![]() |
| Menurut BPS, kenaikan pertamax, tiket pesawat, dan minyak goreng menyumbang inflasi Mei 2026. (Foto ilustrasi: Gebrak.id) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, tarif angkutan udara, serta minyak goreng menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan harga pada periode tersebut.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan tekanan inflasi pada Mei tahun ini masih relatif terkendali dan lebih rendah dibandingkan periode Hari Raya Idulfitri. Secara historis, momentum Iduladha memang cenderung memberikan tekanan harga yang lebih ringan dibandingkan Lebaran.
"Inflasi Mei 2026 secara year on year mencapai 3,08 persen dan secara month to month sebesar 0,28 persen. Kondisi ini masih relatif rendah dibandingkan momen Idulfitri," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (15/6/2026), di Jakarta.
Komponen Inti dan Harga yang Diatur Pemerintah Mendominasi
Data BPS menunjukkan bahwa komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,14 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi 0,52 persen dengan andil 0,10 persen.
Artinya, kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi oleh komoditas pangan, tetapi juga oleh barang dan jasa yang berkaitan dengan kebijakan harga pemerintah maupun permintaan masyarakat.
Minyak Goreng hingga Laptop Ikut Mengalami Kenaikan Harga
Selain BBM non-subsidi dan tiket pesawat, sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi inti antara lain:
Minyak goreng
Telepon seluler
Laptop atau notebook
Pelumas atau oli mesin
Nasi dengan lauk
Biaya pemeliharaan dan servis kendaraan
Menurut BPS, kenaikan harga pelumas berkaitan dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang terjadi sebelumnya sehingga meningkatkan biaya operasional kendaraan.
Tarif Angkutan Udara Naik Seiring Meningkatnya Mobilitas
Tarif angkutan udara juga menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Mei 2026. Peningkatan mobilitas masyarakat menjelang libur panjang dan Hari Raya Iduladha menyebabkan permintaan tiket pesawat meningkat sehingga mendorong kenaikan tarif di sejumlah rute domestik.
Sektor transportasi masih menjadi salah satu komponen yang sensitif terhadap perubahan harga energi dan lonjakan permintaan musiman.
Inflasi Masih Berada dalam Sasaran Pemerintah
Meski mengalami kenaikan, tingkat inflasi tahunan sebesar 3,08 persen masih berada di kisaran sasaran pengendalian inflasi nasional yang dijaga pemerintah dan Bank Indonesia. Stabilitas harga dinilai tetap terpelihara meskipun terdapat tekanan dari kenaikan harga energi, transportasi, dan beberapa komoditas konsumsi.
Para ekonom menilai tantangan berikutnya adalah menjaga pasokan pangan, mengendalikan biaya distribusi, serta mempertahankan daya beli masyarakat di tengah dinamika harga energi global.
Prospek Inflasi ke Depan
Pengendalian inflasi pada bulan-bulan berikutnya diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh:
• Stabilitas harga BBM non-subsidi.
• Ketersediaan pasokan minyak goreng dan bahan pangan strategis.
• Pergerakan tarif transportasi selama musim liburan.
• Kondisi cuaca yang memengaruhi produksi pertanian.
• Kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga.
Apabila pasokan tetap terjaga dan tidak terjadi gejolak harga energi global, laju inflasi diperkirakan masih dapat dikendalikan sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.
(berbagai sumber)
