Kementan Percepat Perlindungan Peternak Ayam Petelur, Harga Pakan Ditahan dan Serapan Telur Digenjot

Lima Langkah Strategis Diresmikan, Peternak Kendal Batalkan Aksi Damai

IMG-20260810-WA0012

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat merespons keluhan peternak ayam petelur rakyat yang tertekan oleh harga telur rendah dan biaya produksi tinggi. Sejumlah solusi konkret langsung diimplementasikan, mulai dari penundaan kenaikan harga pakan hingga percepatan penyerapan telur melalui program makan bergizi gratis.


Pemerintah Dengar Aspirasi Peternak, Langkah Nyata Segera Dirasakan

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan peternak melalui aksi damai di sejumlah daerah pada Senin (10/8/2026) menjadi perhatian serius pemerintah.

“Aspirasi peternak kami dengar. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya keputusan di pusat, tetapi bagaimana langkah yang disepakati benar-benar dirasakan peternak di lapangan. Jika masih ada yang kesulitan, berarti masih ada yang harus kami selesaikan bersama,” ujar Agung di Kantor Kementan Jakarta, Senin (10/8/2026).

Agung menyampaikan, Menteri Pertanian merangkap Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, telah menginstruksikan jajarannya untuk bergerak cepat dan memastikan peternak rakyat tidak menghadapi persoalan sendirian.

“Peternak rakyat harus dilindungi. Kami bekerja dari dua sisi: beban produksi ditekan lewat pakan dan jagung, sementara dari sisi hilir kami perkuat penyerapan telur. Keduanya berjalan bersamaan,” jelas Agung.


Lima Langkah Strategis Diresmikan

Hasil Rapat Koordinasi lintas-lembaga pada 3 Agustus 2026 yang melibatkan Kementan, Bapanas, Satgas Pangan Polri, Perum Bulog, koperasi peternak, industri pakan, dan pelaku usaha perunggasan menghasilkan lima kesepakatan penting:

  1. Penahanan Kenaikan Harga Pakan

Industri pakan menyepakati penundaan kenaikan harga pakan dan konsentrat hingga harga telur di tingkat peternak membaik. Langkah ini memberi ruang napas bagi peternak di tengah tekanan biaya produksi.

  1. Percepatan Distribusi Jagung SPHP

Pemerintah mengakselerasi penyaluran jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke sentra-sentra peternakan untuk menekan biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam produksi telur.

  1. Penguatan Serapan Telur MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dioptimalkan dengan mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membeli telur dari peternak lokal. Pembelian mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

“SPPG menyerap, peternak mendapatkan pasar, dan kebutuhan protein hewani masyarakat terpenuhi. Ini yang harus kita kawal bersama,” tegas Agung.

  1. Skema Cadangan Pangan Pemerintah

Pemerintah mendorong penyerapan telur melalui Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagai instrumen tambahan stabilisasi harga.

  1. Pengawasan Tata Niaga

Kementan bersama Satgas Pangan Polri memperketat pengawasan tata niaga, termasuk praktik jual-beli telur di bawah harga acuan dan perdagangan tidak wajar yang merugikan peternak.


Respons Positif dari Peternak

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Kabupaten Kendal, Suwardi, menyambut baik langkah-langkah yang telah disepakati. Sebagai bentuk respons, KPUS Kendal membatalkan rencana aksi unjuk rasa yang dijadwalkan pada 10 Agustus 2026.

“Mulai hari itu disepakati tidak ada kenaikan harga pakan maupun konsentrat. Kami merasakan pemerintah benar-benar hadir. Langkah cepat Pak Menteri memberikan harapan agar harga telur segera membaik dan usaha peternak rakyat bisa terus berjalan,” ungkap Suwardi.


Penguatan Konektivitas Peternak dengan Program MBG

Kementan berkomitmen terus mengawal konektivitas peternak lokal dengan SPPG Program MBG, memantau perkembangan harga telur dan ayam di tingkat peternak, serta menindaklanjuti persoalan harga pakan, distribusi jagung SPHP, dan tata niaga bersama instansi terkait.

“Bapak Menteri Pertanian selalu mengingatkan: jangan hanya selesai di meja rapat. Cek ke lapangan, dengarkan peternaknya, dan pastikan solusinya berjalan,” pungkas Agung.

( Sumber: kementan)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *