Timo Puji Mental Tangguh Timnas Putri U-16 Indonesia meski Gagal Juara
Pelatih Timnas U-16 Putri Indonesia Timo Scheunemann. (Foto: Tangkapan layar Antara)
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID, KUDUS — Tim nasional (Timnas) U-16 putri Indonesia harus mengakhiri perjalanan di Srikandi Merdeka Cup 2026 sebagai runner-up setelah kalah tipis 0-1 dari Thailand pada laga final di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (23/8/2026) malam WIB.
Meski gagal mengangkat trofi, pelatih Timnas U-16 putri Indonesia Timo Scheunemann tetap memberikan apresiasi tinggi kepada para pemain. Ia menilai Keysa Arabela Manisya dan kawan-kawan telah menunjukkan mental bertanding yang kuat sepanjang turnamen.
Timo menyoroti perjuangan para pemain yang harus menjalani lima pertandingan dalam waktu hanya 10 hari. Menurut dia, beban tersebut tidak mudah, terlebih para pemain masih berada pada rentang usia 14 hingga 16 tahun.
“Mereka bisa berjuang, main lima kali dalam sepuluh hari itu kan, untuk pemain profesional saja susah banget. Apalagi umur cewek 14, 15, 16 tahun,” kata Timo dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Timo menilai para pemain mampu memperlihatkan semangat pantang menyerah hingga pertandingan terakhir.
“Butuh mental yang luar biasa, butuh jiwa pejuang. Dan itu mereka tunjukkan hari ini juga lawan Thailand. Jadi walaupun capek, mereka berjuang, mereka sudah kasih seratus persen,” ujar Timo.
Thailand Unggul dari Bola Mati
Pada pertandingan final, Indonesia berusaha mengambil kendali permainan melalui penguasaan bola. Garuda Pertiwi mencoba membangun serangan dari sektor tengah untuk membongkar pertahanan Thailand.
Thailand memilih pendekatan yang lebih sabar. Mereka menunggu momentum dan mengandalkan serangan balik ketika Indonesia kehilangan bola.
Pergerakan trio lini tengah Thailand yang dihuni Nanthiya Meepho, Kanokporn Wanthong, dan Kawinthida Kikuntod membuat Indonesia kesulitan mengembangkan distribusi bola.
Thailand akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-23. Berawal dari situasi bola mati, Kawinthida melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti yang gagal diantisipasi dengan sempurna oleh kiper Indonesia, Alleana Ayu Arumy.
Gol tersebut menjadi satu-satunya pembeda dalam pertandingan. Hingga peluit akhir berbunyi, Indonesia tidak mampu mencetak gol balasan dan harus menerima kekalahan 0-1.
Timo tak Persoalkan Performa Tim
Timo tidak ingin memberikan evaluasi berlebihan terhadap penampilan anak asuhnya di laga final. Ia menilai Thailand memiliki keunggulan dari sisi pengalaman karena tim tersebut sudah lebih lama terbentuk.
Kondisi skuad Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. Pada turnamen yang baru pertama kali digelar tersebut, Indonesia membagi kedalaman pemain menjadi dua tim.
“Kedalaman timnya agak kurang karena memang konsekuensi dari memecah jadi dua tim. Tapi intinya mereka enggak ada yang cedera itu sudah luar biasa,” jelas Timo.
Menurut dia, keberhasilan menyelesaikan turnamen tanpa pemain mengalami cedera menjadi salah satu hal positif yang patut diapresiasi.
Timo Pilih Fokus Bina Pemain Muda
Di luar hasil turnamen, Timo Scheunemann juga menegaskan arah karier kepelatihannya. Pelatih berusia 52 tahun itu mengaku tidak memiliki keinginan untuk menangani Timnas Indonesia senior.
Timo justru ingin tetap berada di jalur pembinaan pemain muda. Ia ingin menjalankan peran sebagai pencari bakat sekaligus membantu mengembangkan pemain hingga mampu menembus level tim nasional.
“Saya inginnya melatih yang muda jadi gatekeeper-lah. Karena itu enggak ada yang kenal pelatih U-17,” kata Timo.
Timo masih membuka kemungkinan menangani kelompok usia U-20, tetapi tidak tertarik melangkah ke level senior. “Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau. Karena saya maunya membina, menciptakan pemain,” ujarnya.
Timo mengatakan dirinya ingin terus terlibat dalam proses melahirkan pemain-pemain baru. Ia menyebut peran tersebut sudah dijalaninya dalam pembinaan sepak bola putra dan kini berlanjut pada sepak bola putri.
“Jiwa saya dan saya sudah lakukan seperti saya sudah pernah bilang, di depan layar ataupun di belakang layar, setiap generasi ada pemain saya yang di timnas cowok, ya sekarang cewek,” kata Timo.
Bagi Timo, menangani kelompok usia memiliki tantangan tersendiri. Pelatih tidak hanya dituntut mempersiapkan tim untuk bertanding, tetapi juga membangun fondasi kemampuan pemain agar mereka siap melangkah ke level yang lebih tinggi.
Karena itu, meski gagal menjadi juara Srikandi Merdeka Cup 2026, Timo melihat perjalanan Timnas U-16 putri Indonesia sebagai bagian penting dari proses pembinaan. Mental bertanding, pengalaman menghadapi lawan kuat, serta kesempatan bermain di turnamen internasional menjadi modal bagi para pemain muda untuk berkembang.
Susunan Pemain
Thailand (4-3-3): Deenara Kordem (PG); Chanthima Yaoue, Sirprapa Lamnamkham, Haruethai Wongpreedasiri, Sataporn Yotsakornthong; Nanthiya Meepho, Kanokporn Wanthong, Kawinthida Kikuntod; Thitirat Samrong, Phonnapat Phapyai, Miricah Shealagh Murdoch.
Indonesia (4-3-3): Alleana Ayu Arumy (PG); Jazlyn Kayla Firyal, Raisa Novita Amalia, Febri Arum, Shifana Rizka Nadhifa; Nafeza Ayasha Nori, Rengganis Wijanarko, Ayla Dva Khala Ahisma; Kesya Arabela Manisya Nian, Anya Gabriella Chandra, Fadilla.
(Berbagai Sumber)
