Tak Lagi Sekadar Belajar di Kelas, Murid Kini Diajak Jaga Lingkungan Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini memperkuat penerapan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap lingkungan, perubahan iklim, dan persoalan sosial sejak usia dini. (Foto ilustrasi: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Pendidikan di Indonesia terus diarahkan untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin kompleks. Tak hanya mengejar prestasi akademik, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini memperkuat penerapan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap lingkungan, perubahan iklim, dan persoalan sosial sejak usia dini.

Melalui pendekatan ini, sekolah didorong menjadi ruang pembentukan karakter, tempat murid belajar menjaga alam melalui berbagai kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Kepala Badan Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyatakan bahwa ESD bukan mata pelajaran baru, melainkan perspektif yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran.

"Di Indonesia, ESD tidak dipandang sebagai mata pelajaran baru, melainkan sebagai perspektif yang diintegrasikan ke dalam seluruh proses pembelajaran," ujar Toni dalam pemaparannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Toni, perubahan iklim bukan semata isu lingkungan, tetapi juga menjadi tantangan dunia pendidikan. Karena itu, sekolah perlu membekali peserta didik dengan pengetahuan, kepedulian, sekaligus kemampuan mengambil tindakan nyata demi mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.

Implementasi konsep tersebut mulai diterapkan di berbagai daerah dengan menyesuaikan karakteristik masing-masing wilayah. Salah satu contoh datang dari Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang memanfaatkan kekayaan alam sebagai media pembelajaran melalui Cagar Biosfer UNESCO dan Taman Nasional Wakatobi.

Bupati Wakatobi, Haliana, mengatakan pemerintah daerah meluncurkan paket pembelajaran "Wakatobiku" yang dirancang untuk mengenalkan pentingnya konservasi kepada anak-anak sejak dini. Materi disajikan melalui buku cerita, permainan edukatif, hingga video animasi yang mengangkat keanekaragaman terumbu karang, hutan mangrove, dan kehidupan masyarakat pesisir.

"Jika kita ingin menjaga laut, kita harus mendidik generasi yang mencintai laut. Jika kita ingin melestarikan alam, kita harus menanamkan nilai konservasi sejak usia dini," kata Haliana.

Penerapan pendidikan berkelanjutan juga terlihat di SDN Kelapa Dua Wetan. Guru sekaligus peserta pameran praktik baik pendidikan berkelanjutan, Nining, menjelaskan bahwa sekolahnya membangun budaya peduli lingkungan melalui berbagai program nyata.

Mulai dari pemilahan sampah, pengolahan limbah menjadi pupuk, ecoenzym, budidaya maggot, hingga pembentukan bank sampah sekolah dan kader peduli lingkungan. Menurutnya, program seperti Adiwiyata bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan membangun kebiasaan positif yang melekat dalam kehidupan peserta didik.

Hasilnya mulai terlihat. Murid terbiasa memilah sampah sesuai jenisnya, lebih hemat menggunakan air dan listrik, serta semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan. Di sisi lain, volume sampah sekolah ikut berkurang, sementara kawasan sekolah menjadi lebih hijau dan produktif melalui kegiatan berkebun, beternak, dan berbagai inovasi hasil daur ulang.

Praktik serupa juga diterapkan SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan, Wakatobi. Di bawah kepemimpinan Adeliya Alim Sabani, pendidikan konservasi diintegrasikan ke dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Para siswa secara rutin mengikuti penanaman mangrove, aksi bersih pantai, membiasakan penggunaan tumbler, serta mengelola sampah organik dan anorganik secara terpisah.

Perubahan perilaku siswa pun mulai tampak. Mereka dengan kesadaran sendiri memungut sampah tanpa harus diingatkan. Bahkan, sekolah berhasil meraih prestasi dalam kompetisi konten pendidikan konservasi yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Wakatobi sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.

Melalui Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, pemerintah berharap sekolah tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan warga negara yang memiliki tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai bekal membangun Indonesia yang berkelanjutan.

(Sumber: Kemendikdasmen)