Tidak Ada Oper Dosa

buyung-ceramah

Muhammad Rubiul Yatim. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Muhammad Rubiul Yatim *)

Betapa seringnya kita mengandalkan orang lain dalam menghadapi berbagai hal di kehidupan ini. Meminta bantuan dan pertolongan serta bekerja sama untuk dapat turut menanggung atau menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Pasangan hidup, anak keturunan, kerabat, sahabat, teman sejawat, tetangga, rekan bisnis dan orang di sekeliling kita umumnya siap mengulurkan tangannya menyelesaikan masalah yang ada. Terlebih kalau kita memiliki karakter yang ramah, ringan tangan dan suka berbagi kepada orang lain maka hampir semua pihak akan siap turun memberikan perhatian dan bantuannya.

Bahkan tidak jarang seseorang siap membantu kita dengan berbagai macam cara meskipun itu melanggar hukum agama dan negara serta berisiko bagi kehidupannya. Alasannya bisa karena ikatan persaudaraan, kekerabatan, persahabatan, pertemanan, kolegial, maupun transaksional perdagangan.

Terasa seolah-olah seluruh dunia siap mendukung dan berkorban untuk diri kita. Memasang badan di garda terdepan untuk melindungi dan menanggung berbagai risiko yang mungkin timbul dari hulu sampai hilir.

Namun tahukah kita bahwa ternyata di akhirat kelak semua yang kita lakukan dan kerjakan di dunia ini akan ditanggung sendiri akibatnya. Masing-masing kita akan dihisab dan diadili secara individu tanpa melibatkan orang lain. Padahal, dalam kenyataannya, pekerjaan atau aktifitas tersebut memang dilakukan secara bersama-sama atau kolektif dan dengan bantuan oleh orang lain.

Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۗ إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ۚ وَمَنْ تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Artinya: “Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).” (QS Fatir [35]: 18)

Melalui ayat ini dapat dipahami bahwa tidak ada dosa berjamaah ketika kelak disidang dan dihisab di padang mahsyar. Setiap kita akan mempertanggungjawabkan sendiri-sendiri secara penuh atas semua pilihan dan langkah hidup yang telah diambil di dunia. Aktivitas pribadi seseorang yang dilakukan secara bersama-sama atau kolektif tidak akan membuat keputusan pribadinya menjadi bebas dan lepas dari hisab.

Tidak ada dalam ajaran Islam untuk terjadinya oper dosa atau menanggung dosa orang lain. Semua bertanggung jawab secara individu atas amal perbuatannya tanpa bisa menyalahkan orang lain apalagi mentransfer kesalahan dan perbuatan dosa maksiatnya itu. Namun tentunya siapa pun yang mengajak, membantu, memfasilitasi, atau menyesatkan orang lain dalam keburukan juga harus mempertanggungjawabkan perannya sendiri.

Kedekatan biologis, kedekatan darah, kedekatan jodoh, kedekatan pertemanan, kedekatan sosial, kedekatan bisnis, kedekatan politik, kedekatan agama, dan berbagai kedekatan lainnya tidak akan pernah dapat menjadi pintu terjadinya oper dosa. Setiap orang akan memperoleh balasan atas amal perbuatannya sesuai dengan keadilan Allah SWT.

Pertanggungjawaban atas pilihan dan keputusan yang telah diambil tersebut tidak dapat begitu saja dialihkan kepada pihak lain.

Memilih jalan hidup bersih dan suci dalam kehidupan ini akan memberikan kemanfaatan dan keselamatan bagi pelakunya sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang memilih jalan yang menyimpang dari kebenaran, ia bukan hanya mempertaruhkan keselamatan dirinya, tetapi juga berpotensi melukai orang-orang yang mencintainya dan mereka yang terdampak oleh keputusannya.

Di akhirat kelak, setiap orang akan mempertanggungjawabkan amal dan perannya masing-masing di hadapan Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat begitu saja mengalihkan tanggung jawab atas perbuatannya kepada orang lain.

Sementara itu, di dunia, akibat suatu perbuatan dapat meluas dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Siapa yang menanam maka dia yang akan memetik. Siapa yang menabur angin maka dia yang akan menuai badai.

Kelak di padang mahsyar, ketika berdiri di hadapan Allah SWT, manusia akan menyadari betapa berharganya setiap kesempatan untuk berbuat baik yang pernah dimilikinya. Penyesalan atas pilihan yang keliru dan amal yang tidak dapat dibanggakan tentu bukan sesuatu yang ingin kita bawa ke hadapan-Nya.

Semoga kita semakin mawas diri atas apa yang kita perbuat.

Jakarta, 26 Oktober 2026

*) Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pancasila, Anggota Korps Mubaligh Khairu Ummah, dan Ketua Yayasan Ikut Baik Indonesia.

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID