GEBRAK.ID, PANGKALPINANG – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ternyata membawa dampak lebih luas daripada sekadar memperbaiki gedung sekolah. Selain menghadirkan ruang belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa, program ini juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
Skema swakelola yang diterapkan pemerintah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengelola proses pembangunan sesuai kebutuhan masing-masing. Cara ini dinilai lebih efektif karena melibatkan masyarakat sekitar, mulai dari pekerja bangunan hingga penyedia kebutuhan proyek.
Salah satu sekolah yang merasakan manfaat tersebut adalah SMP Negeri 9 Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sekolah yang berdiri sejak 1990 itu menerima bantuan revitalisasi sebesar Rp2,6 miliar.
Dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi delapan ruang kelas lengkap dengan mebel, memperbaiki ruang administrasi, ruang komputer, membangun tiga paket toilet baru, serta merehabilitasi satu paket toilet yang sudah ada.
Kepala SMP Negeri 9 Pangkalpinang, Ahmat Yamani, mengatakan seluruh proses pembangunan dilakukan melalui Tim Pembangunan Persiapan Satuan Pendidikan (P2SP) yang melibatkan unsur sekolah dan masyarakat.
"Kami membentuk tim P2SP yang melibatkan masyarakat sekitar untuk ketua, keamanan, hingga pelaksana teknis, serta didukung tim perencanaan yang memiliki keahlian di bidangnya. Alhamdulillah dengan adanya kegiatan revitalisasi ini membantu juga untuk perekonomian masyarakat sekitar," ujar Ahmat seperti dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Jumat (3/7/2026).
Menurut Ahmat, keterlibatan warga sekitar membuat manfaat program tidak hanya dirasakan sekolah, tetapi juga keluarga-keluarga yang memperoleh tambahan penghasilan dari proyek pembangunan tersebut.
Dampak serupa juga dirasakan SLB Negeri Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi senilai Rp1,43 miliar yang dimanfaatkan untuk membangun enam ruang kelas baru, merehabilitasi tiga ruang kelas, aula, hingga memperbaiki asrama yang sebelumnya kerap bocor saat musim hujan.
Kepala SLB Negeri Koba, Musdiyanto, mengatakan pembangunan juga melibatkan komite sekolah dan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja.
"Program ini sangat berdampak pada perekonomian warga sekitar yang terlibat menjadi tukang karena mereka bisa bekerja dan memperoleh pendapatan dari proyek pembangunan sekolah ini," katanya.
Selain memberikan manfaat ekonomi, revitalisasi juga mengatasi persoalan keterbatasan ruang belajar. Sebelum mendapatkan bantuan, sejumlah ruangan seperti musala, ruang tata boga, hingga kantor guru terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas.
"Kami merasa sangat terbantu. Anak-anak dan guru sekarang mempunyai ruang masing-masing sehingga pembelajaran lebih fokus dan nyaman," tambah Musdiyanto.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan TK Ayyas Kids Centre. Sekolah ini memperoleh bantuan pembangunan ruang kelas baru lengkap dengan perabot, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), serta toilet dan fasilitas sanitasi.
Sebelum revitalisasi dilakukan, keterbatasan ruang membuat sebagian siswa harus belajar bergantian di teras maupun gazebo sekolah.
Kepala TK Ayyas Kids Centre, Santi, mengatakan pembangunan berlangsung selama empat bulan dengan melibatkan 13 pekerja yang seluruhnya berasal dari lingkungan sekitar sekolah.
"Swakelola membuat kami bisa menyesuaikan pembangunan dengan kebutuhan sekolah. Anak-anak sangat senang, bahkan jumlah peminat yang mendaftar ke sekolah kami juga meningkat," ungkapnya.
Menurut Santi, kondisi sekolah yang semakin baik turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan pendidikan yang diberikan.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan fasilitas pendidikan yang aman, layak, dan berkualitas bagi seluruh peserta didik.
"Kita semua memiliki pandangan yang sama bahwa kualitas pendidikan juga ditentukan oleh sarana dan prasarana yang baik dan mendukung," kata Abdul Mu'ti.
Abdul Mu'ti menjelaskan, pemerintah sengaja memilih mekanisme swakelola karena memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk menentukan prioritas pembangunan sesuai kondisi di lapangan. Di sisi lain, model ini juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dengan melibatkan tenaga kerja lokal dan memanfaatkan sumber daya dari daerah setempat, program revitalisasi sekolah tidak hanya mempercepat pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga menjadi stimulus bagi perekonomian lokal. Kehadiran proyek-proyek tersebut ikut meningkatkan pendapatan warga, termasuk pelaku usaha kecil seperti warung makan dan toko material yang berada di sekitar lokasi pembangunan.
Melalui pendekatan tersebut, revitalisasi sekolah diharapkan tidak hanya melahirkan lingkungan belajar yang lebih berkualitas, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
(Sumber: Kemendikdasmen)
