Confederacy of Independent Systems di Prequel Star Wars Seharusnya Menang Perang Clone
Selama bertahun-tahun, penggemar Star Wars terbiasa melihat Clone Wars sebagai konflik sederhana antara dua kubu.
Confederacy of Independent Systems di Prequel Star Wars Seharusnya Menang Perang Clone. (Foto: Culture State).
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID — Selama bertahun-tahun, penggemar Star Wars terbiasa melihat Clone Wars sebagai konflik sederhana antara dua kubu. Di satu sisi ada Galactic Republic, rumah bagi Jedi, clone troopers, dan tokoh-tokoh seperti Obi-Wan Kenobi serta Anakin Skywalker.
Di sisi lain ada Confederacy of Independent Systems, atau CIS, yang lebih sering disebut sebagai Separatists, dengan Count Dooku, General Grievous, battle droid, dan para pemimpin korporasi sebagai wajah utama mereka. Dalam gambaran sederhana tersebut, Republic adalah pihak yang baik, sementara Separatists adalah pihak yang jahat.
Namun, semakin dalam kita melihat cerita era prequel, semakin jelas bahwa gambaran tersebut tidak sepenuhnya benar.
Confederacy of Independent Systems sebenarnya lahir dari sebuah masalah politik yang nyata. Galactic Republic yang telah berdiri selama ribuan tahun sedang mengalami krisis.
Korupsi merajalela, birokrasi semakin lambat, kepentingan korporasi memiliki pengaruh besar di Senate, dan banyak sistem merasa bahwa pemerintah pusat tidak lagi benar-benar mewakili kepentingan mereka.
Bagi dunia-dunia tersebut, meninggalkan Republic bukanlah tindakan untuk menghancurkan galaksi. Mereka hanya menginginkan hak untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Di sinilah pertanyaan yang menarik muncul. Apakah sebuah planet atau sistem yang ingin memisahkan diri dari sebuah pemerintahan otomatis menjadi pihak yang jahat?
Tentu saja tidak.
Masalahnya bukan pada gagasan kemerdekaan itu sendiri, melainkan pada siapa yang akhirnya mengambil alih gerakan tersebut.
Confederacy of Independent Systems sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi gerakan politik yang sah. Ribuan sistem bergabung karena mereka merasa Republic sudah terlalu korup dan terlalu terpusat. Mereka menginginkan pemerintahan yang lebih memberikan otonomi kepada masing-masing sistem. Dalam kondisi normal, konflik semacam itu mungkin bisa diselesaikan melalui diplomasi, referendum, reformasi, atau perjanjian politik.
Namun, Galactic Republic tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara normal. Karena di balik konflik itu berdiri Darth Sidious.
Palpatine memahami sesuatu yang tidak diketahui oleh hampir seluruh galaksi. Ia mengetahui bahwa konflik antara Republic dan Separatists dapat digunakan untuk menghancurkan kedua pihak sekaligus. Sebagai Palpatine, ia menjadi pemimpin Republic. Sebagai Darth Sidious, ia mengendalikan Count Dooku dan memanfaatkan gerakan Separatis.
Dengan kata lain, orang yang memimpin Republic dan orang yang mengendalikan Separatists sebenarnya adalah orang yang sama.
Itulah inti dari tragedi Clone Wars.
Republic mengira mereka sedang mempertahankan galaksi dari pemberontakan Separatis. Banyak warga CIS mengira mereka sedang memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintahan yang korup. Jedi mengira mereka sedang membantu menjaga perdamaian. Para clone troopers mengira mereka sedang mempertahankan Republic.
Sementara itu, Palpatine hanya melihat semuanya sebagai bagian dari satu rencana besar.
Ia tidak membutuhkan Republic untuk benar-benar menang.
Ia juga tidak membutuhkan CIS untuk benar-benar menang.
Ia membutuhkan perang terus berlangsung.
Semakin lama perang berlangsung, semakin besar ketakutan masyarakat terhadap Separatists. Semakin besar ketakutan itu, semakin banyak kekuasaan yang dapat diberikan kepada Chancellor. Republic yang awalnya memiliki militer yang relatif terbatas akhirnya memiliki Grand Army of the Republic. Jedi yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian berubah menjadi jenderal perang. Senate memberikan semakin banyak kekuasaan kepada Palpatine karena keadaan darurat.
Semua itu justru merupakan tujuan Sidious.
Maka sebenarnya, kemenangan terbesar Darth Sidious bukanlah ketika ia mengalahkan Jedi.
Kemenangan terbesarnya terjadi ketika seluruh galaksi menerima bahwa mereka membutuhkan seorang penguasa absolut.
Dan di sinilah kita dapat membayangkan sebuah sejarah alternatif yang sangat berbeda.
Bagaimana jika CIS tidak dibajak oleh Sith?
Bagaimana jika Count Dooku benar-benar memperjuangkan kemerdekaan Separatists dan tidak bekerja sebagai Darth Tyranus untuk Palpatine?
Dalam keadaan tersebut, tujuan CIS mungkin menjadi jauh lebih sederhana. Mereka tidak harus menghancurkan Republic. Mereka tidak harus menaklukkan seluruh galaksi. Mereka hanya perlu membuat Republic mengakui bahwa sistem-sistem yang bergabung dengan Confederacy berhak menentukan masa depan mereka sendiri.
Perang Clone Wars kemudian dapat berubah dari perang yang sengaja dipanjangkan menjadi perang kemerdekaan yang memiliki tujuan politik yang jelas.
Dan justru dalam kondisi seperti itu, CIS mungkin memiliki peluang yang sangat besar untuk menang.
Salah satu alasan utamanya adalah kemampuan industri mereka. Republic memiliki clone troopers yang jauh lebih terlatih dan efektif dibandingkan battle droid biasa, tetapi clone troopers sangat mahal dan membutuhkan waktu untuk diproduksi.
CIS, di sisi lain, memiliki jaringan industri yang mampu memproduksi battle droid dalam jumlah luar biasa besar. Mereka memiliki armada, kendaraan berat, droideka, droid komando, kapal perang, serta dukungan dari berbagai perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi masif.
Selama perang berlangsung, Republic harus terus mempertahankan planet demi planet. CIS tidak selalu perlu melakukan hal yang sama. Mereka hanya perlu terus memberikan tekanan sampai Republic kehabisan sumber daya politik dan ekonomi untuk mempertahankan perang.
Dalam keadaan seperti itu, kemenangan CIS tidak harus berarti pasukan Separatis menduduki Coruscant dan menghancurkan Republic. Kemenangan bisa berarti sesuatu yang jauh lebih sederhana: Republic menyerah dan mengakui kemerdekaan Confederacy.
Dan jika hal itu terjadi sebelum Palpatine memperoleh kekuasaan absolut, rencana Darth Sidious bisa runtuh.
Tidak akan ada alasan yang sama kuatnya untuk mempertahankan keadaan darurat. Tidak akan ada perang berkepanjangan yang dapat digunakan untuk memberikan kekuasaan tanpa batas kepada Chancellor. Tidak akan ada alasan yang sama untuk mengubah Republic menjadi Galactic Empire.
Bahkan Jedi mungkin tetap bertahan.
Namun, untuk memahami betapa realistisnya kemungkinan CIS memenangkan perang, kita perlu melihat seorang tokoh yang muncul bertahun-tahun kemudian dalam Star Wars Rebels: General Kalani.
Kalani adalah seorang super tactical droid dan mantan jenderal CIS yang berhasil bertahan setelah Clone Wars berakhir. Berbeda dari kebanyakan tokoh yang membicarakan Clone Wars setelah perang selesai, Kalani benar-benar menghabiskan masa perang sebagai seorang komandan Separatis. Ia memahami strategi, jumlah pasukan, kekuatan militer, dan kelemahan Republic dari pengalaman langsung.
