El Niño Ternyata Bisa Bikin Hari di Bumi Lebih Panjang, Ini Penjelasan Ilmiahnya

1792646972745

Bukan hanya memengaruhi suhu dan pola hujan, El Niño kuat juga dapat memperlambat rotasi Bumi hingga durasi satu hari bertambah sekitar 1 milidetik. (Foto: BMKG)

GEBRAK.ID,JAKARTA–Fenomena El Niño selama ini lebih dikenal karena pengaruhnya terhadap suhu, curah hujan, kekeringan, dan pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Namun, fenomena iklim yang terjadi di kawasan Pasifik tropis tersebut ternyata juga berkaitan dengan perubahan yang sangat kecil pada kecepatan rotasi Bumi.

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), El Niño kuat dapat membuat durasi satu hari di Bumi bertambah sekitar 1 milidetik ketika fenomena tersebut mencapai puncaknya. Perubahan ini terjadi karena perubahan pola angin global yang memengaruhi distribusi momentum sudut antara atmosfer dan Bumi.

Mengapa El Niño Bisa Memengaruhi Rotasi Bumi?

Secara sederhana, Bumi tidak berotasi sebagai benda yang benar-benar terpisah dari atmosfer dan lautan. Pergerakan udara dan massa air di permukaan dapat memengaruhi distribusi momentum sudut sistem Bumi-atmosfer. Ketika El Niño berkembang, angin pasat di kawasan Pasifik tropis melemah, sementara pola angin baratan di wilayah lintang menengah dapat menguat. Perubahan tersebut menyebabkan momentum sudut atmosfer mengalami redistribusi.Sebagai konsekuensinya, kecepatan rotasi Bumi sedikit melambat sehingga panjang hari bertambah.

NOAA menjelaskan bahwa pada puncak El Niño yang kuat, perubahan panjang hari tersebut berada di kisaran 1 milidetik, atau hanya sepersekian ribu detik. Untuk membayangkannya, satu hari terdiri dari 86.400 detik. Tambahan 1 milidetik berarti hanya sekitar satu bagian dari 100 juta terhadap keseluruhan durasi satu hari. Dengan demikian, perubahan tersebut sama sekali tidak terasa dalam aktivitas manusia sehari-hari.

La Niña Justru Bisa Memberikan Efek Sebaliknya

Hubungan antara ENSO dan rotasi Bumi tidak berhenti pada El Niño. NOAA menyebut La Niña cenderung memberikan efek berlawanan. Jika El Niño dapat memperlambat rotasi Bumi dan sedikit memperpanjang panjang hari, La Niña dapat membuat rotasi Bumi sedikit lebih cepat sehingga hari menjadi sedikit lebih pendek. Perubahan itu merupakan bagian dari interaksi kompleks antara atmosfer, lautan, dan rotasi planet.

Fenomena serupa juga dapat terjadi akibat perubahan atmosfer, lautan, air tanah, es, hingga variasi cuaca musiman. NASA yang dikutip dalam laporan AccuWeather menyebut variasi cuaca harian dan musiman saja dapat memengaruhi panjang hari hingga beberapa milidetik sepanjang tahun.

El Niño 2026 Sedang Menguat

Fenomena tersebut menjadi semakin relevan karena El Niño 2026 saat ini berada dalam fase penguatan. Dalam laporan yang diterbitkan 8 Oktober 2026, NOAA menyatakan El Niño terus menguat. NOAA memperkirakan terdapat peluang lebih dari 83 persen bahwa kondisi El Niño kuat hingga sangat kuat akan bertahan pada periode Januari-Maret 2027.

Suhu permukaan laut di sejumlah bagian Pasifik khatulistiwa bagian timur bahkan tercatat lebih dari 4 derajat Celsius di atas rata-rata. Indeks Niño-3.4 juga telah mencapai sekitar +2,1 derajat Celsius, sedangkan indeks Niño-3 mencapai +3 derajat Celsius dan Niño-1+2 sekitar +3,9 derajat Celsius.

NOAA juga memasukkan El Niño saat ini sebagai fenomena yang berpotensi menjadi salah satu kejadian terkuat dalam catatan sejak 1950. Berdasarkan proyeksi Oktober 2026, peluang kejadian dengan kekuatan historis mencapai 83 persen untuk periode Oktober-Desember 2026.

Dampaknya Lebih Besar pada Cuaca daripada pada Waktu

Meski secara ilmiah menarik, tambahan sekitar 1 milidetik pada panjang hari bukanlah dampak El Niño yang perlu dikhawatirkan masyarakat. Perubahan tersebut terlalu kecil untuk dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampak El Niño yang jauh lebih penting adalah perubahan pola hujan, suhu, angin, kekeringan, dan berbagai kondisi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dunia.

Besarnya dampak juga tidak selalu sama dari satu kejadian El Niño ke kejadian lainnya. NOAA menegaskan bahwa semakin kuat suatu El Niño, peluang munculnya dampak yang berkaitan dengan fenomena tersebut memang cenderung meningkat, tetapi kekuatan El Niño tidak secara otomatis menentukan seberapa parah dampaknya di suatu wilayah tertentu.

Bagi Indonesia, perkembangan El Niño perlu diperhatikan terutama karena pola curah hujan dapat mengalami perubahan. Dalam laporan terbaru NOAA, anomali hujan masih cenderung meningkat di kawasan Pasifik bagian tengah hingga timur, sementara aktivitas hujan di Indonesia berada di bawah normal. Artinya, di balik fakta unik bahwa El Niño dapat membuat satu hari bertambah sekitar 1 milidetik, fenomena ini tetap merupakan sistem iklim yang memiliki konsekuensi jauh lebih besar terhadap kehidupan manusia melalui perubahan cuaca dan iklim.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID