Guru SMK Dituntut tak Ketinggalan AI, Pemerintah Dorong Upskilling Kompetensi

Pemerintah mendorong guru SMK terus meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan AI dan kebutuhan dunia kerja.

Wamendikdasmen Atip Latipulhayat memberikan sambutan dalam Program Peningkatan Kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi Tahun 2026 Angkatan 4 yang resmi dibuka di SMK Negeri 1 Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).

Wamendikdasmen Atip Latipulhayat memberikan sambutan dalam kegiatan Program Peningkatan Kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi Tahun 2026 Angkatan 4 yang resmi dibuka di SMK Negeri 1 Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (10/8/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID, TASIKMALAYA — Pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi guru vokasi agar lulusan SMK mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja yang bergerak semakin cepat.

Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Program Peningkatan Kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi Tahun 2026 Angkatan 4 yang resmi dibuka di SMK Negeri 1 Tasikmalaya, Jawa Barat.

Program yang diselenggarakan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi-Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV-BMTI) itu menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat kualitas sumber daya manusia pendidikan vokasi agar semakin selaras dengan kebutuhan industri.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menilai peningkatan keahlian atau upskilling guru vokasi kini tidak lagi sekadar pilihan. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut guru SMK terus memperbarui kemampuan.

“Perkembangan teknologi jika tidak disikapi secara cermat oleh kita, khususnya guru-guru di SMK, maka nanti lulusan kita tidak siap untuk bekerja, karena teknologinya sudah melampaui, ini tantangannya,” kata Atip, Senin (10/8/2026).

Menurut Atip, perubahan teknologi bahkan dapat berlangsung dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu contoh perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.

Kondisi tersebut membuat guru harus mampu memahami perubahan agar materi dan keterampilan yang mereka ajarkan tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Para guru harus terus di-upskilling karena kita menyadari bahwa kecepatan teknologi sekarang tidak lagi dalam hitungan tahun. Mungkin ke depan dalam hitungan satu bulan sudah muncul teknologi baru, ini tantangan yang luar biasa,” jelas Atip.

Kepala BBPPMPV BMTI Baharudin mengatakan, program peningkatan kompetensi tersebut tidak hanya menyasar kemampuan teknis kejuruan. Pelatihan juga memperkuat aspek pedagogi, pola pikir, kepemimpinan, kewirausahaan, serta pemahaman terhadap iklim dan budaya dunia kerja.

“Harapannya, dari kegiatan ini nanti seluruh peserta memahami materi pelatihan, kemudian mengimplementasikan dan mampu mengimbaskan hasilnya kepada guru-guru dan murid,” jelas Baharudin.

Selain berlangsung di SMK Negeri 1 Tasikmalaya, kegiatan serupa juga berjalan secara serentak di sejumlah pusat belajar lainnya, yakni SMK 2 Yogyakarta, SMK 5 Surakarta, SMK 1 Karawang, dan SMK Lelea.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mendorong SMK tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.

Salah satu gagasan yang ia soroti yakni rekayasa pengolahan sampah plastik menjadi bahan baku furnitur sekolah. Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi contoh penerapan konsep 3R, yaitu reuse, reduce, dan recycle, sekaligus memperkuat citra SMK di tengah masyarakat.

“Tidak menutup kemungkinan BMTI juga melakukan rekayasa, misalnya pembuatan pelelehan terhadap sampah plastik untuk dijadikan balok-balok yang menjadi bahan baku untuk bangku sekolah, bangku kafe, ataupun bangku kepala sekolah seluruh Indonesia. Itu menjadi ide yang bagus,” ujar Ferdiansyah.

Ferdiansyah juga menyatakan Komisi X DPR RI siap mendukung program pendidikan vokasi melalui penganggaran. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pendidikan vokasi agar ikut menjawab berbagai persoalan nasional.

“Kita minta dari balai supaya ada terobosan-terobosan dan dampaknya. Sehingga nanti saat pembahasan anggaran tentu kami sebagai Komisi X yang punya hak budget, akan mendukung dalam rangka untuk menjawab masalah nasional di antaranya adalah darurat sampah,” tutup Ferdiansyah.

Program peningkatan kompetensi guru vokasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan. Pemerintah mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah sekaligus membagikannya kepada guru dan murid lain.

Dengan langkah tersebut, penguatan kompetensi guru SMK diharapkan dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi sehingga lulusan pendidikan vokasi memiliki keterampilan yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

(Sumber: Kemendikdasmen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *