Peneliti Universitas Pertamina Temukan Model Baru, Produksi Biohidrokarbon dari Karet Alam Jadi Lebih Efisien
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — Upaya mempercepat transisi energi di Indonesia terus melahirkan inovasi baru. Kali ini, peneliti Universitas Pertamina (UPER) berhasil mengembangkan model baru yang mampu membuat proses produksi biohidrokarbon berbahan baku karet alam menjadi lebih efisien.
Inovasi tersebut dinilai penting mengingat Indonesia merupakan produsen karet alam terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,6 juta ton per tahun. Potensi tersebut membuka peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional melalui pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa.
Meski demikian, proses konversi karet alam menjadi biohidrokarbon selama ini masih membutuhkan banyak tahapan uji coba untuk menemukan kondisi produksi yang paling optimal.
Menjawab tantangan tersebut, pakar bioenergi sekaligus dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina, Dr. Ir. Laksmi Dewi Kasmiarno, bersama tim peneliti dari sejumlah institusi mengembangkan model volatile-state kinetics. Model ini mampu memprediksi hasil konversi karet alam menjadi biohidrokarbon sebelum dilakukan pengujian secara berulang di laboratorium.
“Model ini memungkinkan kami memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan banyak pengujian di laboratorium. Dengan tingkat kesesuaian yang sangat tinggi terhadap hasil eksperimen, pendekatan ini dapat membantu mengurangi proses trial and error sehingga pengembangan teknologi menjadi lebih efisien,” ujar Dr. Laksmi dalam siaran pers UPER, Selasa (28/7/2026).
Biohidrokarbon merupakan bahan bakar yang berasal dari sumber hayati, seperti tanaman, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia. Dalam penelitian ini, Dr. Laksmi dan tim menggunakan metode pirolisis untuk mengubah karet alam menjadi biohidrokarbon.
Dr. Laksmi menjelaskan, proses pirolisis dilakukan dengan memanaskan karet alam pada suhu 300 hingga 600 derajat Celsius dalam kondisi minim oksigen selama sekitar 30 menit. Panas tersebut memecah rantai panjang penyusun karet menjadi senyawa yang lebih sederhana.
“Senyawa yang menguap kemudian didinginkan hingga menjadi minyak biohidrokarbon, sedangkan sisanya menjadi gas yang juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dengan mengatur suhu dan waktu proses secara tepat, kami dapat mengoptimalkan pembentukan produk bernilai tinggi sekaligus meminimalkan limbah yang dihasilkan,” jelas Dr. Laksmi.
Hasil penelitian menunjukkan optimasi proses tersebut mampu menghasilkan biohidrokarbon dengan karakteristik yang mendekati bahan bakar diesel komersial, sekaligus menghasilkan berbagai senyawa bernilai ekonomi tinggi.
“Biohidrokarbon yang kami hasilkan memiliki nilai kalor 43,8–45,3 MJ/kg, mendekati bahan bakar diesel komersial. Pada kondisi optimum, sekitar 84,5 persen hasil pirolisis berupa produk cair yang juga mengandung senyawa bernilai ekonomi, seperti limonene, toluena, dan xilena. Temuan ini menunjukkan bahwa karet alam tidak hanya berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, tetapi juga bahan baku bagi industri kimia,” ujar Dr. Laksmi.
Menurut Dr. Laksmi, model volatile-state kinetics yang dikembangkan juga berpotensi diterapkan pada berbagai jenis biomassa lainnya. Dengan demikian, penelitian ini dapat menjadi landasan ilmiah untuk mempercepat pengembangan teknologi biohidrokarbon yang lebih efisien di masa depan.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi capaian tersebut sebagai bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi berbasis riset untuk mendukung transisi energi nasional.
Prof. Djoko menambahkan, Universitas Pertamina berkomitmen menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan industri melalui penguasaan sains, rekayasa, dan inovasi. Di Program Studi Teknik Kimia, mahasiswa dibekali kompetensi melalui peminatan Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi serta Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses sehingga mampu mengembangkan solusi bernilai tambah dari sumber daya lokal.
“Penelitian ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran dan riset dapat melahirkan inovasi yang mendukung ketahanan energi sekaligus pembangunan berkelanjutan,” tutup Prof. Djoko. (*)



