Menulis di Zaman AI: Yanuardi Syukur Ingatkan Penulis Agar Tetap Kritis, Jangan Tergantung Mesin

WhatsApp Image 2026-10-14 at 09.58.44 (1)

Dr. Yanuardi Syukur paparkan materi di diskusi “Menulis di Zaman AI”, Ruang Referensi, Gedung Perpustakaan Kota Depok, Jabar, Rabu (14/10/2026). (Foto: Gebrak.Id/Zaky)

GEBRAK.ID, DEPOK — Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia mencari ide, menyusun naskah, hingga menyunting tulisan. Namun, teknologi tersebut tidak seharusnya menggantikan peran penulis dalam menentukan gagasan, menjaga keaslian, dan memastikan kebenaran informasi.

Pesan itu disampaikan Dr. Yanuardi Syukur, dosen Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun, Ternate, Maluku Utara, dalam diskusi bertajuk “Menulis di Zaman AI” di Ruang Referensi, Lantai 2 Gedung Perpustakaan Kota Depok, Jawa Barat, Rabu, 14 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Referensi Perpustakaan Umum Kota Depok, Jalan Margonda Raya No. 54, Depok, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan oleh Perpustakaan Umum Kota Depok melalui LiterA Hub, dengan Nur Indrawati Pary, S.Ip., pustakawan Perpustakaan Umum Kota Depok, sebagai host. Diskusi berlangsung pukul 08.00–10.30 WIB.

Dalam paparannya, Yanuardi menekankan bahwa AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat proses kreatif, bukan sebagai pengganti pemikiran dan pengalaman manusia. “Jangan serahkan seluruh proses berpikir kepada mesin,” tegas Yanuardi dalam materi paparannya. Menurut dia, tantangan menulis di era AI bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan bagaimana penulis tetap menghasilkan karya yang bermakna, autentik, kritis, dan bertanggung jawab.

AI Mengubah Proses Menulis
Yanuardi menjelaskan, AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude telah mengubah cara orang mencari ide, menyusun draf, serta memperbaiki naskah. Teknologi tersebut dapat membantu penulis melakukan curah gagasan (brainstorming), menyusun kerangka tulisan (outline), melakukan riset awal, membuat draf kasar, menyunting, menerjemahkan, hingga merangkum materi.

Meski demikian, menurut Yanuardi, penggunaan AI tidak menghilangkan tanggung jawab penulis. Manusia tetap perlu menentukan sudut pandang, memberikan konteks, memeriksa akurasi, dan memastikan tulisan sesuai dengan etika. “Yang berubah adalah cara menulis; yang tidak berubah adalah kebutuhan atas gagasan dan keaslian,” kata Alumni S1 Universitas Hasanuddin ini.

Dengan kata lain, kemudahan menghasilkan teks tidak otomatis menjadikan sebuah tulisan berkualitas. Penulis tetap membutuhkan pemahaman terhadap topik, tujuan komunikasi, karakter pembaca, serta kemampuan menilai apakah informasi yang dihasilkan AI layak digunakan.

Empati jadi Pembeda Karya Manusia
Salah satu persoalan penting dalam penggunaan AI adalah menjaga ciri khas penulis. Menurut Yanuardi, AI bekerja dengan menganalisis pola teks, sedangkan manusia membawa pengalaman hidup, perspektif, kepekaan sosial-budaya, dan empati ke dalam tulisannya.

Unsur-unsur tersebut membuat tulisan tidak hanya menjadi susunan kata, tetapi juga sarana menyampaikan cara pandang dan pemahaman terhadap kehidupan. “Orisinalitas bukan hanya soal kata, tetapi cara memandang dunia,” kata Yanuardi yang juga Pimred Media Reputasi Indonesia Network ini.

Maka dari itu, penulis perlu mempertahankan suara khasnya sendiri. AI dapat menawarkan alternatif kalimat atau gaya bahasa, tetapi penulis tetap harus menilai apakah hasilnya sesuai dengan pengalaman, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan.

Pendekatan ini juga menjadi pengingat bahwa tulisan yang lancar secara bahasa belum tentu memiliki kedalaman gagasan. Kualitas karya tetap bergantung pada kemampuan penulis memahami persoalan dan menyajikannya secara relevan bagi pembaca.

Empat Prinsip Etika Pakai AI
Yanuardi juga menggarisbawahi pentingnya etika dan integritas dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Ia memaparkan empat prinsip yang perlu diperhatikan penulis.

Pertama, terbuka mengenai penggunaan AI apabila relevan dengan proses dan ketentuan publikasi. Keterangan tersebut dapat dicantumkan pada bagian pengantar, metodologi, atau pengakuan sesuai kebutuhan dan aturan yang berlaku. Kedua, menghindari plagiarisme dan klaim palsu. Penulis tidak boleh menganggap keluaran AI sebagai jaminan bahwa suatu informasi, kutipan, atau sumber benar-benar ada dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, memverifikasi fakta serta mewaspadai bias dan hoaks. Informasi yang dihasilkan AI harus diperiksa kembali melalui sumber asli, dokumen resmi, dan referensi yang dapat dipercaya. Keempat, menjaga data pribadi dan hak cipta. Penulis perlu berhati-hati ketika memasukkan informasi sensitif ke dalam sistem AI serta memastikan penggunaan materi pihak lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Integritas adalah kunci agar teknologi tetap melayani kemanusiaan,” tutur Yanuardi.

Prinsip tersebut sejalan dengan panduan UNESCO mengenai AI generatif dalam pendidikan dan penelitian yang diterbitkan pada 7 September 2023. Panduan itu mendorong pendekatan yang berpusat pada manusia sekaligus menyoroti persoalan etika, perlindungan data, dan privasi.

Panduan resmi UNESCO dapat dibaca melalui: https://www.unesco.org/en/articles/guidance-generative-ai-education-and-research.

Empat Strategi agar Penulis Tetap Kritis
Agar AI benar-benar mendukung proses kreatif, Yanuardi menawarkan empat strategi praktis. Pertama, gunakan AI untuk mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi gagasan, bukan sekadar menyalin jawaban. Cara ini membantu penulis tetap aktif dalam proses berpikir.

Kedua, manfaatkan AI untuk meminta kritik, alternatif gaya penulisan, atau pertanyaan reflektif. Masukan tersebut dapat digunakan untuk menemukan kelemahan argumen dan memperluas perspektif. Ketiga, susun draf awal secara mandiri sebelum menggunakan AI untuk menyempurnakan tulisan. Langkah ini membantu menjaga arah, karakter, dan gagasan utama penulis.

Keempat, catat sumber dan periksa kembali setiap informasi sebelum digunakan. Penulis perlu memastikan bahwa data, kutipan, nama, serta tautan rujukan benar-benar sesuai dengan sumber aslinya. Strategi tersebut menempatkan AI sebagai rekan kerja yang membantu meningkatkan efisiensi, sementara penulis tetap memegang kendali atas isi dan kualitas akhir tulisan.

Waspadai Ketergantungan AI
Di balik manfaatnya, penggunaan AI juga membawa sejumlah risiko. Yanuardi mengingatkan adanya potensi ketergantungan berlebihan, keseragaman gaya tulisan, sengketa plagiarisme dan hak cipta, serta membanjirnya konten yang membuat karya autentik semakin sulit dikenali. Untuk menghadapi tantangan tersebut, penulis perlu mengembangkan kompetensi baru, mulai dari literasi AI dan kemampuan menyusun prompt yang jelas hingga berpikir kritis, memeriksa fakta, menyunting naskah, serta terus belajar mengikuti perkembangan teknologi.

Kemampuan menyusun instruksi yang spesifik juga menjadi bagian penting. Semakin jelas tujuan, konteks, dan batasan yang diberikan, semakin terarah pula bantuan yang dapat dihasilkan AI. Namun, hasilnya tetap perlu ditinjau dan disesuaikan dengan kebutuhan tulisan.

Pada akhirnya, teknologi tidak menghapus kebutuhan terhadap penulis yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan tanggung jawab. Justru ketika produksi teks semakin mudah, kemampuan menyeleksi informasi, membangun argumen, serta menghadirkan perspektif manusia menjadi semakin penting. “Tantangan di era AI bukan alasan untuk berhenti menulis, tetapi pengingat untuk menulis dengan lebih sadar, kritis, dan autentik,” kata Yanuardi.

Diskusi Ruang Referensi bertema “Menulis di Zaman AI” mengangkat persoalan yang relevan bagi penulis, jurnalis, akademisi, dan masyarakat yang memanfaatkan teknologi dalam berkarya: bagaimana menjadikan AI sebagai alat bantu tanpa kehilangan orisinalitas, kepekaan, dan integritas manusia. (*)

(Zaky Al Hamzah)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID