Sering Betah di Rumah dan Malas Keluar? Penelitian Ungkap Alasan Psikologis yang Jarang Disadari

Tidak semua orang menikmati menghabiskan waktu di luar rumah. Bagi sebagian orang, pulang ke rumah justru menjadi momen yang paling dinantikan setelah menjalani aktivitas seharian. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA – Tidak semua orang menikmati menghabiskan waktu di luar rumah. Bagi sebagian orang, pulang ke rumah justru menjadi momen yang paling dinantikan setelah menjalani aktivitas seharian. 

Membaca buku, menonton film, bercengkerama bersama keluarga, atau sekadar menikmati ketenangan seorang diri mampu memberikan rasa nyaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Ternyata, seperti dikutip dari The Economic Times, Minggu (5/7/2026), kebiasaan lebih senang berada di rumah bukan sekadar dipengaruhi oleh sifat introvert atau kebiasaan hidup seseorang. Sejumlah penelitian terbaru mengungkap bahwa ada faktor psikologis yang membuat seseorang memiliki ikatan emosional yang begitu kuat dengan tempat tinggalnya.

Temuan tersebut sudah dipublikasikan dalam Journal of Environmental Psychology pada 2024 melalui penelitian berjudul Predicting Home Attachment Through Its Psychological Costs and Benefits yang dipimpin Benjamin R. Meagher dari Departemen Psikologi Hope College.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 650 responden itu mencoba mengungkap alasan mengapa seseorang merasa sangat terikat dengan rumahnya. Hasilnya menunjukkan bahwa pengalaman yang dirasakan di dalam rumah memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan karakter atau kepribadian seseorang.

Salah satu faktor yang paling dominan adalah kemampuan rumah memberikan pemulihan emosional setelah menjalani tekanan aktivitas sehari-hari.

Dalam studi tersebut, sebanyak 86,7 persen responden menyebut rumah sebagai tempat terbaik untuk mengembalikan energi mental sekaligus meredakan stres. Perasaan kembali tenang dan segar setelah berada di rumah menjadi alasan utama mengapa mereka lebih memilih menghabiskan waktu di sana.

Selain menjadi tempat beristirahat, rumah juga dianggap mampu menghadirkan rasa aman, privasi, serta kebebasan untuk melakukan berbagai aktivitas tanpa tekanan dari lingkungan luar.

Peneliti menemukan bahwa kombinasi berbagai pengalaman positif tersebut membentuk ikatan emosional yang kuat antara seseorang dengan rumahnya.

Rumah tak Sekadar Tempat Tinggal

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa luas bangunan atau desain interior bukan faktor utama yang menentukan seseorang betah di rumah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional penghuninya.

Pada tahap penelitian berikutnya, para responden diminta memberikan penilaian terhadap kondisi rumah mereka masing-masing. Hasilnya memperlihatkan tiga faktor utama yang paling berpengaruh terhadap munculnya rasa keterikatan dengan rumah, yaitu pemulihan emosional, hubungan sosial yang harmonis, dan tersedianya ruang pribadi yang memadai.

Ketiga faktor tersebut bekerja secara bersamaan dalam menciptakan rasa nyaman yang membuat seseorang ingin terus berada di rumah.

Sebaliknya, responden yang sering mengalami konflik dengan anggota keluarga, memiliki ruang tinggal yang sempit, minim privasi, atau merasa kurang nyaman dengan kebersihan rumah cenderung memiliki ikatan emosional yang lebih rendah terhadap tempat tinggal mereka.

Kondisi tersebut membuat rumah tidak lagi berfungsi sebagai tempat untuk memulihkan diri, melainkan justru menjadi sumber tekanan baru.

Kenyamanan Menjadi Faktor Utama

Para peneliti menyimpulkan bahwa rasa betah di rumah bukan hanya muncul karena seseorang telah lama tinggal di sana. Ikatan emosional terbentuk ketika rumah mampu memberikan rasa aman, ketenangan, hubungan sosial yang positif, dan kesempatan bagi penghuninya untuk memulihkan kondisi fisik maupun mental.

Temuan ini sekaligus menjelaskan mengapa sebagian orang lebih memilih menghabiskan akhir pekan di rumah daripada bepergian. Selama rumah mampu memenuhi kebutuhan emosional tersebut, keinginan untuk tetap berada di dalamnya merupakan respons psikologis yang wajar.

Dengan kata lain, jika merasa lebih bahagia menikmati waktu di rumah dibandingkan harus terus berada di luar, hal itu bukan berarti antisosial atau kurang produktif. Penelitian justru menunjukkan bahwa rumah yang menghadirkan rasa nyaman dan mampu memulihkan kondisi emosional akan menciptakan keterikatan yang kuat bagi penghuninya.

(Sumber: The Economic Times)