Hari Santri 2026, MUI Ingatkan Pesantren Perkuat Mental Tangguh dan Cegah Perundungan

Infografik Santri di Indonesia

Infografik Santri, Ustadz dan Pesantren di Indonesia. Dari pondok pesantren ini bisa lahir presiden, menteri, bahkan pejuang kemerdekaan serta pejabat yang berkontribusi membangun negara. (Ilustrasi: MUI Digital/Antara/dok)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, menegaskan bahwa pesantren berperan penting dalam membentuk ketangguhan mental dan karakter generasi muda. Pada momentum Hari Santri Nasional 2026, ia juga mengingatkan pengelola pesantren agar terus melakukan evaluasi serta memperkuat pencegahan kekerasan dan perundungan demi menjaga kepercayaan masyarakat.

Menurut Kiai Cholil, kehidupan di pesantren membiasakan santri menghadapi keterbatasan dan kondisi yang tidak selalu nyaman. Pembiasaan tersebut melatih kemampuan beradaptasi sehingga santri tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Ia mencontohkan kebiasaannya semasa menempuh pendidikan di pondok pesantren yang membuatnya terbiasa beristirahat dalam berbagai kondisi, tanpa bergantung pada fasilitas yang nyaman.

“Kondisi tidak nyaman, dalam tanda kutip miskin atau sengsara kita sudah siap. Termasuk saya punya kebiasaan sekarang, di mana pun kalau ngantuk ya tidur. Tidak butuh tempat yang nyaman atau kasur. Mau di pinggir kamar, di surau, bahkan di bawah jemuran, saya tidur saja. Itu kebiasaan dulu di pondok yang membuat kita lebih nyaman dalam menghadapi realita kehidupan,” tuturnya kepada MUI Digital di Jakarta, Kamis (22/10/2026), dikutip Gebrak.id

Kiai Cholil menilai pengalaman hidup sederhana dapat menjadi bekal psikologis bagi santri untuk menghadapi perubahan keadaan. Ketika memperoleh keberhasilan, mereka diharapkan tidak bersikap sombong. Sebaliknya, ketika menghadapi kesulitan, mereka tidak mudah terkejut atau kehilangan arah.

“Ketika diberi kemampuan oleh Allah secara ekonomi, kita tidak sombong karena tahu dulu pernah mengalami kehidupan yang sengsara. Saat menghadapi kesulitan pun kita tidak kaget, karena sudah biasa dengan kesederhanaan itu. Pendidikan karakter itulah yang membuat kita selama hidup ini mempunyai arah yang jelas dan pedoman yang memadai,” jelas Kiai Cholil.

Pesantren Membentuk Karakter Santri
Pengalaman tersebut, menurut dia, memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada pengetahuan agama, tetapi juga pembentukan karakter, pengendalian diri, dan kesiapan menghadapi realitas kehidupan.

Namun, ia mengingatkan bahwa pesantren harus terus menjaga kualitas pendidikan dan pengasuhan di tengah perkembangan zaman. Menanggapi sorotan publik terhadap sejumlah kasus di lingkungan pesantren belakangan ini, Kiai Cholil mengimbau para pengelola untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri serta memperketat langkah pencegahan kekerasan dan perundungan (bullying).

Upaya tersebut dinilai penting agar pesantren tetap menjadi lingkungan pendidikan yang aman dan mampu menjalankan perannya dalam membentuk karakter generasi muda. Kepercayaan masyarakat, menurutnya, perlu dijaga melalui komitmen terhadap nilai-nilai keagamaan dan tanggung jawab dalam mendidik santri.

Pesantren Melahirkan Tokoh Nasional
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, itu juga mengingatkan besarnya kontribusi pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia. Lembaga pendidikan tersebut telah menjadi bagian dari proses lahirnya tokoh nasional dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. “Dari pesantren itu bisa lahir presiden, menteri, bahkan pejuang kemerdekaan. Resolusi Jihad adalah kerangka nilai yang dibangun oleh pesantren untuk membangun dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” kata dia.

Dalam refleksi Hari Santri Nasional 2026, Kiai Cholil menekankan pentingnya mempertahankan esensi pesantren sebagai pusat pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan. Penguatan ketangguhan mental perlu berjalan beriringan dengan pembenahan tata kelola pengasuhan, termasuk langkah nyata untuk mencegah kekerasan dan perundungan.

Dengan demikian, pesantren diharapkan tetap mampu melahirkan generasi yang berakhlak, tangguh menghadapi tantangan, serta memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa. (*)

(Zaky Al Hamzah)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID