Wasit-Wasit Asing Diduga Terima ‘Suap Seksual’ di Korea Selatan, Skandal Lama Kembali Terbongkar

Skandal lama KFA kembali mencuat setelah laporan dugaan layanan seksual untuk wasit asing pada 2011-2012 terungkap.

Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta maaf setelah muncul laporan mengenai dugaan pemberian layanan seksual kepada sejumlah wasit asing yang memimpin pertandingan internasional pada 2011 dan 2012.

Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta maaf setelah muncul laporan mengenai dugaan pemberian layanan seksual kepada sejumlah wasit asing yang memimpin pertandingan internasional pada 2011 dan 2012. (Foto ilustrasi: Pixabay)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID — Dunia sepak bola Korea Selatan kembali diguncang skandal lama yang mencuat ke permukaan. Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) meminta maaf setelah muncul laporan mengenai dugaan pemberian layanan seksual kepada sejumlah wasit asing yang memimpin pertandingan internasional pada 2011 dan 2012.

Laporan tersebut pertama kali diungkap media Korea Selatan JTBC berdasarkan hasil investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan pada 2016. Investigasi itu menemukan adanya pemberian hiburan tidak pantas kepada perangkat pertandingan asing yang bertugas dalam sejumlah laga Timnas Korea Selatan.

Kasus tersebut kini mendapat sorotan luas karena masyarakat Korea Selatan menyebutnya sebagai “suap seksual”. Dugaan praktik itu berlangsung sekitar 15 tahun lalu dan melibatkan penggunaan fasilitas serta kartu kredit resmi KFA.

Menurut laporan JTBC, Selasa (11/8/2026), sedikitnya tujuh pertandingan masuk dalam rangkaian kasus tersebut. Pertandingan itu terdiri atas tiga laga kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade serta empat pertandingan persahabatan internasional.

Sepuluh wasit asing disebut masuk dalam penyelidikan. KFA diduga membiayai kunjungan ke tempat pijat dan lokasi hiburan dewasa di sejumlah wilayah Korea Selatan. Nilai pengeluaran bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga lebih dari satu juta won atau kira-kira Rp12,6 juta dalam setiap kunjungan.

Salah satu kasus terjadi setelah pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014 antara Korea Selatan dan Kuwait di Seoul pada 29 Februari 2012. Berdasarkan catatan pemerintah, kartu kredit resmi KFA digunakan untuk membayar 500.000 won atau sekitar Rp6,2 juta di sebuah tempat pijat di kawasan Gangnam.

Setelah mencocokkan kesaksian staf komite wasit, catatan transaksi kartu kredit, serta dokumen KFA, penyelidik menyimpulkan pengeluaran tersebut berkaitan dengan hiburan seksual untuk dua perangkat pertandingan. Pertandingan itu sendiri dipimpin wasit asal Jepang, Yuichi Nishimura.

Kasus lain tercatat pada 22 September 2011 seusai laga Korea Selatan melawan Oman dalam kualifikasi Olimpiade London 2012 di Changwon. Sekitar dua setengah jam setelah pertandingan berakhir, seorang pegawai KFA membayar 760.000 won di sebuah tempat pijat. Laga tersebut dipimpin wasit Uzbekistan, Ravshan Irmatov.

Pengeluaran serupa kembali muncul pada 14 Maret 2012 setelah pertandingan kualifikasi Olimpiade London antara Korea Selatan dan Qatar. Kartu kredit KFA tercatat digunakan untuk membayar 198.000 won di sebuah tempat pijat bergaya Tiongkok di kawasan Gangnam.

Media Korea Selatan Yonhap juga melaporkan keterangan sumber internal KFA yang menyebut federasi menyediakan layanan seksual bagi lebih dari 10 wasit internasional sepanjang 2011 hingga 2012. Seluruh dugaan kejadian tersebut berlangsung ketika Cho Chung-yun menjabat sebagai presiden KFA.

KFA kemudian menyampaikan permintaan maaf atas munculnya kembali kasus tersebut. Federasi menyebut kejadian itu berlangsung lebih dari satu dekade lalu dan dokumen internal hanya tersimpan selama lima tahun sehingga mereka tidak memiliki catatan lengkap untuk memastikan seluruh detailnya.

“Kami memohon maaf sedalam-dalamnya karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait berbagai persoalan yang melibatkan asosiasi,” demikian pernyataan KFA seperti dikutip TalkSport.

KFA juga menegaskan bahwa praktik serupa tidak terjadi saat ini. Federasi menyatakan sistem pengawasan internal telah berubah, termasuk aturan penggunaan kartu kredit perusahaan dan biaya hiburan yang kini mendapat kontrol lebih ketat.

Sementara itu, keterlibatan Yuichi Nishimura turut mendapat perhatian di Jepang. Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) disebut akan melakukan pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan wasit tersebut.

Kasus ini kembali menjadi sorotan setelah KFA menghadapi tekanan dalam sidang parlemen Korea Selatan serta penggeledahan kantor federasi. KFA menyatakan akan terus menindaklanjuti persoalan tersebut sesuai informasi dan bukti yang tersedia.

(Berbagai Sumber)