Pabrik Baterai EV Raksasa di Karawang Rampung, Langkah Besar Hilirisasi Nikel Indonesia
| Pabrik baterai EV PT CATIB di Karawang rampung dan siap produksi. Investasi hilirisasi nikel ini mampu memasok 250.000 kendaraan listrik.( Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa pabrik baterai kendaraan listrik (EV) raksasa milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, telah selesai dibangun dan siap memasuki fase produksi. Kabar ini disampaikan usai rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, menandai tonggak penting dalam program hilirisasi nikel nasional.
“Persiapan peresmian pabrik CATL untuk ekosistem baterai mobil yang dilakukan ground breaking pada tahun 2021-2022. Sekarang sudah selesai, sudah bisa berproduksi. Ini bagian daripada implementasi hilirisasi daripada nikel,” ujar Bahlil di kompleks Istana, Rabu (29/7/2026).
Kapasitas Produksi dan Pemilik Pabrik
PT CATIB merupakan perusahaan patungan strategis antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha dari produsen baterai terbesar asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) . Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 43 hektar di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, ini menjadi bagian dari proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir yang diklaim terbesar di Asia.
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, mengungkapkan bahwa kapasitas produksi pada tahap pertama mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh). Pabrik ini tidak hanya merakit baterai (battery pack), tetapi juga memproduksi komponen inti seperti sel baterai dan modul baterai.
“Kapasitas pertama yang akan kita install ini 6,9 GWh dan Insya Allah masih on schedule. Saat ini progresnya sudah 90% jadi kami cukup optimistis kita tetap akan bisa capai target,” kata Aditya kepada CNBC Indonesia beberapa waktu lalu.
Perusahaan telah menyiapkan ekspansi kapasitas hingga 15 GWh dalam waktu dekat, yang setara dengan kebutuhan baterai untuk sekitar 250.000 hingga 300.000 kendaraan listrik.
Dampak Strategis dan Ekonomi
Kehadiran pabrik ini dinilai krusial dalam rantai pasok industri kendaraan listrik nasional. Bahlil menekankan bahwa pabrik CATIB berada di posisi paling hilir dari rantai nilai nikel, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga produksi baterai siap pakai.
Selain mendukung ekosistem EV, pabrik ini juga diproyeksikan dapat menekan impor bahan bakar minyak (BBM) hingga 300.000 kiloliter (KL) per tahun melalui adopsi kendaraan listrik . Investasi awal untuk proyek ekosistem baterai terintegrasi ini mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 96 triliun, dan diperkirakan akan menyerap hingga 8.000 tenaga kerja langsung.
Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pemain utama industri baterai global. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ketiga rantai pasok baterai dunia, dan berpotensi naik ke posisi kedua pada 2030 jika eksekusi proyek hilirisasi berjalan optimal.
“(Ini) momentum strategis membangun kendaraan listrik yang kompetitif secara global,” tegas Yannes.
Pabrik CATIB di Karawang dijadwalkan akan diresmikan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada akhir Juli 2026, bertepatan dengan dimulainya produksi komersial perdana.
( berbagai sumber)
