Kisah Karateka Motobu Chōki vs Gichin Funakoshi:
Kisah Karateka Motobu Chōki vs Gichin Funakoshi:. (Foto: Youtube Dojo Alpha).
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID– Sejarah karate tidak hanya berisi kisah tentang disiplin, pengendalian diri, dan pembentukan karakter. Di balik perkembangan seni bela diri ini, terdapat pula persaingan, perbedaan pandangan, dan konflik antar-maestro.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah hubungan antara Motobu Chōki (1870–1944) dan Gichin Funakoshi (1868–1957). Keduanya sama-sama berasal dari Okinawa, tetapi memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai bagaimana karate seharusnya dilatih dan digunakan.
Motobu dikenal karena kemampuannya dalam pertarungan praktis, sementara Funakoshi menjadi tokoh utama dalam penyebaran karate ke Jepang daratan dan kemudian dikenal sebagai pendiri aliran Shotokan.
Salah satu cerita paling populer bahkan menyebutkan bahwa keduanya pernah berhadapan dalam sebuah uji tanding di Tokyo.
Namun, kisah tersebut memiliki beberapa versi berbeda, sehingga detail kejadiannya perlu dipandang sebagai tradisi sejarah karate, bukan fakta yang seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Dua Tokoh dengan Pendekatan yang Berbeda
Motobu Chōki memiliki reputasi sebagai petarung yang sangat mengutamakan efektivitas teknik dalam situasi nyata. Ia dikenal karena pendekatannya yang praktis terhadap kumite dan aplikasi teknik.
Baginya, teknik bela diri harus mampu bekerja ketika benar-benar menghadapi lawan.
Sementara itu, Gichin Funakoshi mengambil pendekatan yang berbeda. Ia berperan besar dalam memperkenalkan karate Okinawa ke Jepang daratan dan menekankan latihan, pendidikan karakter, disiplin, serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam karate.
Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu perselisihan paling terkenal dalam sejarah karate.
Pertemuan yang Berakhir dengan Kote-gaeshi?
Salah satu versi cerita berasal dari kesaksian Motobu sendiri yang kemudian dicatat dalam karya Ryukyu Kenpo Karate-jutsu Tatsujin Motobu Choki Seiden karya Nakata Mizuhiko.
Menurut versi tersebut, ketika Motobu datang ke Tokyo, ia mengetahui bahwa Funakoshi—sesama orang Okinawa—sedang mengajarkan karate.
Motobu kemudian mendatangi tempat Funakoshi mengajar.
Dalam kisah yang dituturkan Motobu, ia mendekati Funakoshi, mengambil posisi kake-kumite, dan menantangnya untuk menunjukkan apa yang akan dilakukan.
Motobu kemudian menggambarkan Funakoshi sebagai orang yang ragu-ragu. Alih-alih memukulnya, Motobu mengaku menggunakan teknik kote-gaeshi, sebuah teknik kuncian dan lemparan pergelangan tangan, hingga Funakoshi terjatuh.
Dalam versi cerita tersebut, Funakoshi kemudian meminta pertarungan diulang.
Motobu kembali melakukan teknik yang sama.
Bahkan, menurut kesaksian tersebut, kejadian itu berlangsung hingga tiga kali.
Namun, terdapat versi lain mengenai pertemuan keduanya.
Versi Lain tentang Pertikaian Mereka
Dalam kesaksian yang dikaitkan dengan Konishi Yasuhiro, pertemuan tersebut diceritakan secara berbeda.
Motobu dan Funakoshi disebut sedang membahas bagaimana menghadapi berbagai serangan. Motobu kemudian meminta Funakoshi memperagakan cara menangkis sebuah pukulan.
Ketika Funakoshi melakukan tangkisan, Motobu dikisahkan meraih tangannya dan melemparkannya sejauh beberapa meter.
Konishi sendiri dikatakan tidak dapat memastikan apakah cerita tersebut benar-benar terjadi.
Perbedaan versi ini menunjukkan bahwa kisah Motobu dan Funakoshi kemungkinan telah mengalami berbagai perubahan ketika diwariskan dari satu generasi praktisi karate ke generasi berikutnya.
Karena itu, menarik untuk membahasnya sebagai bagian dari folklor dan sejarah lisan karate, bukan sekadar pertandingan yang dapat dipastikan hasilnya.
Motobu Sangat Kritis terhadap Karate Funakoshi
Terlepas dari detail pertarungan tersebut, Motobu memang dikenal memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap pendekatan karate yang berkembang di Jepang.
Ia sangat menekankan efektivitas teknik dalam pertarungan.
Salah satu ungkapan yang sering dikaitkan dengannya menggambarkan karate Funakoshi seperti shamisen—alat musik tradisional Okinawa yang memiliki tiga senar: indah didengar, tetapi dianggap tidak memiliki isi ketika diterapkan dalam pertarungan.
Kritik tersebut menggambarkan perbedaan filosofis yang cukup jelas.
