200 Penambang Emas Tewas dalam Serangan Udara di Sudan, Pemerintah Bentuk Tim Investigasi

kebakaran-ilustrasi

Pemerintah Sudan memerintahkan penyelidikan atas serangan udara mematikan yang menghantam kawasan pertambangan emas di wilayah barat laut negara tersebut. Serangan yang terjadi di dekat perbatasan Mesir itu dilaporkan menewaskan lebih dari 200 penambang emas. (Foto ilustrasi: Pixabay)

GEBRAK.ID — Pemerintah Sudan memerintahkan penyelidikan atas serangan udara mematikan yang menghantam kawasan pertambangan emas di wilayah barat laut negara tersebut. Serangan yang terjadi di dekat perbatasan Mesir itu dilaporkan menewaskan lebih dari 200 penambang emas.

Ketua Dewan Kedaulatan Transisi Sudan, Abdel Fattah Al-Burhan, menginstruksikan pembentukan komisi khusus untuk mengusut insiden tersebut. Komisi itu akan melibatkan sejumlah unsur pemerintah, termasuk kejaksaan, lembaga kehakiman, dan aparat keamanan.

“Ketua Dewan Kedaulatan Transisi memerintahkan pembentukan komisi yang melibatkan perwakilan dari kantor kejaksaan, kehakiman, dan keamanan, dengan tugas untuk menyelidiki peristiwa tersebut,” demikian keterangan otoritas Sudan pada Senin (12/9/2026), sebagaimana dikutip dari Sputnik.

Penyelidikan tersebut diharapkan dapat mengungkap kronologi kejadian, pihak yang bertanggung jawab, serta motif di balik serangan yang menimbulkan banyak korban jiwa itu.

Laporan Sudan Tribune pada Minggu menyebutkan, serangan berlangsung pada Sabtu (10/10/2026) di kawasan pertambangan emas Distrik Shamal Al-Wadi, Sudan barat laut. Serangan udara dilaporkan menghantam sejumlah titik pertambangan pada pagi hari ketika aktivitas penambangan berlangsung.

Berdasarkan keterangan para penyintas yang dikutip surat kabar tersebut, serangan menghancurkan sejumlah tempat berlindung dan lubang tambang. Beberapa lubang tambang yang terkena serangan dilaporkan sedang ditempati para penambang.

Jumlah korban jiwa yang mencapai lebih dari 200 orang menjadikan insiden ini sebagai peristiwa mematikan di kawasan pertambangan tersebut. Namun, hingga laporan itu diterbitkan, belum ada pihak yang secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Belum jelas pula siapa yang melancarkan serangan udara itu. Karena itu, hasil penyelidikan pemerintah Sudan akan menjadi bagian penting untuk memastikan pelaku dan pihak yang berada di balik peristiwa tersebut.

Konflik Bersenjata Sudan Berlarut Sejak 2023

Insiden ini terjadi ketika Sudan masih menghadapi konflik bersenjata berkepanjangan yang pecah pada 2023. Pertempuran melibatkan pasukan pemerintah Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) atau Pasukan Dukungan Cepat.

Konflik tersebut telah menimbulkan krisis keamanan dan kemanusiaan di berbagai wilayah Sudan. Perselisihan bersenjata antara kedua kubu juga mempersulit upaya pemulihan stabilitas di negara Afrika timur laut tersebut.

RSF disebut-sebut menerima dukungan dari pihak asing, meskipun dukungan yang dimaksud dalam laporan sumber belum dirinci lebih lanjut. Di tengah situasi tersebut, serangan terhadap kawasan pertambangan emas menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil dan pekerja tambang.

Pemerintah Sudan kini menghadapi tugas untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab tragedi itu. Selain mengidentifikasi pelaku, penyelidikan juga diperlukan untuk memastikan apakah serangan tersebut berkaitan dengan konflik bersenjata yang masih berlangsung.

(A. Rayyan K/Berbagai Sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID