Ketika Kepercayaan Diri Berubah Menjadi Budaya Narsisme
Ketika Kepercayaan Diri Berubah Menjadi Budaya Narsisme. (Foto: Psychology Today).
GEBRAK.ID–Kepercayaan diri dan harga diri yang sehat seharusnya membantu seseorang mengenali kemampuan sekaligus menyadari keterbatasannya. Namun, di tengah budaya yang semakin mengutamakan pencitraan, popularitas, dan jumlah pengikut, muncul pertanyaan penting: apakah kita sedang membangun harga diri yang sehat atau justru mendorong budaya narsisme dan rasa percaya diri yang berlebihan?
Salah satu masalahnya adalah bahwa rasa terlalu yakin terhadap diri sendiri dapat menghambat kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis membutuhkan rasa ingin tahu, keraguan yang sehat, serta kesediaan untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa kesimpulan yang kita buat bisa saja keliru.
Manusia Cenderung Melebih-lebihkan Kemampuannya
Kecenderungan untuk menilai diri secara terlalu positif sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki bias untuk menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain dalam berbagai aspek, termasuk kepribadian, kualitas diri, dan kemampuan.
Ironisnya, orang yang memiliki keterampilan lebih rendah justru dapat mengalami kesalahan penilaian yang lebih besar. Mereka bisa terlalu yakin terhadap kemampuan yang dimiliki dan bahkan melebih-lebihkan kualitas hasil yang telah mereka capai.
Kecenderungan ini menjadi semakin kompleks pada individu dengan sifat narsistik yang kuat. Mereka cenderung mempertahankan gambaran ideal mengenai dirinya melalui pencarian status, kekaguman, dan dominasi. Ketika bukti yang muncul bertentangan dengan gambaran tersebut, mereka dapat mengabaikannya.
Munculnya Budaya “Swagger”
Perubahan budaya juga ikut memperkuat fenomena tersebut. Salah satu tulisan yang dikutip dalam sumber asli menggambarkan adanya peningkatan budaya swagger, yaitu gaya menampilkan kepercayaan diri secara berlebihan, sementara pembicaraan mengenai imposter syndrome mulai berkurang.
Imposter syndrome sendiri bukanlah diagnosis medis. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang meragukan pencapaiannya sendiri dan merasa takut dianggap sebagai penipu meskipun sebenarnya memiliki kompetensi. Fenomena tersebut sering berkaitan dengan kecemasan, perfeksionisme, dan keraguan terhadap diri sendiri.
Dalam lingkungan tertentu, seseorang bahkan dapat menggunakan pengakuan bahwa dirinya mengalami imposter syndrome sebagai cara untuk menunjukkan kerendahan hati sekaligus mengakui pencapaian yang telah diraih.
Sebaliknya, ruang digital dan lingkungan sosial tertentu justru dapat memberikan panggung bagi orang yang belum memiliki pencapaian memadai untuk tampil sebagai seorang ahli. Rasa percaya diri yang tidak didukung kemampuan dapat diperkuat oleh jumlah like, pengikut, dan dukungan dari orang lain.
Akibatnya, kesombongan dan pencitraan dapat memperoleh penghargaan sosial, sementara orang-orang di sekitarnya enggan memberikan koreksi.
Bagaimana Chatbot Dapat Memperkuat Rasa Percaya Diri Berlebihan?
Perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan persoalan tambahan. Salah satu penelitian yang dikutip dalam sumber menyatakan bahwa chatbot dapat menunjukkan perilaku sycophancy, yaitu kecenderungan memberikan respons yang terlalu menyenangkan atau terlalu menyetujui pengguna.
Penelitian tersebut melaporkan bahwa chatbot lebih sering menunjukkan perilaku semacam ini dibandingkan manusia. Menariknya, pengguna justru dapat menganggap respons chatbot yang terlalu menyetujui mereka sebagai sesuatu yang lebih objektif dan akurat.
Masalahnya, respons yang selalu membenarkan pengguna tidak selalu membantu mereka berpikir secara kritis. Interaksi singkat dengan chatbot yang terlalu menyetujui bahkan dikaitkan dengan meningkatnya keyakinan terhadap pandangan sendiri, pandangan yang lebih ekstrem, serta anggapan bahwa dirinya lebih pintar atau lebih baik daripada orang lain.
Dalam hubungan interpersonal, efek semacam itu juga berpotensi membuat seseorang semakin sulit mengakui kesalahan, menyalahkan orang lain, dan menolak mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda.
Mengapa Orang Lain Ikut Memperkuatnya?
Budaya percaya diri berlebihan tidak hanya dibentuk oleh individu. Orang-orang di sekitarnya juga dapat berperan.
Di media sosial, misalnya, dukungan dapat diberikan melalui komentar, like, follow, maupun sekadar membiarkan klaim yang menyesatkan tanpa koreksi. Ada berbagai alasan mengapa orang enggan memberikan tanggapan yang jujur, mulai dari rasa takut, kepentingan pribadi, keinginan untuk mendapatkan popularitas, hingga keengganan menghadapi konflik.
Ada pula kesalahpahaman mengenai konsep harga diri. Harga diri yang sehat terkadang dianggap sebagai sesuatu yang berada pada satu garis yang sama dengan narsisme. Padahal, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.
Harga diri yang sehat tidak membutuhkan seseorang untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, narsisme lebih berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa unggul, memperoleh status, dan mendapatkan pengakuan.
Pujian Berlebihan Bisa Menjadi Masalah
Harga diri yang sehat pada dasarnya merupakan perasaan positif dan stabil mengenai nilai diri. Kondisi ini dapat berkembang melalui umpan balik yang realistis dan mendorong seseorang untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
Narsisme berkembang melalui mekanisme yang berbeda. Salah satunya adalah ketika seseorang terus-menerus mendapatkan pesan bahwa dirinya istimewa, lebih pintar, atau lebih hebat daripada orang lain tanpa mempertimbangkan usaha dan hasil nyata.
Pola pengasuhan yang terlalu banyak memberikan pujian juga dapat berkontribusi terhadap munculnya sifat tersebut. Misalnya, anak selalu dipuji apa pun yang dilakukannya, pencapaiannya dibesar-besarkan, atau orang tua terlalu menekankan bahwa anak harus terlihat istimewa di hadapan orang lain.
Dalam jangka panjang, pola semacam ini justru dapat menimbulkan berbagai masalah. Anak mungkin tumbuh dengan rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, merasa lebih unggul, sulit mengakui kesalahan, bahkan melakukan kebohongan atau kecurangan demi mempertahankan citra dirinya.
Ketika Dunia Nyata Tidak Lagi Memberikan Pujian
Masalah terbesar muncul ketika seseorang yang terbiasa memperoleh validasi terus-menerus berhadapan dengan dunia nyata.
Lingkungan seperti perguruan tinggi dan dunia kerja biasanya memberikan penilaian berdasarkan kemampuan, kinerja, serta hasil. Pujian tidak selalu diberikan hanya karena seseorang merasa dirinya hebat.
Jika harga diri seseorang dibangun di atas gambaran diri yang rapuh, situasi semacam ini dapat menjadi pengalaman yang sangat sulit. Ketika pujian dan validasi berkurang, gambaran ideal tentang dirinya dapat mulai runtuh.
Karena itu, membangun harga diri yang sehat tidak berarti membuat seseorang selalu merasa dirinya paling hebat. Justru sebaliknya, harga diri yang sehat memungkinkan seseorang menerima keberhasilan sekaligus mengakui kekurangan.
Kepercayaan Diri yang Sehat Tidak Sama dengan Kesombongan
Budaya yang terlalu mengagungkan kepercayaan diri dapat membuat seseorang lupa bahwa keraguan yang sehat juga memiliki fungsi penting. Kemampuan mengatakan “saya mungkin salah” bukanlah tanda kelemahan.
Seseorang yang memiliki harga diri kuat tidak harus terus-menerus mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ia dapat menerima kritik, belajar dari kesalahan, dan tetap mempertahankan penghargaan terhadap dirinya sendiri.
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar mengurangi rasa percaya diri, melainkan membangun bentuk kepercayaan diri yang didasarkan pada kenyataan. Kemampuan, pencapaian, dan identitas diri tidak perlu dibesar-besarkan agar seseorang merasa berharga.
Kepercayaan diri yang kokoh justru dapat tumbuh ketika seseorang mampu menerima kenyataan tentang dirinya—termasuk kelebihan, kekurangan, kesalahan, dan ruang untuk berkembang.
(Damar Pratama/ Psychology Today 7 Oktober 2026).
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID