Refleksi Hari Santri 2026, MUI Soroti Pentingnya Kemandirian Ekonomi
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk merefleksikan peran pesantren dalam membentuk generasi muda yang mandiri secara ekonomi. (Ilustrasi AI/Gebrak/Zaky)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum untuk merefleksikan peran pesantren dalam membentuk generasi muda yang mandiri secara ekonomi. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menilai kebiasaan hidup disiplin dan sederhana selama menempuh pendidikan di pesantren menjadi bekal penting bagi santri untuk mengelola keuangan, mencari nafkah, dan menghadapi tantangan kehidupan.
Kiai Cholil membagikan pengalaman pribadinya saat mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Menurut dia, pendidikan kemandirian dimulai dari aktivitas sederhana sehari-hari, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dirinya belajar mandiri sejak saya dulu SD keluar dari rumah.
Diajari pertama mencuci sendiri, kemudian melipat baju sendiri, hingga merapikan alat-alat mandi sendiri. “Itu sederhana, tapi membuat kita jauh lebih mandiri,” ujar Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Kamis (22/10/2026), dikutip Gebrak.id
Selain membiasakan santri mengurus kebutuhan pribadi, pesantren juga mengajarkan pengelolaan keuangan melalui keterbatasan uang saku. Pengalaman tersebut dinilai menjadi latihan praktis untuk membangun kebiasaan mengatur pengeluaran dan menentukan prioritas kebutuhan.
Kiai Cholil mengenang bagaimana dirinya harus mencukupi kebutuhan selama satu bulan dengan uang saku Rp25.000. Pada awalnya, ia mengaku belum mampu mengatur pengeluaran sehingga uang tersebut habis sebelum pertengahan bulan. “Yang lebih membuat saya mandiri adalah ketika mengelola uang. Saya dulu dikirim sebulan Rp25 ribu, dan bagaimana uang itu harus cukup selama satu bulan penuh karena tidak ada pengiriman lagi. Awalnya, karena memegang uang banyak, saya jajan terus sampai sebelum setengah bulan uangnya sudah habis. Dari situ saya belajar mengatur ritme keuangan agar Rp25 ribu cukup untuk sebulan,” kenangnya.
Baca Juga
Pengalaman tersebut membentuk pemahaman tentang pentingnya disiplin finansial. Santri belajar bahwa keterbatasan sumber daya menuntut perencanaan, pengendalian diri, dan kemampuan menyesuaikan pengeluaran dengan kebutuhan.
Menurut Kiai Cholil, pelajaran itu terus dirasakan setelah dirinya menyelesaikan pendidikan di pesantren. Ia mengaku semakin mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak lagi bergantung secara finansial kepada orang lain, termasuk orang tua. “Setelah dari pesantren, hampir saya sudah tidak ketergantungan dengan orang lain, termasuk dengan orang tua sendiri. Bahkan dengan mudah kami mandiri secara ekonomi, mencari uang sendiri, dan tentu siap dalam kondisi apa pun,” kata dia.
Kemandirian Harus Sering Dilatih
Ketua Badan Pengurus DSN MUI tersebut menilai pengalaman hidup di pesantren menunjukkan bahwa pendidikan kemandirian tidak cukup diberikan melalui teori. Pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari turut berperan membentuk sikap bertanggung jawab terhadap kebutuhan pribadi dan kemampuan mengambil keputusan.
Dalam konteks Hari Santri Nasional 2026, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki kecakapan praktis untuk menjalani kehidupan.
Kemandirian ekonomi yang dibangun sejak dini diharapkan dapat menjadi bekal bagi santri untuk memasuki dunia kerja, membangun usaha, serta menghadapi perubahan kondisi ekonomi dengan lebih terencana. (*)
(Zaky Al Hamzah)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID