Meski Turki Tersingkir, Arda Guler Cetak Rekor Bersejarah di Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Amerika Serikat

Arda Guler (8) dari Turki melepaskan tembakan ke arah gawang dalam pertandingan Grup D Piala Dunia FIFA 2026 antara Turki dan Amerika Serikat di Los Angeles Stadium (SoFi Stadium) di Inglewood, California, Amerika Serikat, Jumat (26/6/2026) WIB. (Foto: Anadolu/Tayfun Coşkun)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA – Timnas Turki memang gagal melangkah ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun, kemenangan 3-2 atas tuan rumah Amerika Serikat pada laga terakhir Grup D tetap menyisakan kebanggaan tersendiri bagi publik Negeri Bulan Sabit.

Salah satu sorotan utama dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion SoFi, Inglewood, California, Jumat (26/6/2026) WIB, datang dari bintang muda Turki, Arda Guler. Gelandang Real Madrid itu akhirnya memecahkan kebuntuan gol negaranya di turnamen sekaligus menorehkan rekor baru dalam sejarah sepak bola Turki.

Gol yang dicetak Guler pada menit ke-10 menjadi titik balik kebangkitan Turki setelah sempat tertinggal lebih dulu. Memanfaatkan umpan Yilmaz di depan gawang, pemain berusia 21 tahun tersebut melepaskan tembakan keras yang gagal dibendung kiper Amerika Serikat.

Gol itu bukan sekadar menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Bagi Guler, lesakan tersebut menjadi gol perdananya di putaran final Piala Dunia sekaligus mengakhiri puasa gol Turki setelah gagal mencetak satu gol pun dalam dua pertandingan sebelumnya.

Lebih istimewa lagi, gol tersebut mengantarkan Arda Guler menjadi pencetak gol termuda Turki sepanjang sejarah Piala Dunia.

Dalam usia 21 tahun lebih dari empat bulan, Guler berhasil memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Emre Belozoglu yang mencetak gol Piala Dunia saat berusia 21 tahun 275 hari.

Catatan itu menjadi pencapaian penting bagi pemain yang digadang-gadang sebagai masa depan sepak bola Turki.

Sepanjang fase grup Piala Dunia 2026, Guler memang menjadi salah satu pemain paling aktif di lini serang. Ia selalu dipercaya tampil sebagai starter dalam tiga pertandingan dan tak pernah digantikan hingga peluit akhir dibunyikan.

Meski sempat kesulitan mengonversi peluang menjadi gol, statistik menunjukkan Guler termasuk pemain dengan jumlah tembakan terbanyak di fase grup, yakni mencapai 10 percobaan. Gol ke gawang Amerika Serikat akhirnya menjadi buah dari konsistensinya sepanjang turnamen.

Usai pertandingan, Guler mengaku lega karena Turki setidaknya mampu menutup perjalanan di Piala Dunia dengan kemenangan.

"Hari ini akhirnya kami menang. Kami bisa pulang ke negara kami dengan sedikit lebih bangga. Semoga kami bisa kembali membuat semua orang bahagia," ujar Guler seperti dikutip dari laman resmi FIFA.

Pemain berusia 21 tahun itu mengakui Turki sebenarnya memiliki kualitas untuk bersaing dengan tim-tim besar. Sayangnya, performa terbaik mereka baru muncul pada pertandingan terakhir ketika peluang lolos sudah tertutup.

"Kami tahu kami mampu bermain di level seperti itu. Sayangnya, kami baru menunjukkannya pada pertandingan terakhir," kata Guler.

Penampilan impresif Guler membuatnya terpilih sebagai pemain terbaik atau Player of the Match pada laga tersebut.

Meski tersingkir dari Piala Dunia 2026, Guler optimistis pengalaman yang diperoleh di Amerika Utara akan menjadi modal berharga bagi generasi muda Turki.

Guler berharap timnya bisa kembali tampil di turnamen besar berikutnya dengan performa yang lebih matang dan mampu melangkah lebih jauh.

"Kami ingin terus menunjukkan kualitas permainan dan semangat juang seperti ini pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Kami ingin tampil lebih baik di turnamen selanjutnya, mewakili negara kami dengan lebih baik, dan memberikan lebih banyak kebahagiaan kepada rakyat Turki," jelas Guler.

Kemenangan atas Amerika Serikat memang tidak cukup mengubah nasib Turki yang lebih dulu dipastikan tersingkir setelah menelan dua kekalahan di laga awal Grup D. Meski demikian, hasil tersebut menjadi penutup yang manis sekaligus menghadirkan secercah harapan lewat munculnya Arda Guler sebagai wajah baru sepak bola Turki di pentas dunia.

(Sumber: Tribuna/FIFA)