Dalam Rebels, Kalani bahkan masih percaya bahwa perang belum benar-benar menghasilkan pemenang yang jelas. Ia menyimpan pasukannya di Agamar dan kemudian berhadapan dengan Rex, Kanan, Ezra, dan Zeb. Konflik antara Kalani dan Rex menjadi menarik karena keduanya berasal dari dua sisi perang yang selama bertahun-tahun berusaha saling menghancurkan.
Rex adalah clone trooper Republic.
Kalani adalah jenderal Separatist.
Bagi mereka, satu sama lain seharusnya merupakan musuh.
Namun, bertahun-tahun setelah Clone Wars, mereka akhirnya menyadari bahwa perang yang mereka perjuangkan telah menghasilkan sesuatu yang tidak pernah mereka inginkan.
Republic sudah tidak ada.
CIS juga sudah tidak ada.
Jedi hampir musnah.
Clone troopers telah digantikan oleh Stormtroopers.
Dan seluruh galaksi kini berada di bawah Galactic Empire.
Kalani kemudian memberikan perspektif yang sangat menarik mengenai hasil Clone Wars. Menurut perhitungannya, pada tahap akhir perang, Separatists masih memiliki peluang yang sangat besar untuk menang. Ia bahkan menyebut angka sekitar 23,6 persen sebagai kemungkinan kekalahan CIS. Angka tersebut tentu saja berasal dari perhitungan Kalani dan bukan sebuah hukum pasti mengenai siapa yang akan memenangkan perang, tetapi secara naratif angka tersebut sangat penting.
Sebab, selama ini kita sering melihat Clone Wars dari sudut pandang Republic.
Kita melihat kemenangan Obi-Wan.
Kita melihat kemenangan Anakin.
Kita melihat battle droid yang terus dihancurkan.
Kita melihat Republic semakin kuat.
Tetapi Kalani memberikan sudut pandang dari pihak lain.
Dari perspektif seorang komandan Separatist, CIS sebenarnya belum tentu berada di ambang kekalahan.
Dan kemudian perang tiba-tiba berakhir.
Bukan karena Republic berhasil menaklukkan seluruh CIS.
Bukan karena seluruh pasukan Separatist dihancurkan.
Bukan karena General Grievous berhasil dikalahkan di semua front.
Perang berakhir karena Palpatine memerintahkan Order 66, Jedi dihancurkan, dan kemudian pasukan droid Separatist diperintahkan untuk berhenti beroperasi setelah para pemimpin CIS dibunuh.
Itulah bagian yang paling ironis.
Kalani ternyata tidak sepenuhnya salah ketika ia mencurigai bahwa berakhirnya perang secara tiba-tiba merupakan sesuatu yang mencurigakan.
Perang yang selama bertahun-tahun terlihat seperti konflik antara dua negara sebenarnya dihentikan oleh orang yang sejak awal mengendalikan kedua pihak.
Dan ketika perang berakhir, tidak ada Republic yang benar-benar menang.
Tidak ada CIS yang benar-benar menang.
Yang menang adalah Darth Sidious.
Di sinilah kita perlu berhati-hati untuk tidak mengubah CIS menjadi pihak yang sepenuhnya baik. Confederacy tetap memiliki sisi gelap. Banyak pemimpin korporasi bergabung karena kepentingan ekonomi mereka sendiri. Trade Federation dan berbagai organisasi bisnis lainnya tidak bergabung dengan Separatists hanya karena mereka ingin menciptakan demokrasi sempurna. Beberapa pemimpin CIS juga melakukan tindakan yang brutal dan tidak dapat dibenarkan.
Jadi mengatakan bahwa CIS seharusnya menang bukan berarti mengatakan bahwa semua Separatists adalah pahlawan.
Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa alasan politik di balik gerakan Separatis memiliki legitimasi, sementara organisasi tersebut kemudian dimanipulasi oleh Sith.
Ada perbedaan besar antara kedua hal tersebut.
Jika CIS bebas dari Sidious, Confederacy mungkin saja berkembang menjadi sebuah negara yang benar-benar memberikan otonomi kepada sistem-sistem anggotanya. Republic masih bisa bertahan sebagai negara besar, sementara CIS menjadi konfederasi baru yang berdiri di luar Republic.
Bahkan kemungkinan terburuk bagi Republic justru bisa menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki dirinya.
Bayangkan jika ribuan sistem meninggalkan Republic dan kemudian pemerintah pusat dipaksa bertanya mengapa mereka semua ingin pergi.
Mengapa Senate begitu korup? Mengapa korporasi memiliki pengaruh sebesar itu? Mengapa sistem-sistem terpencil merasa tidak didengarkan? Mengapa sebuah negara yang mengaku sebagai demokrasi harus berperang melawan rakyatnya sendiri hanya karena mereka ingin merdeka?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut benar-benar dijawab, Republic mungkin akan melakukan reformasi besar-besaran.
Dengan demikian, kemenangan CIS tidak harus berarti kehancuran Republic.
Justru sebaliknya.
Kemenangan CIS mungkin memaksa Republic menjadi lebih baik.
Dan ini membawa kita pada salah satu ironi terbesar dalam sejarah Star Wars: mungkin cara terbaik untuk menyelamatkan Galactic Republic bukanlah mempertahankan semua wilayahnya, tetapi membiarkan sebagian wilayah pergi.
Jika sebuah sistem benar-benar ingin merdeka, mungkin lebih baik membiarkannya merdeka daripada memulai perang besar untuk memaksanya tetap menjadi bagian dari Republic.
Sayangnya, Sidious tidak menginginkan hasil seperti itu.
Ia membutuhkan konflik.
Ia membutuhkan musuh.
Ia membutuhkan rasa takut.
Dan ia membutuhkan kedua pihak untuk terus berperang sampai mereka kelelahan.
Karena begitu galaksi lelah, ia bisa menawarkan sesuatu yang tampak seperti solusi.
Ketika Palpatine berdiri di hadapan Senate dan mengumumkan bahwa Republic akan direorganisasi menjadi Galactic Empire, sebagian besar galaksi sudah terlalu lelah untuk melawan.
Masyarakat menginginkan keamanan.
Senate menginginkan stabilitas.
Militer sudah sangat besar.
Jedi telah dihancurkan.
Dan Separatists sudah dianggap sebagai ancaman selama bertahun-tahun.
Palpatine hanya perlu mengatakan bahwa semua itu dilakukan demi keamanan.
Maka Republic mati bukan ketika Sidious membunuh Mace Windu.
Republic sebenarnya mati sedikit demi sedikit sepanjang Clone Wars.
Dan CIS juga mati bersama dengannya.
Itulah mengapa kisah General Kalani di Rebels terasa begitu penting.
Kalani bukan hanya mantan musuh yang akhirnya membantu para pemberontak. Ia adalah simbol dari kenyataan bahwa kedua pihak dalam Clone Wars sebenarnya memiliki sesuatu yang sama: mereka sama-sama menjadi korban sebuah permainan politik yang jauh lebih besar daripada yang mereka pahami.
Ketika Kalani akhirnya bekerja sama dengan para pemberontak melawan Empire, situasi tersebut terasa seperti ironi sejarah.
Seorang mantan jenderal Separatist bekerja sama dengan orang-orang yang dahulu merupakan musuhnya.
Namun sekarang mereka memiliki musuh yang sama.
Empire.
Dan pada titik tersebut, Kalani memahami sesuatu yang mungkin seharusnya dipahami semua orang sejak awal: perang antara Republic dan CIS tidak pernah menghasilkan pemenang yang sebenarnya.
Republic kalah.
CIS kalah.
Jedi kalah.
Clone troopers kalah.
Yang menang adalah Palpatine.
Karena itu, jika kita kembali ke pertanyaan awal, apakah Confederacy of Independent Systems seharusnya memenangkan Clone Wars?
Dalam sebuah skenario alternatif di mana CIS tidak dikendalikan oleh Sith, jawabannya sangat mungkin adalah ya.
Bukan karena CIS lebih bermoral daripada Republic.
Bukan karena battle droid sebenarnya adalah pahlawan.
Bukan karena semua pemimpin Separatist memiliki niat baik.
