OJK Dorong Digitalisasi Keuangan Perluas Pembiayaan dan Gerakkan Sektor Riil

Pejabat OJK -1

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, di Jakarta. (Foto: ANTARA/Aji Cakti)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong transformasi digital sektor keuangan agar meningkatkan produktivitas, memperluas akses pembiayaan, dan memberi manfaat nyata bagi sektor riil serta masyarakat. Upaya itu dinilai perlu disertai penguatan stabilitas, keamanan, tata kelola, dan pelindungan konsumen.

“Transformasi digital sektor keuangan harus diarahkan menjadi mesin produktivitas yang memperluas akses pembiayaan dan memberikan manfaat nyata bagi sektor riil serta masyarakat,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Adi mengatakan masa depan jasa keuangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan inovasi, tetapi juga oleh kemampuan industri menjaga stabilitas dan menghasilkan manfaat ekonomi. Menurut dia, perbankan Indonesia memasuki 2027 dengan fondasi yang relatif solid, tetapi menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks.

Per Agustus 2026, pertumbuhan kredit tercatat 13,65 persen secara tahunan, dengan permodalan 24,1 persen dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 2,11 persen. Di tengah kondisi tersebut, industri perlu mengantisipasi perkembangan teknologi, ancaman siber, perubahan regulasi, ketidakpastian makroekonomi, tuntutan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), serta kesenjangan talenta.

Berbagai tantangan itu dibahas dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Ikatan Alumni Universitas Sumatera Utara (IKA USU) Jakarta pada Selasa (6/10/2026). Seminar tersebut mempertemukan regulator, perbankan, perusahaan teknologi finansial, akademisi, dan praktisi untuk membahas strategi menghadapi perubahan industri.

Tantangan Perbankan
Sementara itu, Ketua IKA USU Jakarta, Tujuh Martogi Siahaan, mengatakan tantangan perbankan menuju 2027 datang secara bersamaan, mulai dari risiko makroekonomi dan regulasi hingga disrupsi teknologi, keamanan siber, kecerdasan buatan (AI), keberlanjutan, dan ketersediaan talenta. Karena itu, menurut dia, industri perlu mengantisipasi perubahan, bukan sekadar beradaptasi.

“Melalui seminar ini, IKA USU Jakarta ingin mempertemukan regulator, industri, dan akademisi untuk membangun perspektif bersama dan merumuskan langkah konkret agar perbankan Indonesia semakin tangguh, adaptif, dan kompetitif,” ujar Tujuh.

Transformasi Digital BTN
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu juga menekankan bahwa transformasi digital perlu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata. BTN, kata dia, mengembangkan transformasi proses melalui Loan Factory, Monoline Collection System, AI/OCR, modernisasi Core Banking, BDS, dan AS400 untuk memperkuat efisiensi, tata kelola, serta manajemen risiko.

“Teknologi bukan tujuan akhir transformasi sektor keuangan. Nilai sebenarnya terletak pada kemampuan teknologi untuk memperluas akses pembiayaan, meningkatkan efisiensi, memperkuat resiliensi, dan menggerakkan sektor riil,” kata Nixon. (*)

(Zaky Al Hamzah/antaranews)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID