Guru Ngaji di Sempu Banyuwangi Diduga Cabuli 5 Anak, Korban Disebut Alami Trauma
Guru ngaji di Sempu, Banyuwangi, diduga mencabuli lima anak. Sejumlah korban mengaku mengalami tindakan tersebut hingga dua tahun.
Seorang guru ngaji berinisial MP (40 tahun) di Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, diduga melakukan pencabulan terhadap lima anak di bawah umur yang belajar mengaji di rumahnya. (Foto ilustrasi AI)
Editor: Saeful Imam
GEBRAK.ID, BANYUWANGI — Seorang guru ngaji berinisial MP (40 tahun) di Kecamatan Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, diduga melakukan pencabulan terhadap lima anak di bawah umur yang belajar mengaji di rumahnya.
Dugaan tersebut mencuat setelah sejumlah anak mengaku mendapat perlakuan tidak senonoh saat mengikuti kegiatan mengaji. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, dugaan tindakan tersebut berlangsung dalam rentang waktu cukup lama, bahkan ada korban yang mengaku mengalaminya hingga satu sampai dua tahun.
MP sehari-hari bekerja sebagai petani sekaligus mengajar mengaji sekitar 30 anak di rumahnya. Para muridnya berasal dari lingkungan sekitar, baik anak laki-laki maupun perempuan.
Kasus itu mulai terungkap setelah orang tua salah satu anak menemukan aktivitas pencarian yang tidak biasa pada ponsel anaknya.
Salah satu anak berinisial H (11) kemudian mengaku kepada orang tuanya bahwa ia mengalami dugaan pencabulan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar ketika belajar mengaji di rumah MP.
“Iya, dipegang pegang ininya (dada) dan dicium-cium,” kata H kepada kedua orang tuanya, dikutip dari detik, Rabu (12/8/2026).
H kini sudah duduk di bangku SMP. Kecurigaan orang tua semakin kuat setelah seorang anak lain, S (9), juga mengaku mengalami perlakuan serupa sejak 2025.
Pengakuan S muncul setelah ibunya, R, menemukan riwayat pencarian di Google pada ponsel anak tersebut. S diketahui mencari informasi mengenai hukum bagi guru ngaji yang mengajar secara gratis tetapi melakukan tindakan pemerkosaan terhadap muridnya.
“Saya curiga awalnya dari perilaku anak ini, terus saya menemukan anak ini kok searching di Google tentang guru ngaji yang mengajar tidak dibayar tapi memperkosa apakah dosa,” ujar R kepada detikJatim, Rabu (12/8/2026).
Temuan tersebut membuat R panik. Ia mengaku bingung menentukan langkah yang tepat setelah mengetahui apa yang diduga dialami anaknya. Di sisi lain, suaminya sempat emosi dan hampir mendatangi terduga pelaku untuk melakukan tindakan sendiri.
R kemudian meminta bantuan perangkat desa untuk memediasi persoalan tersebut. Langkah itu ia ambil agar persoalan tidak berujung pada aksi main hakim sendiri.
Dalam proses tersebut, R mendapat pengakuan dari S bahwa dugaan pencabulan terjadi lebih dari sekali.
“Dia bilangnya itu lebih dari satu kali, sampai empat kali katanya. Saya khawatir sekali dengan kondisi psikologi anak saya, karena saat tes di RS Bhayangkara dia katanya mengalami gangguan berat,” jelas R.
R mengaku semakin khawatir terhadap kondisi psikologis anaknya setelah mengetahui dugaan perlakuan yang dialami S selama mengikuti kegiatan mengaji.
Berdasarkan penelusuran detikJatim, terdapat lima anak yang mengaku menjadi korban dugaan pencabulan MP. Para korban disebut mengalami dugaan perlakuan tersebut dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Dugaan tindakan itu berlangsung sekitar satu hingga dua tahun pada sejumlah korban. Kondisi tersebut juga membuka kemungkinan masih ada korban lain yang belum mengungkapkan pengalaman mereka.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut anak di bawah umur yang mengikuti kegiatan pendidikan agama di lingkungan tempat tinggalnya. Penanganan lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap fakta serta memastikan perlindungan terhadap para korban.
(Sumber: Detik)
