Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID;JAKARTA - Pemerintah tengah merancang paket stimulus ekonomi anyar yang akan difokuskan bagi masyarakat berpendapatan menengah bawah atau kelompok desil 4 ke bawah. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan dampak kenaikan harga energi .
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa stimulus tersebut saat ini sedang dalam tahap finalisasi. Namun, ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak akan berbentuk uang tunai seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada umumnya.
"Stimulus yang kita siapkan untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah. Ini sedang dipersiapkan. BLT untuk yang bawah, tidak berbentuk cash," tegas Airlangga di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (16/6/2026) .
Latar Belakang: Tekanan Ekonomi Global dan Kenaikan Harga BBM
Paket stimulus ini muncul sebagai respons atas sejumlah tekanan ekonomi yang membayangi. Salah satu pemicu utamanya adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax yang kini dibanderol Rp 16.250 per liter, serta dinamika geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi harga energi dunia.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, sebelumnya juga menyoroti dampak konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur Selat Hormuz, yang mengganggu rantai pasok energi global dan memicu tekanan pada nilai tukar rupiah. Anggota Komisi XII DPR, Irsan Sosiawan, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap tren kenaikan minyak dunia yang dapat menekan kondisi fiskal negara.
Stimulus Berbeda, Kelas Menengah Juga Dapat Perhatian
Selain untuk kelompok desil 4 ke bawah, pemerintah juga merancang program khusus bagi masyarakat kelas menengah yang dinilai mulai merasakan tekanan akibat kenaikan biaya hidup, namun tidak masuk dalam kriteria penerima bantuan sosial reguler.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah penguatan program magang nasional yang mulai kembali digencarkan pada Juni 2026 . "Kelas menengah salah satu program magang yang kita lagi dorong kembali di bulan Juni," ujar Airlangga .
Hal ini sejalan dengan saran dari para ekonom. Kepala Pusat Makroekonomi Indef, Rizal Taufikurrahman, menilai kelompok kelas menengah saat ini berada di posisi terjepit. Mereka tidak menerima bansos tetapi harus menanggung kenaikan biaya transportasi, pangan, dan suku bunga kredit.
"Kelompok ini umumnya tidak menjadi penerima bantuan sosial, tetapi harus menanggung kenaikan biaya transportasi, pangan, cicilan, pendidikan, dan kebutuhan lainnya. Akibatnya, konsumsi akan bergeser dari belanja sekunder menuju kebutuhan pokok," jelas Rizal .
Rizal mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan pengurangan biaya hidup (cost of living support), seperti peningkatan PTKP atau subsidi transportasi, daripada sekadar bantuan tunai.
Menjaga Stabilitas dan Optimisme Konsumen
Di sisi lain, pemerintah memastikan subsidi energi seperti BBM Pertalite dan program biodiesel B50 tetap dipertahankan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik . Keputusan ini diambil sambil terus memantau perkembangan harga minyak dunia yang berpotensi turun ke kisaran 83 dollar AS per barel .
Data Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Februari 2026 menunjukkan bahwa masyarakat kini cenderung lebih berhati-hati dalam konsumsi, dengan porsi pendapatan untuk belanja turun ke level 71,6% . Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kehati-hatian di tengah ketidakpastian.
Melalui paket stimulus yang tepat sasaran ini, pemerintah berharap dapat menjaga daya beli masyarakat dan menahan laju perlambatan konsumsi, terutama bagi kelompok rentan yang paling terdampak oleh ketidakpastian ekonomi global.
( berbagai sumber)
