Ketika AI Menggeser Pekerjaan Manusia: Tantangan Baru bagi Terapis
Ketika AI Menggeser Pekerjaan Manusia: Tantangan Baru bagi Terapis. (Foto: Psychology Today).
GEBRAK.ID–Kemajuan kecerdasan buatan (AI) sering memunculkan pertanyaan: apakah suatu hari nanti terapis juga akan digantikan oleh mesin?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Kini, semakin banyak orang menggunakan AI untuk membicarakan suasana hati, hubungan, kecemasan, hingga rencana hidup—hal-hal yang sebelumnya mungkin mereka bicarakan bersama seorang terapis. Situasi ini tentu dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan profesi terapi.
Namun, Menurut John T. Maier Ph.D. dalam Psychology Today pada 30 September 2026, ada kemungkinan bahwa kita justru melihat persoalan ini dari arah yang keliru.
Bukan Terapis yang Tergeser, Melainkan Kliennya
Alih-alih terutama menggantikan terapis, AI mungkin terlebih dahulu mengubah kehidupan para klien yang datang kepada mereka.
Perkembangan AI berpotensi menggeser banyak jenis pekerjaan, termasuk pekerjaan yang selama ini dianggap membutuhkan kemampuan intelektual tinggi. Akibatnya, sebagian orang mungkin bukan hanya menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan sesuatu yang lebih mendasar: perasaan bahwa pekerjaan mereka memiliki tujuan dan makna.
Dalam kondisi seperti itu, terapis mungkin justru menjadi salah satu profesi yang tetap membutuhkan sentuhan manusia. Tantangan terbesar mereka bisa jadi bukan menghadapi AI sebagai pesaing, melainkan membantu manusia menghadapi perubahan yang ditimbulkan oleh AI.
Ketika Kemajuan Teknologi Menimbulkan Keputusasaan
Fenomena ini mulai terlihat di kalangan akademisi, ilmuwan, dan pekerja yang berada di lingkungan penelitian.
Bagi sebagian orang yang bekerja di bidang tersebut, kemunculan AI tidak hanya menimbulkan kekhawatiran ekonomi. Mereka mungkin masih memiliki pekerjaan dan bahkan mampu menemukan pekerjaan baru. Namun, muncul pertanyaan yang lebih dalam: jika mesin dapat melakukan hal yang selama ini menjadi sumber kontribusi saya, lalu apa arti pekerjaan saya?
Kemajuan model bahasa besar atau large language models (LLM) telah menunjukkan kemampuan yang semakin luas dalam menyelesaikan berbagai tugas kompleks. Perkembangan tersebut memunculkan kemungkinan bahwa pekerjaan yang selama ini membutuhkan keahlian bertahun-tahun dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat menggunakan AI.
Bagi orang-orang yang memperoleh kepuasan dari kemampuan mereka memecahkan masalah, menghasilkan pengetahuan, atau menciptakan sesuatu yang berguna, perubahan ini dapat menjadi pengalaman yang mengguncang.
Persoalannya bukan semata-mata, “Apakah saya masih punya pekerjaan?”
Pertanyaannya bisa berubah menjadi, “Jika pekerjaan yang saya kuasai tidak lagi membutuhkan saya, untuk apa saya melakukan semua ini?”
Ketika Pekerjaan Selama Ini Menjadi Sumber Makna
Dalam psikologi dan psikoterapi, pekerjaan sering kali memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan manusia.
Pekerjaan bukan hanya sarana mendapatkan penghasilan. Bagi banyak orang, pekerjaan memberikan struktur kehidupan, identitas, rasa kompeten, kesempatan untuk berkontribusi, dan perasaan bahwa dirinya berguna.
Karena itu, perubahan besar dalam dunia kerja dapat memengaruhi seseorang jauh lebih dalam daripada sekadar kondisi finansial.
Jika AI mengambil alih semakin banyak pekerjaan yang bersifat kognitif, masyarakat mungkin perlu memikirkan kembali hubungan antara pekerjaan dan makna hidup.
Selama ini, kita terbiasa menganggap bahwa hidup yang produktif adalah hidup yang menghasilkan sesuatu. Namun, apa yang terjadi ketika kemampuan menghasilkan sesuatu bukan lagi menjadi keunggulan manusia?
Pertanyaan tersebut dapat menjadi tantangan baru bagi terapi.
Membedakan Tujuan dan Nilai
Salah satu cara untuk menghadapi perubahan ini adalah membedakan antara tujuan (goals) dan nilai (values).
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin kita capai secara konkret. Sementara itu, nilai adalah prinsip yang mendasari cara kita memilih tujuan dan menjalani kehidupan.
Perbedaan ini menjadi penting dalam menghadapi perkembangan AI.
