Samsung Siapkan Kenaikan Harga Memori Ponsel hingga 10 Persen

samsung memory

Galaxy Exynoss 2200. (Foto ilustrasi: Samsung)

GEBRAK.ID – Harga komponen memori untuk ponsel pintar berpotensi kembali naik. Samsung Electronics dikabarkan tengah menyiapkan kenaikan harga chip DRAM dan NAND sebesar 7 hingga 10 persen kepada sejumlah produsen smartphone.

Rencana tersebut muncul ketika harga memori global masih berada dalam tekanan akibat tingginya permintaan untuk kebutuhan kecerdasan buatan (ASI) dan pusat data. Berdasarkan laporan GSM Arena, Rabu (16/9/2026), Samsung sudah memulai pembicaraan mengenai kenaikan harga dengan sejumlah produsen ponsel asal China.

Samsung juga disebut akan kembali melakukan negosiasi dengan Apple pada kuartal IV 2026 yang berlangsung sekitar Oktober hingga Desember. Kenaikan harga tersebut tidak hanya berpotensi berdampak pada produsen lain, tetapi juga lini smartphone Samsung sendiri.

Hal itu terjadi karena bisnis chip dan perangkat Samsung berada dalam unit yang terpisah. Dengan demikian, divisi smartphone Samsung tetap menghadapi biaya komponen memori berdasarkan harga yang ditetapkan oleh divisi semikonduktornya.

Apple menjadi salah satu perusahaan yang memiliki posisi tawar besar dalam pembelian memori. Berdasarkan perkiraan analis yang dikutip GSM Arena, kebutuhan NAND Apple untuk iPhone mencapai sekitar dua kali lipat dibandingkan Samsung dan tiga kali lipat dibandingkan Xiaomi.

Di sisi lain, Samsung, SK Hynix, dan Micron kini mengalokasikan lebih banyak kapasitas produksi untuk jenis memori yang memberikan margin lebih tinggi, termasuk High Bandwidth Memory atau HBM dan DRAM untuk kebutuhan server.

Peralihan kapasitas tersebut ikut menekan pasokan memori yang banyak digunakan dalam smartphone, termasuk LPDDR.

Omdia sebelumnya mencatat lonjakan harga DRAM dan NAND telah meningkatkan tekanan terhadap biaya produksi ponsel. Pada kuartal pertama 2026, harga kedua jenis memori tersebut meningkat lebih dari 80 persen secara kuartalan. Omdia juga memperkirakan biaya memori akan tetap tinggi dan baru memasuki fase stabilisasi pada paruh kedua 2027.

Dampaknya mulai terasa pada strategi produsen smartphone. Omdia mencatat kenaikan biaya memori membuat sejumlah vendor menahan peningkatan kapasitas RAM dan penyimpanan pada ponsel kelas bawah dan menengah. Beberapa model bahkan mempertahankan kapasitas memori generasi sebelumnya untuk menekan biaya produksi.

Tekanan biaya tersebut berpotensi membuat produsen harus memilih antara mempertahankan harga jual dengan margin keuntungan yang lebih tipis atau menaikkan harga perangkat.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi pasar smartphone karena biaya memori merupakan bagian penting dari biaya produksi perangkat. Jika harga komponen terus meningkat, konsumen berpotensi menghadapi harga ponsel yang lebih tinggi atau mendapatkan konfigurasi RAM dan penyimpanan yang lebih rendah pada kelas harga tertentu.

(Devona R/Sumber: GSM Arena/Omdia)