SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta Terapkan Pembelajaran Berbasis PISA dan STEM

2 siswi smp belajar di ILP

SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta menjadi contoh praktik baik yang mengembangkan pembelajaran berbasis kompetensi PISA dan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk mendorong kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah murid. (Foto ilustrasi: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID — Penguatan literasi, numerasi, serta pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) mulai menjadi bagian penting dalam transformasi pembelajaran di sejumlah sekolah di Yogyakarta. SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta menjadi contoh praktik baik yang mengembangkan pembelajaran berbasis kompetensi PISA untuk mendorong kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah murid.

Kepala Sekolah SMPN 9 Yogyakarta Agus Margono mengatakan, sekolahnya menjalankan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang mengacu pada kompetensi PISA. Penerapannya dilakukan melalui soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam asesmen harian serta pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM.

“Kami menerapkan program Pendampingan Literasi dan Numerasi yang berfokus pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi murid berbasis PISA. Program ini diwujudkan melalui pengintegrasian soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) ke dalam asesmen harian, penguatan pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan STEM,” ujar Agus seperti dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Sabtu (12/9/2026).

Menurut Agus, pendekatan tersebut mendorong perubahan pada pola pikir murid. Mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi mulai menganalisis persoalan lingkungan dan sosial di sekitar dengan pendekatan logis dan matematis.

“Ini berdampak langsung pada peningkatan skor capaian Asesmen Nasional pada indikator Literasi dan Numerasi sekolah, serta peningkatan jumlah murid yang meraih prestasi dalam kompetisi sains dan teknologi,” ungkap Agus.

Sekolah juga memperkuat kapasitas guru melalui Komunitas Belajar, pelatihan internal, pengembangan modul ajar interaktif, serta kolaborasi lintas mata pelajaran, termasuk IPA, Matematika, dan Informatika.

Sementara itu, SMAN 5 Yogyakarta mengembangkan program Literasi Terpadu yang mencakup literasi digital, budaya dan kewargaan, sains, finansial, serta numerasi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 5 Yogyakarta Rizky Puspitadewi menjelaskan, penguatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan pembiasaan, tetapi masuk ke evaluasi pembelajaran melalui asesmen sekolah.

“Dampak nyata dari konsistensi penerapan program literasi dan pembiasaan asesmen tersebut terlihat pada indikator Rapor Pendidikan Sekolah, di mana capaian pada domain Literasi dan Numerasi berhasil mencatatkan, serta mempertahankan angka terbaik secara konsisten,” jelas Dewi.

SMAN 5 Yogyakarta juga membekali guru dengan pelatihan Implementasi Pembelajaran STEM, Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial. Di sisi lain, siswa mendapat ruang pengembangan kreativitas melalui proyek Rekayasa dan Teknologi serta Inovasi Kewirausahaan, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan Klub Robotik.

Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kemendikdasmen yang mendorong Pembelajaran Mendalam agar proses belajar berlangsung secara mindful, meaningful, dan joyful.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya penguatan STEM yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta peningkatan kemampuan berpikir kritis dan analitis siswa.

Adapun Kemendikdasmen menempatkan peningkatan literasi, numerasi, STEM, pembelajaran mendalam, serta penguatan kompetensi guru sebagai bagian dari agenda peningkatan mutu pendidikan nasional.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)