Kualitas Udara Kalteng Memburuk, 2.052 Warga Terserang ISPA akibat Karhutla
Enam wilayah di Kalimantan Tengah masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif di tengah 645 titik panas yang terdeteksi hingga 11 Agustus 2026.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng buat masyarakat terserang ISPA efek kualitas udara yang buruk. (Foto: tangkapan layar youtube)
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,PALANGKA RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai berdampak serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng mencatat kualitas udara di enam wilayah masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Sementara itu, Katingan dan Barito Selatan sudah berada pada kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut terjadi ketika jumlah titik panas atau hotspot di Kalteng terus meningkat. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Selasa, 11 Agustus 2026, tercatat 645 hotspot di wilayah Kalteng.
Data tersebut disampaikan Pemerintah Provinsi Kalteng melalui laporan penanganan karhutla terbaru. Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 189 titik, disusul Kabupaten Kapuas sebanyak 114 titik.
2.052 Kasus ISPA dalam Lima Hari
Dampak penurunan kualitas udara juga mulai terlihat dari sisi kesehatan. Pemerintah Provinsi Kalteng mencatat 2.052 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 7-11 Agustus 2026 di 14 kabupaten/kota.
Pada 11 Agustus saja tercatat 600 kasus baru. Dari jumlah tersebut, sembilan pasien harus menjalani rawat inap. Kasus ISPA tertinggi pada hari tersebut tercatat di Kota Palangka Raya dengan 115 kasus dan Kabupaten Kotawaringin Barat sebanyak 111 kasus.
Jumlah kasus tersebut meningkat sekitar 39,2 persen dibandingkan kondisi pada 7 Agustus 2026. Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan data ISPA tetap perlu divalidasi karena penyakit tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor dan tidak seluruhnya disebabkan oleh paparan asap karhutla.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng bersama dinas kesehatan kabupaten dan kota terus melakukan pemantauan kasus, pelayanan kesehatan, edukasi masyarakat, pembagian masker, hingga pemantauan kondisi kesehatan petugas di lapangan.
Pemerintah juga menyalurkan masker dan oxygen portable untuk mendukung penanganan dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Asap Mulai Ganggu Jarak Pandang
Selain berdampak pada kualitas udara, asap karhutla mulai memengaruhi jarak pandang di sejumlah daerah. Berdasarkan informasi BMKG, pergerakan asap terpantau menuju arah barat laut. Kondisi berkabut asap mulai terlihat di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 5-7 kilometer.
Sementara itu, kondisi di Palangka Raya, Pangkalan Bun, dan Sampit masih relatif cerah dengan jarak pandang sekitar 9-10 kilometer. Di sisi lain, Kotawaringin Barat tercatat memiliki kualitas udara yang relatif baik dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 21.
Namun, pemantauan kualitas udara di sejumlah wilayah masih menghadapi kendala. Sistem pemantauan di Sukamara belum tersedia, alat Air Quality Monitoring System (AQMS) di Pulang Pisau mengalami kerusakan, sedangkan AQMS di Kapuas masih dalam tahap persiapan operasional.
Karhutla Masih Terjadi di Sejumlah Daerah
Penanganan kebakaran terus dilakukan oleh tim gabungan yang melibatkan BPBPK, BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemadam kebakaran, relawan, serta unsur terkait lainnya.
Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli pencegahan, serta pemantauan dari jalur darat dan udara.
Pemerintah Provinsi Kalteng juga memperkuat operasi udara
Pemantauan dilakukan terhadap ratusan hotspot dan patroli udara menyasar titik-titik yang dianggap rawan. Selain itu, operasi water bombing dilakukan di Sebangau Kuala dan Petuk Katimpun. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan di Kotawaringin Timur dengan penyemaian 1.000 kilogram garam untuk mendukung upaya pengendalian karhutla.
Berdasarkan rekapitulasi periode 10-11 Agustus 2026, tercatat 55 kejadian karhutla dengan luas mencapai 99,481 hektare. Data tersebut masih terus diperbarui berdasarkan laporan dan verifikasi lapangan.
Risiko Karhutla Masih Tinggi
Pemerintah Provinsi Kalteng mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan masih relatif kering. Potensi hujan pada periode 11-18 Agustus 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sedang.
Pemantauan digital juga diperkuat dengan 28 kamera yang ditempatkan di 12 titik pada empat kabupaten. Hingga 11 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB, terpantau tiga titik kepulan asap di wilayah Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan penanganan karhutla terus dilakukan melalui pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli, serta pemantauan intensif melalui jalur darat dan udara.
Masyarakat, khususnya kelompok yang sensitif terhadap polusi udara, diminta meningkatkan kewaspadaan dan memantau perkembangan kualitas udara. Warga juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Pemerintah mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Situasi karhutla Kalteng saat ini menjadi perhatian karena pemerintah menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni mengendalikan ratusan titik panas dan mencegah memburuknya kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
(berbagai sumber)
