GEBRAK.ID, JAKARTA – Meningkatnya penggunaan aset digital di Indonesia diikuti dengan semakin beragamnya modus kejahatan siber. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar dan membiasakan melakukan verifikasi sebelum mengambil keputusan terkait investasi maupun transaksi aset digital.
Praktisi perdagangan aset kripto menilai ancaman di dunia digital kini tidak lagi hanya berasal dari upaya peretasan sistem. Pelaku kejahatan justru semakin sering memanfaatkan celah psikologis pengguna melalui berbagai teknik manipulasi atau social engineering yang dirancang untuk mengelabui korban.
Chief Information Security Officer (CISO) Indodax, Ledy, mengatakan pola serangan di ekosistem aset kripto telah mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya teknologi.
Jika sebelumnya pelaku lebih banyak mencoba membobol sistem keamanan platform, kini sasaran utama mereka adalah pengguna yang kurang teliti dalam memverifikasi informasi.
"Banyak orang masih menganggap ancaman terbesar berasal dari peretasan sistem pada exchange. Padahal, dalam beberapa kasus yang terjadi belakangan, pelaku justru memperoleh akses karena korban secara tidak sadar memberikan informasi penting atau mengklik tautan berbahaya yang menyerupai layanan resmi," ujar Ledy dalam keterangannya, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat berbagai modus penipuan semakin sulit dikenali. Konten palsu yang dihasilkan AI kini mampu menyerupai komunikasi resmi sehingga berpotensi mengecoh masyarakat.
Ledy menjelaskan, pelaku kini memanfaatkan berbagai teknik seperti deepfake, voice cloning, iklan palsu di media sosial, manipulasi hasil pencarian berbasis AI, hingga menyamar sebagai petugas layanan pelanggan melalui aplikasi pesan instan.
Modus-modus tersebut dirancang agar korban percaya bahwa mereka sedang berinteraksi dengan pihak resmi, padahal informasi yang diberikan justru dimanfaatkan untuk mengambil alih akun atau mencuri aset digital.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan menjaga keamanan digital atau cyber hygiene dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Ledy, langkah sederhana seperti selalu memeriksa alamat situs resmi, memastikan identitas pihak yang menghubungi, tidak membagikan kode verifikasi, serta menghindari tautan yang mencurigakan dapat mengurangi risiko menjadi korban penipuan.
"Platform dapat menyediakan berbagai sistem lapisan keamanan. Namun pada akhirnya, setiap keputusan tetap berada di tangan pengguna. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dan selalu melakukan verifikasi sebelum memberikan informasi ataupun mengambil keputusan terkait aset digital," kata Ledy.
Selain meningkatkan kewaspadaan, masyarakat juga didorong untuk memperkuat literasi digital. Edukasi mengenai berbagai bentuk kejahatan siber dinilai sama pentingnya dengan pengembangan teknologi keamanan yang dilakukan penyedia layanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, para pakar keamanan siber memang mengingatkan bahwa serangan berbasis social engineering terus meningkat secara global. Pelaku tidak hanya mengeksploitasi kelemahan teknologi, tetapi juga memanfaatkan kelengahan pengguna melalui rekayasa psikologis.
Oleh sebab itu, pemahaman mengenai phishing, deepfake, pencurian identitas digital, hingga penyalahgunaan akun media sosial menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.
Dengan semakin pesatnya adopsi aset digital dan teknologi AI, kehati-hatian menjadi faktor utama dalam menjaga keamanan. Verifikasi informasi sebelum mengklik tautan, memberikan data pribadi, atau melakukan transaksi menjadi langkah sederhana yang dapat mencegah kerugian besar akibat penipuan digital.
(Sumber: Indodax)
