Starbucks Siapkan Inovasi AI untuk Percepat Layanan Drive-Thru
Jaringan kedai kopi terbesar di dunia ini mencatat pertumbuhan penjualan di gerai yang sama (same-store sales) secara global sebesar 7,2% pada kuartal keempat, melampaui ekspektasi para analis yang memprediksi kenaikan sebesar 5,4%. (Foto: Getty Images/NurPhoto/nypost)
GEBRAK.ID, BENGALURU – Raksasa jaringan kedai kopi global, Starbucks , mulai menjajaki pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan pelanggan, khususnya melalui fasilitas layanan tanpa turun dari kendaraan (drive-thru). Inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi modernisasi perusahaan di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol untuk mempercepat pelayanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong pertumbuhan bisnis.
Dalam laporan kinerja kuartal IV tahun fiskal 2026 yang disampaikan pada Kamis (29/10/2026), Niccol mengungkapkan bahwa perusahaan akan memprioritaskan pengembangan teknologi dan modernisasi operasional pada tahun fiskal mendatang.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan adalah sistem AI yang membantu barista menerima dan memasukkan pesanan pelanggan melalui layanan drive-thru secara lebih akurat dan efisien. Starbucks juga sedang mengeksplorasi teknologi yang mampu mengenali pelanggan peserta program ketika tiba di gerai, menampilkan menu digital yang dipersonalisasi, serta menyederhanakan proses pembayaran.
Penguatan Strategi ‘Back to Starbuck’
Niccol menjelaskan bahwa strategi perusahaan yang dikenal dengan nama ‘Back to Starbucks’ kini tidak lagi sekadar berorientasi pada pemulihan bisnis, tetapi telah berkembang menjadi strategi pertumbuhan jangka panjang.
Selama dua tahun terakhir, Starbucks melakukan sejumlah pembenahan, mulai dari penyederhanaan menu, peningkatan jumlah dan kualitas tenaga kerja, hingga pengurangan waktu tunggu pelanggan.
Baca Juga
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Starbucks memperkirakan laba per saham yang disesuaikan (adjusted earnings per share) untuk tahun fiskal 2027 berada pada kisaran US$3,15 hingga US$3,25. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi analis sebesar US$3,14 per saham berdasarkan data LSEG.

Kinerja kuartal IV juga mencatatkan pertumbuhan penjualan gerai sejenis secara global (global same-store sales) sebesar 7,2%. Angka tersebut melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,4%. Sementara itu, laba per saham yang disesuaikan tercatat sebesar US$0,80, lebih tinggi dibandingkan proyeksi analis sebesar US$0,72.
Selain memperkuat operasional, perusahaan berencana mengalokasikan sekitar US$1 miliar untuk pembelian kembali saham (share buyback). Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek pertumbuhan perusahaan setelah menjalankan program transformasi bisnis.
Efisiensi Operasional dan Tantangan Profitabilitas
Di balik perbaikan kinerja penjualan, Starbucks masih menghadapi tantangan dalam memulihkan tingkat profitabilitas. Perusahaan menjalankan restrukturisasi, termasuk pengurangan tenaga kerja dan penutupan sejumlah gerai, untuk menekan biaya operasional serta mengimbangi investasi tenaga kerja yang nilainya mendekati US$500 juta selama program transformasi.
Tantangan lainnya datang dari perubahan strategi bisnis di pasar China. Starbucks telah menyelesaikan transaksi penjualan kendali operasional bisnisnya di negara tersebut kepada Boyu Capital dengan valuasi sekitar US$4 miliar. Langkah tersebut ditujukan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan bisnis di China. Namun, peralihan model operasional tersebut turut memengaruhi proyeksi pendapatan tahunan perusahaan.
Starbucks memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2027 mengalami penurunan sekitar 1%. Proyeksi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan pendapatan sebesar 1,4%. Dampaknya, saham Starbucks tercatat turun sekitar 2% dalam perdagangan setelah penutupan bursa (extended trading).
Konsumen Muda Starbucks Beralih ke Kompetitor
Analis Consumer Edge, Michael Gunther, menilai pertumbuhan penjualan Starbucks merupakan perkembangan positif. Menurutnya, perusahaan memperoleh manfaat dari meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk yang menawarkan pengalaman konsumsi terjangkau.
Meski demikian, Gunther mengingatkan bahwa Starbucks menghadapi persaingan dalam mempertahankan konsumen berusia muda. Sebagian pelanggan dari kelompok tersebut mulai beralih ke jaringan kedai kopi pesaing, seperti 7 Brew.
Dengan demikian, pemanfaatan AI dan modernisasi layanan drive-thru menjadi salah satu langkah strategis Starbucks untuk meningkatkan daya saing. Keberhasilan transformasi tersebut akan bergantung pada kemampuan perusahaan mengintegrasikan teknologi, efisiensi operasional, dan pengalaman pelanggan tanpa mengabaikan pemulihan profitabilitas. (*)
(Zaky Al Hamzah/reuters/nypost)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID