Remaja 22 Tahun Malone Lam Akui Curi Kripto Rp4,2 Triliun, Terancam 20 Tahun Penjara

1789087536346

Warga Singapura berusia 22 tahun itu mengaku sebagai otak jaringan pencurian kripto yang menggunakan teknik rekayasa sosial. (Foto: ist)

GEBRAK.ID,WASHINGTON, D.C. — Warga negara Singapura, Malone Lam, mengaku bersalah di pengadilan federal Amerika Serikat (AS) atas keterlibatannya dalam jaringan kejahatan siber yang mencuri dan mencuci mata uang kripto senilai lebih dari US$245 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Lam menyampaikan pengakuan bersalah tersebut dalam persidangan di Pengadilan Distrik AS untuk Washington, D.C., pada Selasa (8/9/2026).

Departemen Kehakiman AS (DOJ) menyebut Lam, 22 tahun, berperan sebagai pemimpin jaringan kejahatan siber internasional yang menggunakan teknik social engineering untuk menargetkan pemilik aset kripto dalam jumlah besar. Ia mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi di bawah Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act (RICO), undang-undang AS yang digunakan untuk menjerat jaringan kejahatan terorganisasi.

Lam belum dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Berdasarkan dakwaan yang diakuinya, ia menghadapi hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara. Hakim Colleen Kollar-Kotelly dijadwalkan menggelar sidang lanjutan pada 8 Desember 2026, sementara tanggal vonis belum ditetapkan.

Modus Malone Lam Curi Kripto

Dalam aksinya, Lam dan para rekannya membidik orang-orang yang diketahui memiliki aset kripto dalam jumlah besar. Mereka menggunakan teknik rekayasa sosial dengan menyamar sebagai pegawai perusahaan atau layanan teknologi yang dipercaya korban, termasuk Google.

Para pelaku kemudian membujuk korban agar memberikan informasi penting seperti kata sandi, seed phrase, kode autentikasi, maupun data lain yang dapat digunakan untuk mengakses dompet kripto. Setelah mendapatkan akses, jaringan tersebut menguras aset kripto milik korban dan selanjutnya berupaya menyamarkan aliran dana melalui berbagai transaksi.

Menurut DOJ, jaringan kejahatan tersebut telah beroperasi setidaknya sejak Oktober 2023 hingga Mei 2025. Selain penipuan digital, para anggota jaringan juga dikaitkan dengan aksi pembobolan rumah untuk mendapatkan informasi atau perangkat yang dapat digunakan untuk mengakses aset kripto.

Salah satu pencurian terbesar terjadi pada Agustus 2024. Lam dan sejumlah rekannya berhasil mendapatkan lebih dari 4.100 Bitcoin milik seorang korban di Washington, D.C. Saat pencurian terjadi, nilai Bitcoin tersebut diperkirakan sekitar US$230 juta. Dalam dokumen perkara yang kemudian diperbarui, nilai aset yang dicuri dari korban tersebut disebut sekitar US$263 juta.

Uang Hasil Kejahatan Dipakai untuk Pesta

Setelah mendapatkan aset kripto dalam jumlah fantastis, Lam dan anggota jaringan lainnya hidup dengan gaya mewah. DOJ menyebut uang hasil kejahatan digunakan untuk membeli mobil eksotis, jam tangan mewah, pakaian bermerek, menyewa rumah mewah di Los Angeles, Hamptons dan Miami, hingga menyewa jet pribadi. Jaringan tersebut juga menghabiskan uang dalam jumlah besar di klub malam.

Menurut DOJ, pengeluaran untuk layanan klub malam bahkan mencapai US$500.000 dalam satu malam. Mereka juga membeli jam tangan dengan harga mulai US$100.000 hingga lebih dari US$500.000. Sebagian kendaraan yang dibeli memiliki harga antara US$100.000 hingga US$3,8 juta.

CNA melaporkan Lam juga pernah menghabiskan sekitar US$569.000 dalam satu malam di sebuah klub malam di Los Angeles. Gaya hidup mewah tersebut justru ikut menarik perhatian aparat penegak hukum ketika penyidik mulai menelusuri aktivitas jaringan tersebut.

18 Orang Didakwa

Kasus pencurian kripto ini melibatkan jaringan yang cukup besar. Sebanyak 18 orang telah didakwa dalam perkara tersebut. Dengan pengakuan bersalah Lam, ia menjadi orang ke-11 yang mengaku bersalah dalam kasus tersebut, menurut CNA. Lam sebelumnya disebut sebagai salah satu tokoh utama dalam jaringan tersebut. Ia diduga mengatur serangan rekayasa sosial, menentukan target dan membagi peran para anggota kelompok.

Sejumlah anggota jaringan lainnya juga telah menghadapi proses hukum. Salah satunya Evan Tangeman yang dijatuhi hukuman 70 bulan penjara karena berperan dalam pencucian uang hasil kejahatan kripto tersebut. Ada pula Marlon Ferro yang dijatuhi hukuman 78 bulan penjara karena perannya sebagai pelaku pembobolan rumah yang berkaitan dengan jaringan tersebut.

Lam Wajib Kembalikan Uang Korban

Selain menghadapi ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun, Lam dan para rekan konspiratornya juga diperintahkan untuk mengembalikan lebih dari US$245 juta dana yang dicuri kepada para korban.

Kasus tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bagaimana aset kripto yang bersifat digital tetap dapat menjadi sasaran kejahatan terorganisasi melalui manipulasi terhadap manusia.

Lam kini masih menunggu proses penjatuhan hukuman. Sidang status berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 8 Desember 2026.

(Devona R/ berbagai sumber)