GEBRAK.ID; DEPOK – Kelompok musik Swara SeadaNya akan memulai perjalanan riset budaya ke Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 24 Juni 2026. Selama sepekan, tim yang terdiri dari musisi, akademisi, dan peneliti naskah Nusantara itu akan menelusuri berbagai sumber sejarah terkait Kakawin Sutasoma, sebagai fondasi penciptaan karya seni pertunjukan yang dijadwalkan tampil pada September 2026.
Riset tersebut menjadi bagian dari proses kreatif Swara SeadaNya yang tergabung dalam Komoenitas Makara. Hasil kajian nantinya akan diwujudkan dalam pertunjukan yang memadukan musikalisasi puisi, musik etnik, serta tari tradisional dengan mengangkat nilai-nilai budaya Nusantara.
Rombongan riset dipimpin oleh Dr. Turita Indah Setyani, pakar Kebudayaan Jawa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), bersama Manajer Swara SeadaNya Ayie Suminar. Turut bergabung dalam perjalanan tersebut Asep Rachman Muchlas, Gunawan Wicaksono, Theressa Rida, Indonesiana Ayuningtyas, Abrar Husin, Sano Rizal, Wulan Fitria, dan Bergas Wicaksono.
Sementara itu, salah satu anggota tim, Dr. Ari Prasetiyo, dipastikan tidak dapat mengikuti kegiatan karena masih menjalankan tugas akademik sebagai dosen di Jakarta.
Selama berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tim dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi penting yang menyimpan koleksi naskah kuno, termasuk Perpustakaan Pakualaman Yogyakarta. Selain itu, mereka juga akan berdiskusi dengan sejumlah pakar budaya dan filolog untuk memperdalam pemahaman mengenai kandungan nilai dalam Kakawin Sutasoma.
Promotor Swara SeadaNya sekaligus pakar Kebudayaan Jawa FIB UI, Dr. Turita Indah Setyani, menjelaskan bahwa perjalanan ini tidak sekadar menjadi kegiatan penelitian, tetapi juga bagian dari proses penciptaan karya yang menghubungkan warisan sastra Nusantara dengan ekspresi seni pertunjukan masa kini.
"Perjalanan ini merupakan jalinan menyatukan penelitian naskah Kakawin Sutasoma sebagai dasar pendalaman penciptaan karya dan penyaluran kreativitas musik etnik baru berbasis puisi dan tarian Nusantara dengan pengalaman estetis dan spiritualitas dalam rangka Program Layanan Produksi Media untuk Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan 2025 atau Dana Indonesiana," ujar Turita.
Senada dengan itu, Manajer Swara SeadaNya, Ayie Suminar, menilai Kakawin Sutasoma memiliki relevansi yang sangat kuat dengan berbagai isu global saat ini.
Menurut Ayie, naskah kuno karya Mpu Tantular tersebut bukan hanya dikenal sebagai sumber lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga mengandung nilai-nilai keberlanjutan yang tetap relevan hingga sekarang.
"Kami melihat bahwa Kakawin Sutasoma bukan hanya sumber lahirnya Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga dapat dibaca sebagai 'Naskah Sustainability Nusantara' yang memuat nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG), jauh sebelum istilah tersebut dikenal dunia modern," kata Ayie.
Melalui riset ini, Swara SeadaNya berharap mampu menghadirkan karya yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga menjadi media edukasi untuk memperkenalkan kembali kekayaan naskah Nusantara kepada masyarakat luas. Program tersebut merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) yang mendukung lahirnya karya-karya kreatif berbasis warisan budaya Indonesia.
(Sumber: Humas Swara SeadaNya)
