terutama ketika menghadapi dinamika politik domestik yang cukup kompleks pasca-kemerdekaan.
Meski berasal dari latar belakang perjuangan bersenjata, Guterres dikenal mengedepankan dialog politik, rekonsiliasi nasional, dan penguatan institusi demokrasi sebagai fondasi pembangunan negara.
Duka dari Kawasan ASEAN
Kepergian Guterres terjadi pada saat Timor-Leste semakin dekat dengan integrasi penuh di kawasan Asia Tenggara setelah resmi diterima sebagai anggota penuh ASEAN pada 2025.
Sejumlah tokoh politik dan pejabat kawasan menyampaikan penghormatan atas jasa-jasa Guterres dalam memperjuangkan kemerdekaan sekaligus membangun fondasi negara Timor-Leste modern.
Dalam pernyataannya, Anwar Ibrahim menegaskan bahwa Malaysia turut berduka bersama rakyat Timor-Leste.
“Malaysia berduka atas kepergiannya bersama rakyat Timor-Leste. Ia akan dikenang di sini dengan penuh hormat dan kasih sayang,” ujar Anwar.
Wafatnya Francisco “Lu-Olo” Guterres menandai berakhirnya perjalanan salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern Timor-Leste. Dari medan perjuangan kemerdekaan hingga kursi kepresidenan, namanya akan tetap dikenang sebagai simbol pengabdian bagi bangsa dan demokrasi di negara termuda Asia Tenggara tersebut.
( berbagai sumber)
