Anak Krakatau Tumbuh Cepat, PVMBG Ungkap Kondisinya dan Potensi Tsunami
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati memberikan keterangan di Bandung. (Foto: PVMBG)
GEBRAK.ID, BANDUNG — Pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terbilang cepat. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan kondisi tersebut masih dalam batas dinamika normal gunung api muda dan belum menunjukkan ancaman keruntuhan yang dapat memicu tsunami.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati menjelaskan, Anak Krakatau memang terus membentuk tubuhnya melalui aktivitas vulkanik. Proses tersebut merupakan bagian dari perkembangan gunung api muda yang secara alami masih aktif.
“Potensi erupsi masih ada, tetapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau yang merupakan gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya,” kata Rita, Kamis (17/9/2026).
Menurut Rita, cepatnya pertumbuhan Anak Krakatau dipengaruhi sejumlah faktor. Kondisi tektonik regional, sistem magma yang sudah terbuka, karakter magma yang relatif encer, serta frekuensi erupsi yang tinggi membuat material vulkanik lebih cepat keluar dan menumpuk di permukaan.
Badan Geologi sebelumnya mencatat aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat sejak Juli 2026. Gunung api tersebut kemudian mengalami erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4-6 September 2026. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas kembali didominasi erupsi Strombolian. Status Anak Krakatau hingga evaluasi terbaru tetap berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG juga menegaskan bahwa pertumbuhan tubuh gunung saat ini belum mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan. Rita menyebut ketinggian tubuh Anak Krakatau masih sekitar 150 meter dengan kemiringan lereng yang relatif landai.
“Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter dan slope-nya juga masih landai,” ujar Rita.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena Anak Krakatau memiliki sejarah tsunami besar akibat runtuhan tubuh gunung pada 22 Desember 2018. Namun, Badan Geologi menegaskan erupsi Anak Krakatau tidak otomatis menyebabkan tsunami. Ancaman tsunami berkaitan dengan mekanisme tertentu, salah satunya runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut dalam volume besar.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi karena potensi erupsi masih ada. Evaluasi Badan Geologi sebelumnya menyebut bahaya yang perlu diwaspadai dari aktivitas Anak Krakatau antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus. Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
PVMBG memastikan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus berlangsung selama 24 jam untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas vulkanik. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
(Saeful Imam/Sumber: PVMBG)
