Mengapa Anak Elon Musk hingga Jeff Bezos Belajar Bahasa Mandarin? Ternyata Ini Alasannya
| Miliarder Elon Musk dan anaknya pada tahun 2021 silam. (Foto: Getty Images for TIME/Theo Wargo) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — Bahasa Mandarin semakin diminati di berbagai belahan dunia. Bahkan, anak-anak dari sejumlah tokoh paling berpengaruh di dunia, seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, hingga keluarga Kerajaan Inggris, diketahui mempelajari bahasa yang digunakan lebih dari satu miliar penduduk tersebut.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan, apakah belajar bahasa Mandarin kini telah menjadi tren global?
Pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, pernah mengungkapkan melalui akun media sosial X bahwa putranya sedang belajar bahasa Mandarin.
“æˆ‘çš„å„¿åæ£åœ¨å¦ä¹ 普通è¯,” tulis Musk, yang berarti “Anak laki-laki saya sedang belajar bahasa Mandarin.”
Selain keluarga Musk, anak pendiri Amazon Jeff Bezos, anak CEO Meta Mark Zuckerberg, hingga Pangeran George, putra sulung Pangeran William dan Putri Kate, juga dilaporkan mempelajari bahasa Mandarin di sekolah.
Peluang Ekonomi Jadi Daya Tarik
Profesor Studi China sekaligus Direktur Lau China Institute King’s College London, Kerry Brown, menilai meningkatnya minat mempelajari bahasa Mandarin tidak terlepas dari posisi China sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.
Menurut Brown, banyak tokoh dunia memandang hubungan ekonomi dengan China akan semakin penting pada masa mendatang.
“Ini kepentingan praktis pribadi, dan pengakuan bahwa China akan menjadi mitra teknologi dan ekonomi sangat penting di masa depan,” ujar Brown.
Brown menjelaskan, kemampuan berbahasa Mandarin dapat menjadi nilai tambah bagi generasi muda yang kelak akan terlibat dalam dunia bisnis, investasi, hingga teknologi global.
Bahasa Mandarin Juga Bernilai Diplomatik
Tak hanya untuk kepentingan ekonomi, bahasa Mandarin juga dinilai memiliki nilai strategis dalam hubungan diplomatik.
Brown mencontohkan momen ketika cucu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Arabella Kushner, menyanyikan lagu berbahasa Mandarin di hadapan Presiden China Xi Jinping saat kunjungan kenegaraan pada 2017.
“Itu adalah diplomasi yang baik,” kata Brown.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa asing, khususnya Mandarin, dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarnegara.
Tren Belajar Mandarin Makin Meluas
Fenomena belajar bahasa Mandarin tidak hanya terjadi di kalangan keluarga miliarder.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pernah mengungkapkan bahwa putrinya bahkan mampu berbicara bahasa Mandarin sebelum fasih berbahasa Rusia karena diasuh oleh pengasuh asal China.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut lebih dari 100.000 warga Rusia sedang mempelajari bahasa Mandarin. Sekitar 20.000 di antaranya belajar langsung di China.
Di Timur Tengah, Arab Saudi sejak 2023 bahkan mewajibkan bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran di SMP negeri dan swasta. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bagian dari penguatan hubungan strategis dengan China di bidang ekonomi, pendidikan, dan teknologi.
Pasar Pendidikan Mandarin Terus Tumbuh
Data HolonIQ by Quacquarelli Symonds (QS) pada 2023 menunjukkan terdapat lebih dari 6 juta orang di dunia yang sedang mempelajari bahasa Mandarin. Nilai pasar pendidikan bahasa Mandarin diperkirakan mencapai sekitar 7,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp133 triliun.
Lembaga tersebut juga memproyeksikan pasar pembelajaran bahasa Mandarin akan tumbuh hingga 100 persen dalam lima tahun.
Peningkatan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pesatnya perkembangan ekonomi dan teknologi China hingga kekayaan budaya, sejarah, sastra, perfilman, serta kulinernya yang semakin dikenal dunia.
Indonesia Ikut Rasakan Dampaknya
Di Indonesia, minat terhadap bahasa Mandarin juga terus berkembang. Sejumlah sekolah telah menyediakan mata pelajaran pilihan bahasa Mandarin, sementara lembaga kursus bahasa semakin banyak menawarkan kelas bagi pelajar maupun masyarakat umum.
Hubungan pendidikan Indonesia dan China juga semakin erat. Pada 2024, Kedutaan Besar China bersama Masjid Istiqlal meresmikan China Space at Istiqlal yang menjadi pusat pertukaran budaya dan pendidikan.
Di lokasi tersebut, pengunjung dapat mempelajari bahasa Mandarin, mengenal seni tradisional China, hingga melihat berbagai inovasi teknologi seperti miniatur kereta cepat, satelit, dan model kapal.
Melihat perkembangan tersebut, kemampuan berbahasa Mandarin kini tidak lagi dipandang sekadar keterampilan berbahasa asing, tetapi juga menjadi bekal penting untuk menghadapi persaingan global di bidang pendidikan, bisnis, teknologi, dan hubungan internasional.
(Berbagai Sumber/Xinhua)