Bayangkan seseorang yang membangun identitas profesionalnya berdasarkan tujuan untuk membuktikan sebuah teorema matematika tertentu. Jika suatu saat AI dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat cepat, tujuan tersebut mungkin kehilangan sebagian maknanya.
Hal yang sama dapat terjadi dalam berbagai bidang kreatif. Seseorang mungkin memiliki ambisi untuk menulis skenario luar biasa, menciptakan karya seni, atau menyelesaikan persoalan ilmiah. Jika AI semakin mampu melakukan tugas-tugas tersebut, cara tradisional untuk mencapai tujuan itu bisa berubah secara drastis.
Namun, perubahan cara mencapai tujuan tidak selalu berarti nilai yang mendasarinya harus hilang.
Nilai Manusia Tidak Harus Hilang Bersama Pekerjaan
Seseorang mungkin mengejar matematika bukan semata-mata karena ingin menyelesaikan sebuah soal, tetapi karena ia menghargai pengetahuan dan keindahan intelektual.
Seorang penulis mungkin tidak hanya mengejar publikasi, tetapi menghargai kreativitas dan kemampuan memahami pengalaman manusia.
Begitu pula dalam kehidupan pribadi. Hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, dan komunitas memiliki tujuan yang tidak mudah digantikan oleh mesin.
AI mungkin dapat membantu manusia bekerja lebih cepat. Tetapi itu tidak otomatis berarti AI dapat menggantikan semua alasan mengapa manusia ingin melakukan sesuatu.
Di sinilah nilai menjadi penting.
Jika cara lama untuk mewujudkan suatu nilai berubah karena teknologi, manusia dapat mencari cara baru untuk tetap menjalankan nilai tersebut.
Tugas terapi di masa depan mungkin bukan sekadar membantu seseorang mencapai tujuan profesionalnya, tetapi membantu mereka memahami kembali mengapa tujuan tersebut penting bagi mereka.
Tantangan Baru bagi Psikoterapi
Perubahan seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sepanjang sejarah, perubahan teknologi dan ekonomi telah membuat sejumlah pekerjaan menghilang, berubah bentuk, atau kehilangan statusnya. Manusia kemudian harus menyesuaikan keterampilan, identitas, dan cara mereka melihat diri sendiri.
Yang berbeda dari perkembangan AI adalah kemungkinan kecepatannya dan luasnya bidang yang terdampak.
Jika sebelumnya perubahan besar mungkin terutama dirasakan oleh pekerja di sektor tertentu, AI berpotensi memengaruhi berbagai pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir, menulis, menganalisis, dan mencipta.
Karena itu, persoalan yang dibawa seseorang ke ruang terapi di masa depan mungkin semakin sering berkaitan dengan pertanyaan eksistensial:
Siapa saya jika pekerjaan yang selama ini mendefinisikan saya tidak lagi diperlukan?
Apa yang membuat hidup saya bermakna jika kemampuan saya dapat dilakukan mesin?
Jika saya tidak harus bekerja seperti dulu, bagaimana seharusnya saya menjalani hidup?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban teknis sederhana. Justru karena itulah peran manusia dalam terapi tetap menjadi penting.
Masa Depan Terapi Mungkin Justru Lebih Manusiawi
Ada ironi dalam perkembangan AI.
Kekhawatiran yang sering muncul adalah bahwa AI akan menggantikan terapis. Namun, bisa saja tantangan yang lebih besar justru datang dari arah sebaliknya: semakin banyak orang membutuhkan bantuan manusia untuk menghadapi konsekuensi psikologis dari perubahan yang dibawa AI.
Terapis tidak hanya berhadapan dengan masalah pekerjaan. Mereka mungkin semakin sering membantu klien menghadapi perubahan identitas, kehilangan tujuan, ketidakpastian, dan kebutuhan untuk menemukan kembali makna hidup.
AI mungkin mampu menghasilkan jawaban dengan cepat. Tetapi terapi bukan sekadar proses mendapatkan jawaban.
Terapi juga merupakan hubungan antarmanusia—sebuah ruang bagi seseorang untuk memahami dirinya, mengolah pengalaman, mempertanyakan nilai yang diyakininya, dan menemukan cara baru untuk menjalani hidup.
Jika AI benar-benar mengubah dunia kerja secara mendalam, kebutuhan tersebut mungkin justru semakin besar.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah manusia akan mampu mengalahkan AI dalam melakukan pekerjaan tertentu. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: ketika mesin semakin mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya menjadi keahlian manusia, apa yang ingin tetap kita lakukan sebagai manusia?
Dan mungkin, membantu seseorang menemukan jawabannya akan menjadi salah satu pekerjaan yang paling penting bagi para terapis di masa depan.
(Damar Pratama/ Sumber: Psychology Today 30 September 2026).
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID