Alfian Siagian, Penggerak di Balik Festival Sagara ASEAN 2026 yang Merajut Kebudayaan Asia Tenggara
Merawat tradisi sekaligus membuka ruang pertemuan lintas budaya menjadi bagian penting dalam perjalanan Dr. Alfian Syahmadan Siagian. Akademisi dan pegiat seni ini terus mendorong kebudayaan menjadi jembatan dialog antarmasyarakat, salah satunya melalui Festival Sagara ASEAN 2026 yang mempertemukan kelompok teater dan pelaku seni dari sejumlah negara Asia Tenggara. (Foto: istimewa)
GEBRAK.ID, DEPOK — Merawat tradisi sekaligus membuka ruang pertemuan lintas budaya menjadi bagian penting dalam perjalanan Dr. Alfian Syahmadan Siagian. Akademisi dan pegiat seni ini terus mendorong kebudayaan menjadi jembatan dialog antarmasyarakat, salah satunya melalui Festival Sagara ASEAN 2026 yang mempertemukan kelompok teater dan pelaku seni dari sejumlah negara Asia Tenggara.
Festival yang berlangsung selama lima hari, sejak 12 Oktober 2026, tersebut resmi ditutup pada Jumat (16/10/2026) malam, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok. Kelompok teater University Malaysia Sabah keluar sebagai juara umum dan membawa pulang Piala Bergilir Dekan FIB UI. Perhelatan ini menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman, serta ekspresi seni di antara generasi muda kawasan ASEAN.
Di balik penyelenggaraan festival tersebut, Alfian berperan sebagai penggagas yang membangun ruang perjumpaan melalui Komunitas Sagara. Nama “Sagara”, yang berarti lautan, merepresentasikan gagasan tentang kebudayaan sebagai ruang penghubung antarpulau, bangsa, dan tradisi yang beragam.
Memadukan Kajian Akademis dan Praktik Seni
Perjalanan Alfian dalam dunia kebudayaan tidak hanya bertumpu pada praktik kesenian. Ia juga menekuni kajian akademis, khususnya tradisi dan warisan budaya Nusantara. Katalog Perpustakaan Universitas Indonesia mencatat disertasinya berjudul “Ritual Mangampar Ruji: Teks, Narasi, Simbol dan Pewarisannya dalam Masyarakat Batak Angkola”, yang meneliti teks, simbol, narasi, serta pewarisan ritual dalam masyarakat Batak Angkola di Kabupaten Tapanuli Selatan.

Latar penelitian tersebut memperlihatkan perhatian Alfian terhadap tradisi sebagai pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi lisan, ritual, dan cerita warisan leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pemahaman tentang identitas dan kehidupan sosial yang terus dapat dikaji serta ditafsirkan kembali.
Baca Juga
Jejaknya dalam seni pertunjukan juga tercatat dalam berbagai kegiatan teater. Universitas Indonesia, melalui arsip sejarah kampus, menyebut Alfian sebagai salah satu penggagas Teater UI yang kembali aktif pada 2005. Ia juga terlibat dalam forum dan kegiatan seni lintas negara, termasuk kolaborasi kebudayaan dengan pelaku seni dari Malaysia.
Membuka Ruang Kolaborasi ASEAN
Festival Sagara ASEAN 2026 menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam perjumpaan nyata. Teater, musik, tari, dan diskusi kebudayaan menjadi medium untuk mempertemukan pengalaman artistik dari Indonesia, Thailand, Timor-Leste, Brunei Darussalam, Malaysia, dan negara lainnya di kawasan.
Bagi Alfian, pengembangan kebudayaan membutuhkan keterlibatan generasi baru tanpa memutus hubungan dengan akar tradisi. Naskah klasik dan cerita rakyat dapat hadir dalam bentuk pertunjukan kontemporer, selama proses pengolahannya tetap menghormati nilai dan konteks budaya yang melahirkannya.

Pengamat seni pertunjukan Ayi Sri Suminar menempatkan kiprah Alfian sebagai perjalanan seorang penggerak yang memadukan pengetahuan dan praktik kesenian. Melalui Komunitas Sagara dan festival yang digagasnya, upaya merawat tradisi tidak berhenti pada pelestarian, tetapi bergerak menuju dialog dan kerja sama lintas bangsa.
Festival Sagara ASEAN 2026 pun menjadi salah satu wujud upaya tersebut: menjadikan seni bukan hanya tontonan, melainkan ruang pertemuan yang memperluas pemahaman terhadap keberagaman budaya Asia Tenggara.
(Devona R/berbagai sumber)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID