IMF: Risiko Utang Global Bukan Sekadar Besarnya Utang
Ancaman utang menembus 100% PDB pada 2029 terungkap pada laporan Fiscal Monitor April 2026 bertajuk 'Fiscal Policy under Pressure: High Debt, Rising Risks'. (Ilustrasi: IMF/zaky)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat utang publik global telah mencapai hampir 94% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025 dan diproyeksikan menembus 100% PDB pada 2029. Maka itu, IMF memperingatkan pemerintah di berbagai negara agar tidak menunda konsolidasi fiskal di tengah meningkatnya beban utang dan biaya pembiayaan.
IMF menyebut peningkatan utang global terutama didorong oleh negara-negara dengan perekonomian terbesar, khususnya Amerika Serikat (AS) dan China. Pada saat yang sama, meningkatnya beban bunga membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Hal ini terungkap pada laporan Fiscal Monitor April 2026 bertajuk ‘Fiscal Policy under Pressure: High Debt, Rising Risks’.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan pemerintah sebenarnya telah memahami pentingnya konsolidasi fiskal. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya diikuti langkah konkret. “Kami telah memperingatkan bahwa konsolidasi fiskal harus dilakukan. Kami melihat banyak pemahaman, tetapi belum cukup banyak tindakan,” ujar Georgieva dalam Qatar Economic Forum, seperti dikutip Bloomberg News.
Bukan Hanya Masalah Besarnya Utang
IMF menekankan bahwa persoalan utang global tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya utang suatu negara. Risiko juga ditentukan oleh arah pergerakan utang, besarnya defisit, biaya bunga, pertumbuhan ekonomi, serta kemampuan pemerintah memperoleh pembiayaan.
Lembaga tersebut mencatat defisit fiskal global masih berada di sekitar 5% PDB pada 2025. Sementara itu, kenaikan beban bunga menunjukkan bahwa pemerintah menghadapi biaya yang semakin besar untuk mempertahankan dan membiayai kembali utangnya. “Dinamika utang publik global masih kurang menguntungkan. Meskipun peningkatan utang terutama terkonsentrasi di China dan AS, kerentanan tersebut tetap tersebar luas,” sebut IMF dalam Fiscal Monitor edisi April 2026.
Menurut IMF, banyak negara pada berbagai tingkat pendapatan menghadapi kombinasi utang tinggi dan dinamika utang yang kurang menguntungkan. Kondisi tersebut membuat negara lebih rentan terhadap pengetatan kondisi pembiayaan sekaligus mengurangi ruang fiskal untuk menghadapi guncangan ekonomi di masa mendatang.
Bagaimana dengan Asia Tenggara?
Tekanan fiskal juga terlihat di negara-negara Asia Tenggara, meskipun kondisi setiap negara berbeda. IMF menyediakan proyeksi fiskal negara hingga 2031 melalui Fiscal Monitor April 2026, dengan indikator yang mencakup neraca fiskal dan posisi utang pemerintah. Data tersebut merupakan estimasi dan proyeksi staf IMF yang dapat berbeda dari data resmi masing-masing negara.
Indonesia diproyeksikan mempertahankan posisi defisit fiskal dalam beberapa tahun mendatang. Sementara Malaysia dan Filipina diperkirakan melanjutkan proses pengurangan defisit secara bertahap. Thailand juga diproyeksikan mempertahankan defisit pada tingkat yang relatif lebih terbatas, sedangkan Vietnam berada pada posisi fiskal yang relatif lebih sempit dibanding sejumlah negara besar Asia Tenggara lainnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan fiskal di kawasan tidak seragam. Negara dengan defisit lebih besar membutuhkan pembiayaan yang lebih besar untuk menutup kebutuhan anggaran, sedangkan negara dengan posisi fiskal lebih kuat memiliki ruang yang berbeda dalam menghadapi perubahan kondisi pasar keuangan.
Jepang, Korea Selatan, dan Singapura
Di luar Asia Tenggara, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura juga menunjukkan dinamika fiskal yang berbeda. IMF mencatat Jepang menghadapi tantangan tersendiri akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, meskipun dinamika utangnya dalam proyeksi tertentu terbantu oleh pertumbuhan nominal ekonomi dan perubahan posisi primer. Kenaikan imbal hasil tersebut tetap berpotensi memberikan dampak rambatan terhadap negara lain.
Korea Selatan memiliki posisi fiskal yang relatif berbeda dibandingkan AS dan China, dengan defisit yang lebih terbatas dalam proyeksi IMF. Sementara itu, Singapura merupakan salah satu negara dengan posisi fiskal yang berbeda karena mampu mempertahankan surplus pemerintah dalam proyeksi IMF. Namun, tekanan fiskal global tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kebijakan fiskalnya.
Risiko bagi Pasar Keuangan Global
IMF memperingatkan bahwa peningkatan utang dan defisit di negara-negara besar dapat memberikan konsekuensi lebih luas terhadap pasar keuangan internasional. Perubahan kebutuhan pembiayaan negara-negara besar dapat memengaruhi pasar obligasi, kondisi likuiditas, biaya pendanaan, serta aliran modal lintas negara.
Perubahan struktural di pasar utang negara juga dinilai IMF meningkatkan kerentanan terhadap repricing, termasuk meningkatnya peran perantara keuangan nonbank yang memiliki leverage serta berkurangnya premi keamanan pada surat utang pemerintah AS. Bagi negara berkembang, kondisi tersebut penting diperhatikan karena perubahan imbal hasil dan sentimen investor global dapat memengaruhi biaya pembiayaan dan arus modal.
Dengan demikian, peringatan IMF bukan semata-mata mengenai angka utang yang semakin besar. Persoalan utamanya juga menyangkut seberapa cepat utang bertambah, berapa besar defisit yang harus dibiayai setiap tahun, berapa mahal biaya bunga yang harus dibayar pemerintah, serta seberapa besar ruang fiskal yang tersisa ketika terjadi guncangan ekonomi.
IMF menilai konsolidasi fiskal yang kredibel dan dilakukan secara bertahap menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan fiskal, terutama ketika tekanan belanja dan biaya pembiayaan terus meningkat. (*)
(Zaky Al Hamzah)
(Sumber: Bloomberg News, imf.org)
