Puncak HAI ke-60 Ditutup, Kemendikdasmen Minta Gerakan Literasi tak Berhenti di Cilacap
Puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-60 tingkat nasional di Cilacap, Jawa Tengah, resmi ditutup, Jumat (25/9/2026). (Foto ilustrasi: BKHM Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, CILACAP – Puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-60 tingkat nasional di Cilacap, Jawa Tengah, resmi ditutup. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, meminta semangat literasi yang tumbuh selama peringatan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
Pesan itu disampaikan Tatang saat menutup rangkaian HAI ke-60 di Cilacap, Jumat (25/9/2026). Ia mengajak seluruh peserta membawa pengalaman dari kegiatan tersebut ke lingkungan masing-masing dan menjadikannya bagian dari gerakan literasi yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Puncak Hari Aksara Internasional 2026 telah selesai. Bawa pulang semua pengalaman ini, tapi pekerjaan kita belum selesai,” kata Tatang.
Menurut Tatang, tantangan membangun budaya literasi semakin kompleks. Masyarakat kini menghadapi derasnya arus informasi dan penggunaan gawai yang menawarkan beragam hiburan. Kondisi tersebut membuat penguatan budaya membaca dan kemampuan memahami informasi menjadi pekerjaan bersama.
“Kami mengajak seluruh peserta untuk bisa meneruskan semangat literasi agar hidup di tengah masyarakat demi terwujud masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Tatang menegaskan, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Kecakapan tersebut berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi, mengambil keputusan, mengembangkan keterampilan, hingga meningkatkan kualitas kehidupan.
“Buta aksara dapat membelenggu kemandirian hingga rasa percaya diri seseorang, termasuk dalam mengelola keuangan keluarga,” tegas Tatang.
Pandangan tersebut sejalan dengan tema HAI ke-60, “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”. Kemendikdasmen menempatkan literasi dalam cakupan yang lebih luas, termasuk aspek sosial, ekonomi, lingkungan, teknologi digital, serta kecerdasan artifisial.
Tatang juga mengingatkan bahwa pendidikan nonformal merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Layanan seperti pendidikan kesetaraan, keaksaraan, kecakapan hidup, literasi digital, dan pembelajaran berbasis komunitas perlu terus dikembangkan untuk menjawab perubahan kebutuhan masyarakat.
Ruang belajar pun tidak harus selalu berada di sekolah. Tatang mendorong penguatan kegiatan literasi melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), keluarga, desa, dan berbagai komunitas.
“Dari Cilacap kita kuatkan keyakinan bahwa setiap orang dapat belajar, setiap tempat dapat menjadi ruang belajar, dan setiap pihak dapat mengambil bagian dalam gerakan literasi,” ujar Tatang.
Puncak HAI 2026 sendiri melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, PKBM, SKB, TBM, lembaga kursus, organisasi masyarakat, keluarga, komunitas, dunia usaha dan dunia industri hingga pegiat literasi. Rangkaian kegiatan juga diisi talkshow, pameran, aktivitas edukatif, Jumpa Pegiat Literasi, dan apresiasi tokoh inspiratif.
Sebagai penutup, Tatang memberikan piagam penghargaan kepada 17 pihak yang dinilai berkontribusi dalam penguatan gerakan literasi nasional dan penyelenggaraan HAI 2026. Penerima penghargaan berasal dari berbagai unsur, termasuk kepala daerah, organisasi pemerintah, lembaga pendidikan, dan individu.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