Tetapi karena kemenangan CIS dapat menghentikan mekanisme yang diperlukan Palpatine untuk menciptakan Empire.
Jika perang berakhir dengan kemerdekaan Separatists, Palpatine kehilangan alasan untuk terus memperbesar kekuasaan. Jika clone army dibubarkan dan Jedi tetap hidup, jalan menuju Order 66 menjadi jauh lebih sulit. Jika Republic dipaksa melakukan reformasi, masyarakat mungkin tidak akan menerima sebuah pemerintahan diktator sebagai solusi.
Dengan kata lain, kemenangan CIS bisa menjadi kekalahan terbesar Darth Sidious.
Dan mungkin itulah versi sejarah Clone Wars yang paling menarik.
Bukan Republic yang menghancurkan CIS.
Bukan CIS yang menghancurkan Republic.
Tetapi kedua pihak akhirnya menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak harus saling menghancurkan.
Mereka hanya perlu berhenti membiarkan seseorang memanfaatkan perbedaan mereka.
Ironisnya, kesadaran tersebut baru muncul setelah semuanya terlambat.
Rex baru memahami bahwa perang telah dimanipulasi setelah Republic berubah menjadi Empire.
Kalani baru menyadari bahwa musuh sebenarnya bukan sekadar Republic setelah CIS sudah hancur.
Para Jedi baru memahami sepenuhnya ancaman Sith ketika Order 66 sudah dimulai.
Dan galaksi baru menyadari betapa berbahayanya Palpatine ketika Republic sudah tidak ada.
Itulah tragedi terbesar dari Clone Wars.
Perang tersebut sebenarnya tidak membutuhkan pemenang.
Yang dibutuhkan adalah penyelesaian politik.
Namun Darth Sidious memastikan bahwa penyelesaian itu tidak pernah terjadi.
Ia membuat Republic takut kepada Separatists.
Ia membuat Separatists membenci Republic.
Ia membuat Jedi terlibat dalam perang.
Ia membuat clone army menjadi kebutuhan.
Ia membuat kedua pihak terus bertempur.
Dan ketika kedua pihak sudah terlalu lemah untuk menghentikannya, ia mengambil alih semuanya.
Karena itu, mungkin kesalahan terbesar dalam Clone Wars bukanlah ketika Republic gagal menghancurkan CIS, atau ketika CIS gagal menaklukkan Republic.
Kesalahan terbesar adalah ketika kedua pihak tidak menyadari bahwa mereka sedang memainkan permainan milik orang lain.
Dalam sejarah alternatif di mana CIS benar-benar bebas dari Sith dan berhasil memenangkan perang, galaksi mungkin tidak menjadi sempurna. Masih akan ada korupsi, konflik ekonomi, persaingan politik, dan kemungkinan munculnya pemerintahan yang buruk.
Tetapi setidaknya ada satu hal yang mungkin tidak pernah terjadi.
Galactic Empire.
Tidak ada Order 66.
Tidak ada Darth Vader sebagai tangan kanan Kaisar.
Tidak ada Death Star.
Tidak ada puluhan tahun pemerintahan absolut Palpatine.
Dan mungkin yang paling penting, galaksi mendapatkan sesuatu yang hampir tidak pernah diberikan oleh sistem politik Star Wars kepada rakyatnya: kesempatan untuk memilih masa depan mereka sendiri.
Pada akhirnya, CIS tidak perlu menjadi pihak yang sepenuhnya baik agar pantas memenangkan perang.
Mereka hanya perlu menjadi pihak yang memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Dan jika General Kalani benar bahwa Separatists sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk memenangkan Clone Wars, maka ada sebuah ironi besar dalam sejarah galaksi.
CIS mungkin tidak kalah karena mereka lebih lemah.
Mereka mungkin kalah karena mereka tidak pernah diizinkan untuk benar-benar memenangkan perang.
Sebab sejak awal, perang tersebut bukan milik Republic.
Bukan milik Separatists.
Perang itu milik Darth Sidious.
Dan selama kedua pihak terus berperang, satu-satunya pihak yang benar-benar pasti menang adalah Sith.
