Patungan IBC dan CATL, Pabrik Baterai EV Raksasa di Karawang Siap Beroperasi
Presiden RI akan segera meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik kedua di Indonesia yang dikelola PT CATIB, hasil kerja sama IBC dan raksasa baterai asal China, CATL.
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID,JAKARTA – Indonesia akan segera memiliki pabrik baterai kendaraan listrik (EV) berskala besar kedua yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Fasilitas produksi yang dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ini telah rampung dibangun dan kini hanya tinggal menunggu jadwal peresmian dari Presiden RI Prabowo Subianto.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa seluruh pembangunan pabrik tersebut telah selesai dan siap dioperasikan. “Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pemilik dan Pengelola Pabrik PT CATIB merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, yang merupakan anak usaha dari raksasa produsen baterai asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Konsorsium ini melibatkan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL).
Adapun struktur kepemilikan saham terdiri dari 70 persen saham dikuasai CBL dan 30 persen sisanya oleh PT IBC.
Kapasitas Produksi dan Target Ekspansi
Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyampaikan bahwa kapasitas produksi tahap pertama pabrik baterai ini mencapai 6,9 Gigawatt hour (GWh). Pabrik yang mulai dibangun pada Juni 2025 ini diproyeksikan akan segera melakukan ekspansi hingga kapasitas minimal 15 GWh. “Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik, itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik,” jelas Aditya.
Jaminan Pasar dan Hilirisasi Nikel
Aditya memastikan bahwa pabrik tidak akan kesulitan mencari pembeli karena konsep industri baterai dibangun berdasarkan permintaan yang telah ada. “Buyer sudah siap sehingga nanti ketika siap untuk komersial, kita sudah langsung berproduksi secara komersial. Saat ini trial production juga sudah berjalan,” ungkapnya.
Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa rampungnya pabrik ini menjadi bukti nyata program hilirisasi nikel yang digalakkan pemerintah. Indonesia kini telah memiliki dua pabrik baterai EV, setelah sebelumnya pabrik milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power beroperasi pada Juli 2024.
“Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi, satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM. Ini yang disebut dengan hilirisasi,” tegas Bahlil.
Rencana Pengembangan Ke Depan
Pabrik yang terletak di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC) ini menargetkan penyerapan sekitar 3.000 tenaga kerja serta memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MWh untuk mendukung operasional ramah lingkungan.
Dengan beroperasinya pabrik ini, Indonesia semakin mantap melangkah sebagai pemain kunci dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik global, sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri.
( berbagai sumber)
