Utusan Trump Bela Infantino: Kritik ke Presiden FIFA Muncul karena Iri dengan Prestasinya

trump-infantino-2

Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: X/FIFA)

Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA — Kepala Satgas Gedung Putih untuk Piala Dunia 2026, Andrew Giuliani, memberikan dukungan terbuka kepada Presiden FIFA Gianni Infantino di tengah tekanan yang semakin kuat terhadap kepemimpinannya.

Giuliani menilai sejumlah pihak yang menginginkan Infantino meninggalkan kursi Presiden FIFA hanya merasa iri terhadap pencapaian pria asal Swiss tersebut selama memimpin badan sepak bola dunia.

Dukungan itu muncul ketika posisi Infantino menghadapi sorotan setelah FIFA membatalkan rencana FIFA Forward Enterprise atau FFE. Proposal tersebut sebelumnya mencakup penjualan hingga 20 persen saham perusahaan baru itu kepada investor eksternal untuk mengelola sejumlah aset komersial FIFA.

Rencana tersebut mendapat penolakan keras dari sejumlah konfederasi, termasuk UEFA, CONCACAF, dan AFC. Ketiganya kemudian melontarkan kritik terhadap cara FIFA menjalankan proses tersebut dan mempertanyakan kepemimpinan Infantino.

Infantino akhirnya membatalkan proyek FFE pada akhir Juli 2026 setelah mengakui bahwa rencana tersebut telah menimbulkan perpecahan dan tidak lagi sejalan dengan tujuan awal.

Situasi tersebut membuat tekanan terhadap Infantino meningkat menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Sejumlah asosiasi sepak bola bahkan mulai menarik atau mempertimbangkan kembali dukungan mereka terhadap pria berusia 56 tahun itu.

Di tengah gejolak tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut menunjukkan dukungan kepada Infantino. Giuliani yang menjadi salah satu tokoh penting dalam persiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, kini ikut menyuarakan pembelaan.

“Orang-orang iri ketika seseorang berprestasi tinggi dan apa yang telah dilakukan Gianni Infantino untuk FIFA adalah membawa mereka ke level yang sama sekali baru yang mungkin tidak mereka duga sebelumnya,” ujar Giuliani seperti dikutip ESPN, Sabtu (15/8/2026).

Giuliani juga mengingatkan bahwa Piala Dunia 2026 memiliki arti khusus bagi era kepemimpinan Infantino. Turnamen tersebut menjadi Piala Dunia pertama yang penyelenggaraannya berada sepenuhnya dalam visi Infantino sebagai Presiden FIFA.

“Anda harus ingat, ini adalah Piala Dunia pertama yang diselenggarakan Gianni Infantino sebagai presiden, bukan? Dia mewarisi Piala Dunia Rusia dan Qatar, dan melakukan pekerjaan yang baik dengan itu, tetapi ini yang pertama. Ini adalah visinya,” katanya.

Karena itu, Giuliani memberikan peringatan keras kepada para pemimpin konfederasi maupun federasi yang mempertimbangkan untuk tidak mendukung Infantino dalam pemilihan mendatang.

“Apa yang ingin saya katakan adalah, bagi presiden konfederasi sepak bola atau federasi sepak bola mana pun yang berpikir untuk tidak memilih Gianni Infantino, itu mungkin akan menjadi salah satu keputusan paling bodoh dalam karier profesional Anda,” ujarnya.

Pernyataan Giuliani muncul ketika kubu yang menentang Infantino justru semakin aktif. UEFA, CONCACAF, dan AFC sebelumnya menyampaikan kritik tajam terkait proposal FFE serta meminta adanya evaluasi terhadap tata kelola FIFA.

Proposal FFE sendiri sempat diproyeksikan bernilai sekitar 20 miliar dolar AS. FIFA menyebut skema tersebut bertujuan meningkatkan nilai komersial kompetisi sekaligus memperbesar dana pengembangan bagi 211 asosiasi anggota.

Namun, besarnya penolakan membuat Infantino memilih menghentikan rencana tersebut. Kontroversi itu kini menjadi salah satu ujian terbesar bagi kepemimpinannya menjelang agenda pemilihan Presiden FIFA pada 2027.

Di tengah tarik-menarik dukungan tersebut, Giuliani tetap percaya Infantino merupakan sosok yang tepat untuk melanjutkan kepemimpinannya. Dukungan dari lingkaran pemerintahan Amerika Serikat itu pun menambah warna dalam persaingan politik sepak bola dunia menjelang pemilihan FIFA berikutnya.

(Sumber: ESPN)