Kanal Pinglu Rampung, Jalur Air Baru China- Asean Siap Beroperasi
Uji coba pelayaran penuh perdana sukses, kanal sepanjang 134,2 km ini diproyeksikan memangkas jarak tempuh hingga 560 km dan menghemat biaya logistik Rp 34 triliun per tahun.
Editor: Devona R
GEBRAK. ID, BEIJING- China memasuki tahap akhir persiapan pengoperasian proyek Kanal Pinglu sepanjang 134,2 kilometer yang menghubungkan wilayah pedalaman negara itu dengan Asia Tenggara. Setelah tahap utama pembangunan tekniknya rampung pada Juli 2026, otoritas setempat sukses melakukan uji coba pelayaran penuh untuk pertama kalinya pada Jumat-Sabtu (7-8/8/2026).
Uji coba yang dilakukan oleh Administrasi Keselamatan Maritim Guangxi ini mengirimkan kapal patroli ‘Haixun 1003’ menyusuri Kanal Pinglu dari Teluk Tonkin hingga titik paling utara kanal di Sungai Pingtang. Kapal patroli sepanjang 46,1 meter dengan kecepatan maksimum 25,3 knot ini dilengkapi dengan sistem pelacakan optik canggih untuk mengumpulkan data navigasi penting
Selama uji coba, petugas memeriksa secara ketat berbagai kondisi navigasi dan keselamatan pelayaran, termasuk lebar jalur kanal, tikungan sempit, jarak bebas di bawah jembatan, hingga titik pertemuan kanal dengan sungai. Hasil dari uji coba ini akan menjadi dasar bagi penyempurnaan aturan navigasi dan rencana darurat sebelum kanal resmi beroperasi.
Mengubah Peta Logistik Regional
Proyek raksasa dengan nilai investasi sekitar 72,7 miliar yuan atau sekitar Rp 191 triliun ini dirancang untuk dapat dilalui oleh kapal berkapasitas hingga 5.000 ton. Kanal Pinglu, yang merupakan proyek kanal sungai-laut besar pertama China sejak 1949, diproyeksikan akan mengubah secara fundamental peta logistik di kawasan.
Kehadiran kanal ini diharapkan memberikan akses yang lebih cepat dan efisien bagi sejumlah wilayah di China bagian selatan dan barat daya menuju Asia Tenggara serta jalur pelayaran global. Selama ini, Guangxi dan wilayah pedalaman China barat daya harus memutar jalur melalui Pelabuhan Guangzhou, memakan jarak tempuh lebih jauh.
Dengan beroperasinya Kanal Pinglu, jarak tempuh transportasi darat dan sungai diperkirakan akan dipangkas hingga sekitar 560 kilometer. Pemangkasan jarak ini berpotensi menghemat biaya logistik hingga lebih dari 5,2 miliar yuan (sekitar Rp 11,2 triliun) per tahun, atau bahkan mencapai 5 miliar yuan dengan efisiensi biaya total antara 18 hingga 30 persen.
Dampak Ekonomi dan Peluang bagi ASEAN
Kanal Pinglu merupakan proyek tulang punggung Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru (New International Land-Sea Trade Corridor), sebuah inisiatif strategis untuk memperkuat konektivitas antara wilayah barat China dengan Asia Tenggara dan pasar global.
Analis rantai pasok perdagangan, Liu Kaiming, menyebutkan bahwa kanal ini berpotensi membantu produsen memindahkan berbagai komoditas antara China barat daya dan Vietnam dengan biaya logistik yang lebih rendah. Komoditas seperti tekstil, kayu, plastik, elektronik, dan baja diperkirakan akan menjadi muatan utama.
Duta Besar ASEAN untuk China menyambut positif proyek ini. Duta Besar Vietnam untuk China, Pham Thanh Binh, menyatakan proyek ini menunjukkan kapabilitas teknologi China dan tekadnya untuk memajukan konektivitas regional. Konsul Jenderal Singapura di Guangzhou, Cindy Wee, juga mengharapkan kanal ini dapat semakin mempromosikan perdagangan antara China dan Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, kehadiran Kanal Pinglu juga membuka peluang baru. Dengan efisiensi jalur logistik ini, arus barang antara China barat dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, diperkirakan akan meningkat secara signifikan.
Perdagangan China-ASEAN sendiri telah mencapai 1,05 triliun dolar AS pada tahun 2025, untuk pertama kalinya menembus angka satu triliun dolar AS. Kanal Pinglu diharapkan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan perdagangan dan integrasi ekonomi regional yang semakin erat, sejalan dengan implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP).
Selain menyelesaikan pembangunan fisik, China juga mempersiapkan infrastruktur digital untuk mendukung pengoperasian Kanal Pinglu. Peta navigasi elektronik untuk jalur air tersebut telah tersedia di platform transportasi air digital Guangxi, mengintegrasikan data jalur air secara real-time, peringatan risiko, serta informasi pengaturan pepelayar. Rencananya, kanal ini akan mulai beroperasi secara komersial pada September mendatang, bertepatan dengan gelaran China-ASEAN Expo di Nanning.
( berbagai sumber)
