164 Ribu Murid Difabel Dapat Akses Pendidikan, Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SLB

Kemendikdasmen mempercepat revitalisasi SLB untuk membuka akses pendidikan berkualitas bagi 164 ribu murid difabel.

Mewakili Gubernur DIY, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi, mengikuti penandatanganan kesepakatan bersama revitalisasi Sekolah Luar Biasa (SLB) 2026 sekaligus peresmian sekolah hasil revitalisasi 2025 di SLB Tunas Bakti, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (12/8/2026).

Mewakili Gubernur DIY, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi, mengikuti penandatanganan kesepakatan bersama revitalisasi Sekolah Luar Biasa (SLB) 2026 sekaligus peresmian sekolah hasil revitalisasi 2025 di SLB Tunas Bakti, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (12/8/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, YOGYAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat pemenuhan fasilitas pendidikan khusus untuk memastikan anak berkebutuhan khusus mendapat layanan pendidikan yang layak dan berkualitas.

Langkah tersebut menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menyasar sekolah-sekolah dengan kondisi bangunan maupun sarana pembelajaran yang masih terbatas.

Program itu ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama revitalisasi Sekolah Luar Biasa (SLB) 2026 sekaligus peresmian sekolah hasil revitalisasi 2025 di SLB Tunas Bakti, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (12/8/2026).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pemerintah menempatkan pendidikan khusus sebagai bagian penting dalam pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh warga negara.

Pada 2026, Kemendikdasmen menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 114 SLB yang melayani 164.294 murid difabel masuk dalam skema prioritas.

“Layanan pendidikan untuk SLB dan sekolah inklusi adalah komitmen kami dalam menjalankan amanah Pasal 5 Ayat (2) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Di mana setiap warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, maupun intelektual berhak mendapatkan pendidikan khusus,” kata Abdul Mu’ti di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, pemerintah tidak hanya memperbaiki bangunan sekolah. Kemendikdasmen juga memperkuat fasilitas pembelajaran dengan Interactive Flat Panel (IFP) serta meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan pendampingan pendidikan inklusif.

Tahun ini, setiap sekolah mendapat tambahan tiga unit IFP. Selain itu, lebih dari 1.500 guru pendidikan inklusif mengikuti pelatihan untuk memperkuat kualitas pendampingan dan proses belajar mengajar.

Abdul Mu’ti menyebut anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang harus mendapat ruang untuk berkembang. “Anak-anak ini kami sebut sebagai differently abled, yaitu mereka berbeda, tetapi memiliki potensi luar biasa yang wajib kita fasilitasi secara bermakna,” ujarnya.

Di SLB Tunas Bakti, revitalisasi menjawab sejumlah persoalan yang sebelumnya mengganggu kenyamanan belajar. Sekolah yang melayani 83 murid dari empat kecamatan itu memiliki 14 guru dan satu kepala sekolah.

Sebelum mendapat revitalisasi, beberapa ruang kelas mengalami kebocoran saat hujan. Kondisi dinding juga membutuhkan pembenahan, sementara sekolah belum memiliki ruang praktikum keterampilan yang memadai.

Program revitalisasi kini mencakup rehabilitasi total enam ruang kelas, pembangunan ruang keterampilan tata boga beserta fasilitas pendukung, pembenahan area aktivitas luar ruang, serta pengecatan seluruh gedung sekolah.

Mewakili Gubernur DIY, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY Raden Suci Rohmadi mengatakan pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah bagi murid berkebutuhan khusus.

“Langkah ini dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah disabilitas, higienis, dan adaptif terhadap kebutuhan tumbuh kembang peserta didik,” ujar Raden.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto turut mengapresiasi percepatan revitalisasi tersebut. Menurutnya, pembenahan SLB tidak sebatas memperbaiki bangunan, tetapi juga menyiapkan masa depan peserta didik.

“Perbaikan fasilitas SLB bukan sekadar perbaikan bangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang mandiri dan berdaya saing,” ujar Siti.

Kepala SLB Tunas Bakti Amrih Handayani menyambut revitalisasi tersebut sebagai titik balik bagi sekolah. Fasilitas yang lebih baik diharapkan membuat guru dan murid semakin nyaman dalam menjalankan kegiatan belajar sekaligus mengembangkan bakat.

Kemendikdasmen mencatat program revitalisasi pada 2025 telah menjangkau empat SLB di DIY. Sementara pada 2026, program tersebut menyasar SLB Tunas Bakti, SLB Pamardi Putra, dan SLB Bina Anggita.

Secara nasional, hingga Juli 2026, revitalisasi telah menjangkau 1.609 satuan pendidikan dengan total bantuan Rp2,02 triliun. Program tersebut mencakup 48 PKBM, 44 SKB, 264 SLB, dan 1.253 SMK.

Di DIY, program revitalisasi 2025 menjangkau 46 satuan pendidikan dengan total bantuan Rp71,3 miliar yang tersebar di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta.

(Sumber: Kemendikdasmen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *