Kepastian Insentif Motor Listrik Dinilai Lebih Penting Daripada Besaran Subsidi

 

Periklindo nilai kepastian insentif motor listrik lebih penting daripada besarannya. Ketidakpastian kebijakan bikin konsumen tunda pembelian dan industri terancam. ( Foto: Alva) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA– Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menyatakan bahwa kepastian kebijakan insentif untuk sepeda motor listrik jauh lebih krusial bagi industri dibandingkan besaran subsidi yang ditawarkan. Ketidakjelasan regulasi dinilai menyebabkan calon konsumen menunda pembelian, yang pada akhirnya berdampak langsung pada kinerja penjualan dan keberlangsungan industri di dalam negeri. 

Wakil Ketua Umum Periklindo Bidang Pengembangan dan Penelitian, Prabowo Kartoleksono, mengungkapkan bahwa sejak awal pihaknya selalu mendukung adanya insentif. Namun, kebutuhan paling mendesak bagi pelaku usaha saat ini adalah kepastian arah kebijakan dari pemerintah.

"Kami selalu mendorong. Kami selalu meminta kepada pemerintah untuk memberikan insentif ini. Tapi intinya, insentif itu bagus kalau ada. Nah, jangan sampai seperti tahun 2025," ujar Prabowo saat ditemui di Jakarta, belum lama ini .

Ia mencontohkan, ketidakpastian serupa pernah terjadi ketika muncul wacana subsidi Rp7 juta yang membuat konsumen memilih menahan diri untuk membeli. "Orang-orang yang tadinya mau beli motor listrik berpikir, kalau saya beli sekarang, tiba-tiba nanti bulan depan keluar subsidinya, rugi dong saya. Ya sudah kalau begitu saya nunggu," tambahnya. 

Dampak terhadap Industri

Prabowo menekankan bahwa sikap menunggu konsumen ini telah membawa konsekuensi serius bagi industri. Banyak produsen dan jaringan distribusi yang mengalami dampak signifikan, termasuk merosotnya penjualan hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). "Ini serius. Sudah pada bangkrut. Sudah PHK semua," tegasnya. 

Periklindo menegaskan bahwa industri sebenarnya tidak mempermasalahkan apabila pemerintah memutuskan untuk tidak memberikan insentif. Yang terpenting adalah kepastian, sehingga pelaku usaha dapat segera menyusun strategi bisnis yang sesuai, baik itu melalui efisiensi biaya produksi maupun strategi pemasaran baru. 

"Kalau enggak dikasih ya enggak apa-apa. Kami sebagai industri langsung bisa bersikap. Oh, berarti enggak akan ada insentif. Kami akan berusaha bagaimana cara menjual, bagaimana cara memproduksi supaya biayanya bisa turun," jelas Prabowo .

Arah Kebijakan Pemerintah

Sementara itu, pemerintah tengah mematangkan skema insentif yang akan datang. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan bahwa insentif kendaraan listrik ke depan akan diprioritaskan untuk merek-merek nasional, baik mobil maupun motor listrik. 

"Salah satu yang menjadi prioritas ialah motor listrik nasional yang rencananya akan diluncurkan Presiden Prabowo Subianto," ujar Agus di Jakarta, Kamis (30/7/2026). 

Meskipun demikian, rincian teknis mengenai bentuk insentif apakah diberikan langsung kepada konsumen atau produsen serta besaran nominalnya masih dalam pembahasan dan menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 

Sebelumnya, pemerintah sempat menggulirkan subsidi motor listrik sebesar Rp7 juta per unit pada 2024 yang terbukti mampu mendongkrak penjualan. Namun, penghentian subsidi pada 2025 membuat pasar kembali melambat. Untuk tahun ini, wacana yang berkembang adalah pemberian bantuan pembelian sekitar Rp5 juta per unit dengan kuota awal 100.000 unit. 

( berbagai sumber)