Bagi Motobu, karate tidak cukup hanya terlihat bagus ketika diperagakan.
Teknik harus mampu bertahan ketika berhadapan dengan lawan yang benar-benar menyerang.
Persaingan yang Lebih dari Sekadar Teknik
Perselisihan Motobu dan Funakoshi sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan siapa yang lebih kuat.
Ada perbedaan latar belakang dan visi mengenai masa depan karate.
Funakoshi berhasil membawa karate ke lingkungan pendidikan dan bela diri Jepang daratan. Ia mengembangkan pendekatan yang lebih terstruktur dan menempatkan karate sebagai sarana pembentukan karakter.
Motobu memiliki reputasi yang jauh lebih dekat dengan budaya pertarungan jalanan dan pengujian kemampuan secara langsung.
Karena itu, keduanya mewakili dua cara berbeda dalam memahami seni bela diri:
Karate sebagai metode pendidikan dan pembentukan karakter, serta karate sebagai sistem pertarungan yang harus terbukti dalam kondisi nyata.
Kedua pendekatan tersebut kemudian ikut membentuk perkembangan karate modern.
Motobu Bahkan Mengejek Tingkat Dan Funakoshi
Salah satu cerita lain yang sering muncul dalam kisah mengenai rivalitas keduanya berkaitan dengan peringkat dan.
Ketika mendengar Funakoshi memperoleh tingkat sabuk hitam tinggi pada masa ketika sistem peringkat tersebut masih relatif baru, Motobu konon melontarkan komentar bernada sinis mengenai peringkatnya sendiri.
Jika Funakoshi sudah mendapatkan tingkat tersebut, Motobu secara bercanda mempertanyakan apakah dirinya seharusnya berada di tingkat yang jauh lebih tinggi.
Kisah semacam ini semakin memperkuat gambaran Motobu sebagai sosok yang tidak terlalu menghargai status formal dibandingkan kemampuan bertarung.
Funakoshi Juga Tidak Menyukai Motobu?
Hubungan tersebut tampaknya tidak sepihak.
Dalam sejumlah kisah yang beredar, Funakoshi disebut memiliki pandangan negatif terhadap Motobu.
Motobu dikenal memiliki kepribadian yang keras dan tidak terlalu peduli terhadap norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat Jepang.
Funakoshi, sebaliknya, sangat memperhatikan etiket, disiplin, serta citra karate sebagai seni bela diri yang memiliki nilai moral.
Perbedaan kepribadian tersebut membuat hubungan mereka semakin sulit.
Jika Motobu menganggap kemampuan bertarung sebagai ukuran utama seorang ahli bela diri, Funakoshi lebih menekankan bahwa seorang praktisi karate juga harus menunjukkan perilaku yang baik.
Siapa yang Sebenarnya “Benar”?
Menurut Jesse Enkamp dalam, karatebyjesse.com, pertanyaan tersebut sebenarnya sulit dijawab.
Jika ukurannya adalah pertarungan praktis, pendekatan Motobu tentu sangat menarik.
Jika karate ingin berkembang menjadi sistem pendidikan yang dapat diajarkan kepada masyarakat luas, pendekatan Funakoshi memiliki keunggulan tersendiri.
Ironisnya, karate modern kemungkinan membutuhkan keduanya.
Tanpa pendekatan praktis, karate berisiko menjadi sekadar rangkaian gerakan yang indah tetapi kehilangan fungsi bela dirinya.
Namun tanpa struktur, disiplin, dan filosofi, karate juga dapat berubah menjadi sekadar metode bertarung tanpa landasan pendidikan.
Para Maestro Tetaplah Manusia
Kisah Motobu dan Funakoshi memberikan gambaran menarik bahwa para pendiri dan maestro seni bela diri bukanlah tokoh sempurna yang selalu bertindak sesuai prinsip luhur yang mereka ajarkan.
Mereka tetap manusia dengan ego, perbedaan pendapat, persaingan, dan bahkan konflik pribadi.
Justru karena itulah kisah tersebut menarik.
Di satu sisi, Funakoshi mengajarkan bahwa tujuan karate tidak berhenti pada kemampuan fisik, tetapi juga pembentukan karakter.
Di sisi lain, Motobu mengingatkan bahwa seni bela diri tetap harus memiliki hubungan dengan kenyataan pertarungan.
Pada akhirnya, persaingan mereka mungkin tidak perlu dilihat sebagai pertanyaan tentang siapa yang paling hebat.
Motobu dan Funakoshi membawa dua wajah karate yang berbeda.
Yang satu menuntut agar teknik terbukti dalam pertarungan.
Yang lainnya berusaha memastikan karate dapat bertahan sebagai jalan pendidikan dan pengembangan diri.
Dan mungkin, pelajaran terbesar dari kisah mereka justru sederhana: bahkan para legenda bela diri pun memiliki kekurangan.
Karena seorang guru besar tetaplah manusia.
(Sumber:karatebyjesse.com).
