Terobosan Baru! Peneliti Kembangkan Tes Urine untuk Deteksi Autisme Dini dengan Akurasi Hingga 90 Persen

Harapan baru dalam deteksi dini gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) pada anak-anak muncul dari dunia penelitian. (Foto ilustrasi: AI/Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Harapan baru dalam deteksi dini gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) muncul dari dunia penelitian. Tim ilmuwan dari Arizona State University, Amerika Serikat, berhasil mengembangkan alat diagnostik berbasis urine yang diklaim mampu membantu mengidentifikasi autisme sejak usia dini dengan tingkat akurasi mencapai 90 persen.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Molecular Psychiatry itu dinilai berpotensi mengubah cara diagnosis autisme dilakukan selama ini. Jika metode konvensional umumnya mengandalkan observasi perilaku dan perkembangan anak, teknologi baru ini menawarkan pendekatan biologis yang lebih objektif melalui analisis senyawa tertentu dalam urine.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi meningkatnya angka diagnosis autisme di Amerika Serikat. Dalam kurun waktu 2011 hingga 2022, jumlah kasus yang teridentifikasi tercatat melonjak hingga 175 persen. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk mencari metode skrining yang lebih cepat dan akurat agar intervensi dapat dilakukan lebih awal.

Alat yang dikembangkan diberi nama Microbial-Derived Metabolite System (MDM) atau Sistem Metabolit Turunan Mikroba. Teknologi ini bekerja dengan mengukur kadar metabolit tertentu yang berasal dari aktivitas mikroorganisme dalam usus dan kemudian terdeteksi melalui urine.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis sampel urine anak-anak berusia 2 hingga 11 tahun. Sebanyak 99 anak terlibat dalam penelitian, terdiri atas 52 anak yang telah didiagnosis autisme dan 47 anak tanpa diagnosis ASD.

Hasilnya menunjukkan pola yang menarik. Anak-anak dengan autisme secara konsisten memiliki peningkatan kadar beberapa metabolit tertentu. Bahkan pada sebagian kasus, kadar metabolit tersebut ditemukan hingga 1.000 kali lebih tinggi dibandingkan kisaran normal.

Penulis studi, James Adams, mengaku terkejut dengan temuan tersebut karena sejumlah metabolit yang ditemukan ternyata berkaitan erat dengan neurotransmiter penting dalam tubuh.

“Yang benar-benar mengejutkan tentang bakteri ini adalah mereka menghasilkan metabolit yang pada dasarnya merupakan versi serotonin dan dopamin yang telah dimodifikasi,” kata Adams dikutip dari New York Times, Kamis (4/6/2026).

Serotonin dan dopamin diketahui berperan penting dalam mengatur suasana hati, kemampuan berpikir, memori, serta perilaku sosial seseorang. Karena itu, para peneliti menilai peningkatan metabolit terkait neurotransmiter tersebut dapat membantu menjelaskan sejumlah karakteristik yang sering ditemukan pada anak dengan autisme, termasuk kesulitan komunikasi sosial, gangguan perhatian, kecemasan, hingga depresi.

Temuan ini juga memperkuat hasil lebih dari 40 penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya hubungan antara mikrobioma usus dan gangguan spektrum autisme. Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan semakin banyak menemukan bukti bahwa kesehatan usus memiliki keterkaitan dengan fungsi otak dan perkembangan saraf.

Selama pengujian berlangsung, alat MDM menunjukkan tingkat akurasi sekitar 90 persen dalam mengidentifikasi anak dengan autisme. Menariknya, penelitian tersebut dilaporkan tidak menemukan kasus salah diagnosis positif pada kelompok sampel yang diuji.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengembangan alat ini masih terus berlangsung. Uji coba lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar sedang dilakukan untuk memastikan keakuratan dan konsistensi hasil sebelum dapat digunakan secara luas dalam praktik medis.

Penulis utama penelitian, Christina Flynn, berharap metode baru ini dapat membantu mempercepat proses diagnosis sekaligus mengurangi stigma yang selama ini kerap melekat pada autisme.

“Terkadang keraguan dalam mendiagnosis terjadi karena orang tua merasa mereka bukan orang tua yang cukup baik dan mereka sedang dihakimi,” ujar Flynn.

Para peneliti juga menegaskan bahwa metabolit yang ditemukan bukan penyebab autisme. Sebaliknya, senyawa tersebut hanya berfungsi sebagai penanda biologis yang dapat membantu proses identifikasi. 

Berdasarkan hasil penelitian, tim ilmuwan bahkan mengusulkan subtipe baru yang disebut ASD-MDM (Autism Spectrum Disorder-Microbial Derived Metabolites) yang diperkirakan mencakup sekitar 90 persen kasus autisme.

Jika penelitian lanjutan membuktikan efektivitasnya, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu terobosan terbesar dalam bidang kesehatan anak. Deteksi yang lebih cepat diyakini dapat membuka peluang intervensi lebih dini sehingga membantu meningkatkan kualitas hidup dan perkembangan anak dengan autisme di masa depan.

(Sumber: New York Post)